Mahasiswi Semester Akhir Universitas Nani Billi Nusantara Menokok Sagu di Klamono

0
282
- Iklan Berita 1 -

SORONG, Monitorpapua.com – Hadapi pandemi Covid 19, Marry Bokway salah satu Mahasiswi Semester Akhir di Universitas Nani Billi Nusantara (UNBN) Kabupaten Sorong pantang menyerah. Ia meneliti dan memanfaatkan waktu dan tenaga untuk mencari nafkah bukan di supermarket melainkan di hutan yang banyak ditumbuhi pepohonan sagu. Tepatnya di daerah Klamono Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat.

Marry Bokway, tercatat mahasiswi PGSD yang cerdas, kreatif dan inovatif dalam studinya. Ketika dihubungi Redaksi Monitor Papua, Marry Bokway sedang menokok sagu di Kali Klasafet yang deras airnya, jauh dari perkampungan Klamono.

Marry menjelaskan wilayah hutan Klamono Kabupaten Sorong masih ditemukan pohon Sagu. Sagu merupakan salah satu makanan pokok penduduk Papua. Namun banyak orang belum mengenal Pohon Sagu atau Pohon Rumbia. “Pada hal, tanaman Rumbia ini hidup di Tanah Papua yang bisa dijadikan sumber makanan adalah nama sejenis palm penghasil tepung sagu. Dalam bahasa Latin disebut Metroxylon. Kata sagu memiliki arti ‘pati’ yang terkandung dalam batang palm sagu,”terang Marry Bokway.

Signal sulit dijangkau maka Marry Bokway membuat tulisan ke Redaksi “Syalom Bapa, saya akan memulai dengan cerita atau kisah perjuangan membuat sagu di hutan Klamono distrik Klasafet. Saat ini saya sedang bekerja di hutan. Saya ditemani keluarga. Hutan sangat sejuk ditumbuhi pepohonan Sagu, masih terdengar kicauan burung. Nah, Sagu adalah tepung atau olahan yang kami kerjakan dari sebuah proses menokok batang pohon sagu di Kali Klasafet. Saya meneliti tepung sagu memiliki karakteristik fisik yang mirip dengan tepung tapioka. Setelah itu kami membuat tempat penampung air sagu yang disebut goti. Lalu kami bekerja menokok pohon sagu yang sudah tumbang untuk memperoleh sagu yang halus dengan sebuah kayu halus disebut Nani.

“Sagu yang sudah ditokok dilanjutkan dengan proses meramas menggunakan air bersih agar mendapatkan santan sagunya. Kami endapkan beberapa jam untuk mendapatkan tepungnya. Alhasil, sangat memuaskan, tepung sagu siap dibawa pulang ke rumah untuk dimasak atau dipasarkan,”terang Marry Bokway Mahasiswi UNBN

Mendengar kata “papeda”, kata Mahasiswi semester akhir itu, pasti tak asing lagi di telinga kita, apalagi bagi pecinta kuliner Nusantara. Papeda adalah makanan khas dan kebanggaan kami dari tanah Papua. Uniknya, kata Marry Bokway di Distrik Klamono masih ada banyak pohon sagu. Tekstur pohon ini unik karena tumbuh di rawa-rawa. Dan makanan ini sangat unik karena seperti lem. Pencinta kuliner yang belum tahu, ternyata papeda terbuat dari olahan ‘pati’ pada batang tumbuhan sagu. Makanan ini tidak asing lagi bagi orang Papua atau pendatang yang hidup di Papua karena Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat Papua yang memiliki nilai gizi sangat baik.

Setelah diolah, tambah Mahasiswi itu, kami mendapatkan tepung serupa tapioka akhirny, Sagu siap dimasak lalu dimakan dalam bentuk papeda ditambah ikan kuah kuning bersama keluarga, terasa surga dunia. Sagu bisa diolah menjadi kue, mie instan atau dalam olahan lain. Sagu sendiri dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun sagu. “Ternyata, Sagu memiliki sumber karbohidrat. Sagu merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu, yang memegang peranan penting di Klamono dalam mendukung program diversifikasi sebagai pendamping beras selain jagung dan umbi-umbian,” jelas Marry Bokway

Sumber Data lain mencatat, keistimewaan dari tumbuhan sagu merupakan penghasil karbohidrat yang cukup tinggi. Perlu diketahui bahwa kandungan kalori sagu sekitar 357 kalori, relatif sama dengan jagung yaitu 360 kalori ataupun beras giling sekitar 366 kalori.

Di Indonesia sesuai sumber data, ada beberapa nama daerah untuk tanaman sagu seperti rumbia, kirai (Sunda), ambulung kersulu (Jawa), dan Lapia (Ambon). Warga Malaysia mengenal sagu dengan sebutan rumbia dan balau, lumbia (Philipina), thagu bin (Myanmar), saku (Kamboja), dan sakhu (Thailand). Sementara nama ilmiahnya adalah Metroxylon sagu. Salam Papeda=Papua Pencinta Damai. (Marry Bokway/Ren/IWO)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.