RAJA AMPAT, Monitorpapua.com.- Puluhan Jurnalis PBD Bersama PT Gag Nikel melepas101 ekor tukik di Raja Ampat. Kegiatan Media Gathering PT Gag Nikel bersama puluhan jurnalis Papua Barat Daya bertempat di areal tambang PT Gag Nikel, Kampung Gag, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, Jumat (23/1/2026).
Corporate Secretary, Legal & External Manager PT Gag Nikel, Mustajir mengatakan penangkaran penyu di Pulau Gag telah berjalan aktif. Telur-telur penyu ditetaskan hingga menjadi tukik, kemudian dilepasliarkan ke laut setelah dinilai cukup kuat untuk bertahan dari predator alami.
“Setelah tukik dirasa sudah mampu bertahan, kami lepasliarkan. Biasanya setiap tamu yang datang juga kami arahkan untuk ikut melakukan pelepasan penyu,” tambah Mustajir.
Ia berharap, program konservasi ini dapat terus berkelanjutan dan menjadi contoh bahwa kegiatan industri dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Pegiat konservasi penyu di pulau Gag kabupaten Raja Ampat, Hasan Sangadji, mengungkapkan telah terlibat aktif dalam upaya pelestarian penyu sejak tahun 2019 didampingi langsung oleh PT Gag Nikel.
Meski sempat bekerja secara formal, ia memilih fokus penuh pada kegiatan konservasi sejak akhir 2019 hingga saat ini.
“Sejak akhir 2019 saya sudah lepasan dan konsisten melakukan penangkaran serta pelepasan penyu. Total yang sudah dilepasliarkan sampai sekarang lebih dari 8.000 ekor,” ujar Sangadji saat ditemui di lokasi penangkaran.

/ Foto : Humas PT Gag Nikel
Ia menjelaskan bahwa proses penetasan dan pelepasan tukik (anak penyu) harus dilakukan sesuai standar yang benar. Salah satu hal penting adalah posisi kepala tukik saat dilepas.
“Waktu menangkarkan penyu, posisi kepalanya harus ke atas, tidak boleh ke bawah. Kalau salah posisi, penyu bisa gagal hidup,” jelas Sangadji.
Menurutnya, jenis penyu yang saat ini paling sering ditangani adalah penyu sisik dan penyu pipih. Pada pelepasan terakhir oleh para wartwan dan LSM, sebanyak 101 tukik berhasil dilepas ke laut.
“Yang dilepas terakhir oleh para wartawan dan LSM semuanya berjumlah 101 ekor tukik,” sambung Sangadji.
Ia juga menyinggung bahwa kegiatan konservasi ini bukan sekadar inisiatif pribadi, melainkan bagian dari program pelestarian yang memiliki mekanisme pelaporan. Setiap pelepasan baru dapat dilaporkan setelah mencapai jumlah tertentu.
“Ini program yang didampingi oleh PT Gag Nikel, bukan kegiatan sia-sia. Kalau sudah maksimal sekitar sembilan sarang atau penetasan, baru bisa dilaporkan ke pemerintah,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap upaya konservasi penyu dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak demi menjaga populasi penyu yang kian terancam di kepulauan Indonesia dan kepulauan raja ampat. (Stevi)











