Sebanyak 17 Orang Masuk Tim Katekese Paroki Santo Yohanes Pembaptis

0
119
- Iklan Berita 1 -

SORONG, Monitorpapua.com – Tim Katekse Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Kota Sorong, Papua Barat mendapat tugas perutusan mengunjungi 14 Lingkungan Paroki yang berada di Wilayah Kota Sorong dan sekitarnya khususnya dari Km 17 sampai Km 12 Kota Sorong.

Tugas Perutusan ini dalam rangka menyiapkan iman umat di Masa Prapaskah agar dapat menghayati dan melaksanakan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, Pastor Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman RD Izaak Bame membekali 17 orang utusan yakni Yosef Laxmana, Demianus Tenau, Laurentius Reresi, Hendrik Pardosi, Elis Hizkia, Mery Matande, Irene Ella, Kristina Maria, Yenny Goretty, Elisabeth Manopo, Dewi Ranti, Linawati Kondo Allo, Nency Manurung, Maria Margaretha Rettob, Emanuel Motombri, Laurens Jawa, dan Paulinus Alubwaman Bille.

Para utusan ini, sebelum menuju ke Lingkungan-Lingkungan yakni Santa Emilia de Rodat, Santa Faustina Kowalski, Santa Maria, Santa Ursula, Santo Fransiskus Asisi, Santo Stefanus, Santa Skolastika, SantO Paulus Rasul, Santo Thomas Rasul, Santo-Santa Yoakim-Ana, Santa Theresia, Santo Bernadus, Santo Benediktus dan Santo Mikael, mereka mendapat berkat perutusan dari Pastor Paroki Santo Yohanes Pembaptis usai perayaan Rabu Abu di Gereja.

Pastor Paroki RD. Izaak Bame memberi berkat dan pesan agar Tim Katekese ini memimpin ibadah dan berbicara mengenai pastoral Kitab Suci tidak terlepas dari katekese. Kitab Suci menjadi pedoman dalam tugas pewartaan.di 14 Lingkungan.

Ini adalah salah satu cara menjadi pewarta Kitab Suci dengan cara katekese. RD Izaak Bame juga berpesan kepada Tim Katekes, relasi Kitab Suci dengan katekese sangat erat, yakni saling membutuhkan dan menguntungkan, sebab Kitab Suci membutuhkan katekese dan isi katekese bersumber terutama dari Kitab Suci maka Tim Katekese berusaha menyederhanakan materi Katekese sebagai bentuk kerasulan Kitab Suci.

Izaak Bame menjelaskan kata katekese berasal dari kata Yunani catechein (kata kerja) dan catechesis (kata benda). Akar katanya adalah kat dan echo.

Kat artinya keluar, ke arah luas dan echo artinya gema/gaung. Secara etimologis katekese berarti membuat bergema, menyebabkan sesuatu bergaung, suatu gema yang diperdengarkan/disampaikan keluar/ke arah luas.

Gema dapat terjadi jika ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak pernah berhenti pada satu arah.

Secara singkat RD. Izaak Bame menekankan, Katekese sebagai pengajaran, pendalaman dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman. Jadi, katekese biasanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah dibaptis di tengah umat yang sudah Kristen.

Katekese adalah usaha-usaha dari Gereja menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terdapat unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan serta pendewasaan.

Metode yang sesuai perlu dicarikan agar katekese dalam berbagai bentuknya bergema dalam hati pendengar dan berbuah nyata.

Dasar katekese adalah “penugasan Kristus kepada para rasul dan pengganti-pengganti mereka”. Dalam Mat. 28:19-20 Yesus mengutus para rasul. Ia bersabda “pergilah”, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.

Sasaran Katekese bukan hanya membuat orang saling berkontak, melainkan juga membuat orang berkontak dalam kesatuan dan kemesraan, dengan Yesus Kristus. Segala kegiatan mewartakan Kabar Gembira mempererat kesatuan dengan Yesus Kristus. Mulai dengan pertobatan ‘awal’ seseorang kepada Tuhan yang digerakkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan Injil yang pertama, katekese berusaha mengukuhkan dan mematangkan kesetiaan kepada Yesus Kristus.

Sesuai data yang diperoleh media ini, Tim Katekese telah berkunjung selama tiga Minggu ke 14 Lingkungan.

Mereka membagikan pengalaman berkunjung di tengah-tengah umat Paroki. Dari perjumpaan itu, Tim Katekese menemukan beberapa hal penting yakni usaha katekese merupakan tanggung jawab seluruh umat Paroki sebagai Gereja.

Usaha katekese lebih terarah pada ‘proses’ bukan hasil yang langsung diperoleh secara instan dari pertemuan itu. Dengan kata lain lebih utama adalah bukan target atau hasil dari pewartaan hari itu, melainkan proses untuk memperoleh hasil.

Jelas bahwa Katekese membantu orang menghayati imannya dalam situasi aktual Umat harus benar-benar  mewujudkan imannya secara konkret dalam hidup, baik dlam Gereja, Keluarga dan masyarakat terintegrasi antara iman dan kenyatan hidup bersama sebagai mahkluk sosial dan mahkluk ciptaan Tuhan paling mulia.

Hasil wawancara dengan sejumlah Tim Katekese, ternyata mereka terus berupaya mendorong dan meyakinkan umat di 14 Lingkungan Paroki untuk membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama maupun lingkungannya sesuai tema Katekese Prapaskah 2022 “Memulihkan Kehidupan, Bumi Sehat Manusia Sejahtera”.

Umat yang dikunjungi menyadari bahwa proses katekese tentu bertujuan mematangkan dan mendewasakan iman umat Katolik agar mereka semakin yakin akan kehadiran Allah sehingga mereka mampu melaksanakan secara sadar dan terencana dan bertanggungjawab terhadap tugas perutusan Gereja.

Lebih menarik lagi, umat Katolik diminta untuk mensharingkan pengalaman perjumpaan mereka dengan Allah dan sesame serta Alam sekitarnya sehingga mereka merasa bahwa katekese Kitab Suci sungguh lebih kontekstual dan actual, setiap pribadi merasa dihargai martabatnya, setiap orang bebas mengungkapkan pengalaman imannya tanpa rasa takut.

Dalam hal ini setiap pengalaman iman masing-masing pribadi dilihat sebagai pengalaman yang memperkaya iman sesamanya sehingga selama tiga Minggu, umat termotivasi mengikuti Katekese di setiap Lingkungan.

Tim Katekese yang tersebar ke 14 Lingkungan itu adalah fasilitator yang memudahkan terjadinya komunikasi iman.

Meskipun ada Tim Katekese yang gemetar berdiri di hadapan umat namun perlahan-lahan demam panggung itu teratasi setelah mereka berjuang mengatasi kekurangpercayaan diri karena mereka tidak bertindak sebagai orang yang ‘mahatahu’ segalanya apalagi sebagai pemberi materi katekese yang mendominasi proses pertemuan bersama umat.

Pesan Pastor Paroki RD. Izaak Bame, proses katekese harus mampu menyentuh pengalaman hidup ataupun pengalaman iman umat Lingkungan baik orang dewasa, remaja dan anak-anak sebagai sarana pertemuan manusia dengan Allah.
Metode katekese diupayakan sederhana, bertujuan memudahkan terjadinya komunikasi iman. Selamat Bertugas, Tuhan Memberkati selalu (Laurent Reresi)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.