SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Plt Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Barat Daya, dr Jan Pieter Kambu Sp.OG.Subsp.F.E.R menegaskan salah satu program dari Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu yaitu 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), bertujuan menurunkan angka stunting dan menciptakan Generasi Emas 2045.
Program 1000 HPK ini menyentuh ibu hamil karena pemerintah PBD memprioritaskan, Ibu hamil, bayi dan balita di 6 kabupaten/kota melalui intervensi gizi, pelayanan kesehatan di Posyandu dan bantuan makanan tambahan dengan nilai anggaran pada tahun 2025 sebesar Rp 6.664.490.400.
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB di Jln Sam Ratulangi, Kelurahan Kamp Baru, Distrik Sorong Kota, Kota Sorong Papua Barat Daya, Selasa (03/02/2026), dr Jan Pieter Kambu Sp.OG.Subsp.F.E.R selaku Plt Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana kepada awak media menyampaikan program ini sudah sesuai sasaran
Ditemui diruang rapat kantor, Pelaksana tugas dr Jan Pieter Kambu Sp.OG. menjelaskan 9 bulan di masa hamil dan 2 tahun masa setelah hamil.
“Program 1000 HPK yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan meliputi 9 bulan atau 270 hari pada masa kehamilan dan 2 tahun di masa setelah kehamilan, implementasi dari Pak Gubernur dimana kita melakukan pendekatan terhadap sasaran yang ditergerkan pada 1000 HPK tersebut,” terangnya.
Dokter Jan Pieter Kambu mengatakan ada lima (sasaran) yang ditergetkan yaitu remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui, balita dan masa melahirkan.
“Implementasinya bagaimana ibu hamil itu tidak kekurangan gizi karena itu merupakan kunci keberhasilan dari program stunting, makanya pencegahan dimulai dari ibu hamil, karena gizi dan infeksi itu berkaitan, dan jika gizinya buruk tentu akan mudah terjadi stunting tetapi bisa juga bisa juga infeksi, jadi pencegahannya ada pada ibu hamil,” paparnya.
Menurutnya, target yang paling penting yaitu sesuai dengan apa yang dicanangkan Gubernur PBD, yakni 1000 HPK lah yang menjadi fondasi kita untuk mempersiapkan generasi emas di tahun 2045.
Disinggung tentang stunting di Provinsi Papua Barat Daya dari tahun 2024 sampai dengan saat ini disampaikan oleh Plt Kadis Kesehatan bahwa terjadi penurunan meskipun tidak signifikan.
“Walaupun ada perbedaan data dimana prevalensi stunting mengalami peningkatan 12 % pada tahun 2024 dan tahun 2025 menjadi 15,41%, kenaikan ini dikarenakan beberapa hal, penanganan yang belum maksimal ataupun kemungkainan bagaimana alat yang dipakai di lapangan, tetapi data dari SSGI tahun 2023 ke tahun 2024 ada penurunan 0,1 % dan tahun 2025 ada penurunan juga,” paparnya.
Disaat terbentuknya pemerintahan yang definitif mulai dibijaki dan difokuskan bagaimana caranya 1000 HPKnya bisa berjalan dengan baik.
“Monitor dan evaluasi yang kita lakukan adalah pemberian makanan tambahan dan juga bantuan dapur gizi kepada puskesmas yang ada di Kabupaten/Kota dan tahun ini ada pemberian makanan tambahan yang berbasis pangan lokal juga serta obat-obat bergizi yang akan kita berikan dan sudah mulai kita distribusikan sejak 14 hari yang lalu,” katanya.
Langkah kedepan yang akan kita ambil untuk menekan angka stunting adalah kita akan melakukan upaya preventif promosi harus ditingkatkan.
“Langkah preventif akan kita lakukan untuk menekan angka stunting, yaitu promosi atau sosialisasi akan kita giatkan agar masyarakat lebih paham tentang stunting dimana dasarnya terletak pada pengetahun dan pendidikan serta ekonomi,” ulasnya.
Kepada masyarakat ataupun para stakeholder beliau menghimbau untuk sama-sama memperbaiki stunting untuk generasi mendatang.
“Mari sama-sama kita memiliki kesadaran untuk memperbaiki stunting untuk generasi kedepan, kita kerja bersama-sama, baik dinas kesehatan, LSM , dinas sosial dan seluruh lapisan masyarakat” terangnya.
Sambungnya, targetnya adalah pencegahan agar stunting ini bisa turun.
“Sesuai data yang kita miliki untuk Kota Sorong ada 270, Kabupaten Sorong 200, Kab Sorong Selatan 198, Kabupaten Maybrat 218, Kabupaten Tambrauw 313 , kabupaten Raja Ampat 100, inilah target yang kita harapkan bisa turun,” jelasnya.
“Edukasi – edukasi seperti Kita sosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan angka syunting,” jelasnya. (Stevi, Renti).











