DR Haris Juhari Mantan Ketum IJTI : Dewan Pers Tidak Memiliki Kewenangan Melakukan Verifikasi Terhadap Organisasi Dan Perusahaan Pers

0
133
DR Haris Juhari, Mantan Ketum IJTI sebagai pembicara di Rakernas IWO
- Iklan Berita 1 -

DEPOK, Monitorpapua.com –  Ikatan Wartawan Online (IWO) merupakan salah satu organisasi Wartawan Online yang cukup diperhitungkan saat ini di Indonesia. IWO yang baru saja melaksanakan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) pertama di Depok Jawa Barat, senin-selasa (11/12/3), ternyata telah membentuk 107 kepengurusan yang terdiri dari 34 Pengurus Wilayah (PW) dan 73 Pengurus Daerah (PD).

“Wartawan yang bernaung di bawah IWO saat ini sudah mencapai angka Ribuan di Seluruh Indonesia” Kata Jodhi Yudono, Ketua Umum IWO, yang juga Redaktur Senior Kompas.com, saat membuka acara Rakernas IWO, di Shekinah Village,  Depok, senin (11/3).

Jodhi menambahkan,”bahwa perjalanan IWO sebagai organisasi profesi wartawan yang telah terbentuk sejak tahun 2012 tidaklah mudah. IWO bahkan sempat “mati suri” selama lima tahun, namun sejak digelarnya Mubes Pertama 8-9 maret 2017, IWO kembali bangun dan digodok dengan berbagai dinamika yang ada, hingga tetap kokoh sampai saat ini” ujarnya.

Jodhi mengaku, selama setahun lebih, IWO memang mengalami guncangan sangat luar biasa, namun dirinya mengganggap bahwa itu adalah hal biasa dan sebuah dinamika dalam kehidupan organisasi.

“IWO akan tetap hidup sebagai wadah persahabatan kita semua, kehadiran kita di Rakernas ini bukti kesolidan dan kasih sayang untuk saling menguatkan di antara kita semua”.

Jodhi mengingatkan, bahwa saat ini adalah zaman digital, dan media online bukan hal yang sepele dimata dunia serta harus diperhitungkan keberadaannya.

“Kita harus ingatkan pada semua orang, bahwa wartawan online saat ini sudah bukan warga kelas tiga dalam dunia Pers. Melainkan warga kelas satu yang patut diperhitungkan keberadaannya di mata dunia,” tegas Jodhi.

Mubes IWO ditahun 2017 silam, yang tampak mewah dan berkelas, numun Rakernas pertama IWO tahun ini dikemas dengan sangat sederaha dan bersahaja.

“Ini memang sengaja di kemas seperti ini, sebab sesuai filosofi yang ditekankan oleh Ketum IWO bahwa IWO harus bisa berdiri di atas kaki sendiri” ujar Edward Panggabean, selaku Sekjen IWO, Wartawan Senior yang pernah mengabdi di media besar Liputan6.com

Menurut, Edward, IWO sebenarnya bisa saja mengemas Rakernas dalam bentuk yang mewah, sebab berbagai tawaran memang masuk dari berbagai pihak, namun hari ini kita membuktikan bahwa tanpa Sponsor, kita pun bisa menggelar Rakernas ini” ujarnya.

Rakernas IWO yang mengusung tema Masa Depan Wartawan di Era Industri 4.0” menghadirkan beberapa narasumber handal dan profesional untuk mengisi beberapa sesi acara dalam rakernas tersebut diantaranya yaitu:

  1. Rusti Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, yang juga berkantor di Malaysia.
  2. Edy Fajar, Enterpreuner muda dan Influencer, yang kreatif di dunia online
  3. August Parengkuan, Ketua Dewan Penasehat IWO yang juga mantan Wartawan senior di Kompas Group dan mantan Duta Besar Italia.
  4. Casmo Tatalitova, Wartawan Era Sukarno dan juga mantan Ketua Wartawan Istana Presiden RI tahun 1979 hingga tahun 2003.
  5. Haris Jauhari, Mantan Ketua Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI), yang juga salah satu tokoh sentral yang meloloskan IJTI menjadi konstituen Dewan Pers hingga saat ini.
  6. Ibnu Majah, Doktor muda, pakar dunia pers, yang juga sempat menjadi saksi ahli dalam perkara gugutan terhadap Dewan Pers beberapa waktu lalu.
  7. Lia, Wartawan yang menguasai 13 bahasa negara dunia dan pernah menjadi Wartawan internasional, Media Reuters, yang bermarkas di London Inggris.

Dalam diskusi Rakernas IWO Rusti Herlambang dalam penjelasannya bahwa Media online atau Wartawan online sebenarnya telah melewati tiga fase dalam perkembangannya. Menurutnya “Berdasarkan riset yang dilakukan lembaga kami, bahwa media online telah melalui beberapa fase, mulai dari fase era 2012-2015, fase era 2015-2017, dan fase 2017 – hingga saat ini” ungkap Rusti.

Rusti menambahkan pada era tahun 2012-2017 media online benar-benar dipercaya bisa merepresentasekan kondisi yang ada pada masyarakat.Isu yang diperankan oleh media online saat itu, maka menurut riset saat itu terbukti akan sesuai dengan fakta yang akan terjadi. Rusti mencontohkan, diera itu diantara beberapa tokoh nasional yang diisukan oleh media atau wartawan online mengisi kontestasi Pilpres, muncul nama Jokowi yang sangat dominan, dan terbukti, Jokowi memenangkan Pilpres. Namun menurut Rusti, memasuki era 2015-2017, media online cenderung subjektif.

.Sejak era ini media online sudah tidak mampu merepresentasekan kondisi di lapangan, sebab apa yang diisukan terkadang tidak mampu mengejawantahkan kondisi ril yang ada di lapangan, pada tahun 2017 hingga saat ini, yaitu era industri 4.0. Era dimana terjadi pergolakan sangat dahsyat antara media online dan media sosial. Disinilah timbul tantangan berat bagi Wartawan online, sebab ada kecenderugan orang lebih memilih media sosial, ketimbang media online, inilah PR besar IWO” ujar Rusti.

Sementara itu, Haris Jauhari, disesi diskusi lainnya, dalam penjelasannya lebih menekankan pada polemik implementasi UU PERS No 40 Tahun 1999, Produk peraturan-peraturan Dewan Pers yang dinilai rancu, dan korelasi idealisme wartawan dan industri.

“Substansi UU pokok Pers sebenarnya menjelaskan dua poin, yaitu tentang organisasi Wartawan, dan organisasi Perusahaan Pers” jelas Haris.

Sehingga, menurutnya, produk Dewan Pers tentang uji kompetensi wartawan (UKW) yang sering ramai diperbincangkan dinilai tidak tepat.

“Dewan Pers mestinya mendidik, dan mengayomi Wartawan sesuai amanah UU Pokok Pers. Inikan mendidik tidak pernah, melatih tidak pernah tiba-tiba menguji wartawan, kan rancu dan mubazir” katanya.

Selain itu, Haris juga menekankan bahwa Dewan Pers Sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan verifikasi terhadap organisasi dan perusahaan pers.

“Sesuai amanah UU Pers, tugas Dewan Pers itu mendata bukan memverifikasi” ujar Haris

Terkait idealisme Wartawan, Haris menjelaskan bahwa terkikisnya nilai idealisme Jurnalis diawali ketika Media TV yang eksis saat itu mulai memasuki ranah bisnis.

“Idealisme Wartawan mulai menghilang saat itu, sebab Industri pada dasarnya memang tidak bisa sejalan dengan idealisme” kata Haris.

Haris pun menjelaskan bahwa ke depan, orang-orang akan cenderung lebih mempercayai karya-karya secara individual dari pada perusahaannya. Sehingga ini akan memunculkan karakter karakter individu yang terpercaya” kata Haris. (Muh.Basri/IWO)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.