Beralas Daun Pisang, Anak Muda Belajar Menjadi Saksi

0
60
- Iklan Berita 1 -

SORONG, Monitorpapua.com – “Terimakasih Gereja Katolik Indonesia di Tanah Papua” karena telah membentuk kami menjadi Orang Katolik 100 persen dan Orang Indonesia 100 persen. Kami belajar menjadi Saksi Kristus. Kata-kata ini diungkapkan anak-anak muda Katolik Paroki Santo Yohanes Pembaptis yang telah menerima Sakramen Krisma dari Yang Mulia Uskup Keuskupan Manokwari Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega.

Kini, anak muda ini duduk dan merenungkan rahmat Roh Kudus, makan bersama beralaskan daun pisang, sembari mendapat nasihat, bimbingan dari Penyuluh Agama Katolik Non-PNS Laurentius Reresi, S.S., M.M.

Ketika mendampingi anak-anak muda Katolik ini, mereka mengucap syukur tak henti-hentinya karena pada setiap kesempatan, mereka dapat mengikuti Misa Kudus di Gereja maupun di Lingkungan Paroki.

Ketua Ikatan Wartawan Online Papua Barat, Laurentius Reresi melihat semangat melayani dan berkorban dari anak-anak muda ini patut dipublikasikan agar nilai-nilai positif dapat membantu remaja lain untuk bercermin dari remaja Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Sorong, Papua Barat yang sudah semakin nampak memasuki usia dewasa.

Sebagaimana dilakukan Ketua IWO Laurent Reresi, Dosen sekaligus Penyuluh Agama Katolik Non PNS di kampus UNBN yang terus mendampingi Mahasiswa dan anak-anak Remaja sahabat Penyuluh, ternyata kaum Remaja yang telah menerima Sakramen Krisma ini semakin aktif melayani Tuhan. Mereka terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

Bahkan mereka menjadi tim yang solid menyambut umat yang datang menghadiri Misa Kudus, ada yang menjadi Putera/i Altar, ada juga yang menjadi Lektor, koorsponsor Misa, Pemazmur, Dirigen serta kegiatan kemanusiaan lainnya.

Terbukti, Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Santo Yohanes Pembaptis, Laurent Reresi, pada setiap kesempatan mengajak mereka untuk bersyukur kepada Tuhan karena mendapat kesempatan melayani Tuhan. Bahkan Penyuluh memberikan contoh situasi umat di luar negeri, seperti Belanda, Amerika, Jerman banyak kaum muda Katolik mulai meninggalkan kewajiban saleh menghadiri Misa Kudus Mingguan. Maka Penyuluh menyadarkan anak-anak muda ini untuk tetap setia menjadi Saksi Kristus, menghadiri Misa Kudus, mengikuti Ibadah dan kegiatan Gereja.

“Tidak sedikit dari umat yang mengira anak-anak ini hanya berkumpul saja, tetapi mereka ini mendapat penyuluhan dari Penyuluh sekaligus Pembimbing dalam Paroki yang tanpa disadari orangtua.

Sebab, anak-anak Remaja ini ketika berkumpul bersama teman-temannya, kurang memanfaatkan waktu dengan baik, maka sebagai Pembimbing terus menggunakan waktu untuk memberikan motivasi bersama mereka, memberikan nasihat yang bermanfaat bagi kehidupan anak-anak muda Katolik Paroki Santo Yohanes Pembaptis,” terang Sekretaris DPP.

Apalagi beberapa tahun lalu situasi pandemi covid 19 membatasi kehidupan semua orang sehingga kehidupan menggereja pun
dibatasi ruang dan waktu.
Penyuluh mengajak anak-anak muda ini untuk beryukur kepada Allah karena menerima Sakramen Krisma dengan penuh sukacita.

Penyuluh juga mengajak kelompok binaan ini untuk mengikuti Misa kudus di Gereja, Lingkungan, Sekolah. Ikut serta menjadi misdinar melayani Tuhan. Sementara itu, seorang remaja bertanya bagaimana mencapai hasil dari buah-buah Roh.

Dari pertanyaan itu, Penyuluh memudahkan jawaban bahwa sebenarnya sudah sering mengikuti misdinar, Lektor, Pemazmur di bangku sekolah juga mengikuti pelatihan menjadi lektor di paroki adalah bentuk dari buah-buah roh. “Mari membaca Kitab Suci dan mendengar nasihat orangtua agar berhasil dalam meraih cita-cita,” ajak Laurent

Sebelum Doa Penutup, mengutip sekali lagi Bacaan Kitab Suci bagaimana para Murid dipenuhi dengan Roh Kudus “mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (ayat 4 – Kis 2:1-11) dan mulailah penyebaran Kabar Gembira sejak saat itu.

Dan hari ini terlihat di sini bagaimana wajah Gereja Katolik itu sesungguhnya, yakni Gereja yang mencakup berbagai suku bangsa dan bahasa. Penyuluh mengatakan Gereja Katolik memang mengatasi sekat-sekat buatan manusia: pria-wanita, kaya-miskin, tua-muda, profesor-mahasiwa, kaum cendikia-cendekiawan kalangan non terpelajar, dan beragam bangsa, budaya serta bahasa. Gereja Katolik Papua mencerminkan Gereja yang Satu-Kudus-Katolik-Apostolik

Terima kasih Gereja Katolik Papua yang telah menyumbangkan putera/i Gereja yang aktif dalam kehidupan menggereja untuk Paroki Santo Yohanes Pembaptis.
Semoga setelah mendapat Penyuluhan, anak-anak katolik ini terus memiliki semangat melayani Tuhan di manapun berada, bahkan di tengah kesibukan kuliah, mendapatkan pekerjaan dan meniti karir kelak,” tutup Penyuluh. (Ren/Siska Gurning)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.