SORONG, PBD, Monitorpapua.com.- “Pelajar Cerdas, Anti Narkoba Papua Barat Daya”. Demikian yel-yel penutupan sosialisasi dampak narkoba dan obat-obat terlarang bagi anak usia dini yang disuarakan ratusan pelajar dari Kabupaten Raja Ampat, Sorong Selatan, Maybrat, Teminabuan, Tambrauw dan tuan rumah Kabupaten Sorong. Kehadiran ratusan anak ini untuk menjadi duta tolak narkoba bagi sesamanya. Yel-yel kekompakan para pelajar ini digaungkan dalam kegiatan selama tiga (hari) di Aimas Hotel Kabupaten Sorong (28 April-30 April 2025).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya (PBD) Adolof Kambuaya, SH., MSi mengapresi ratusan pelajar se Papua Barat Daya karena berkomitmen menolak narkoba dan obat-obat terlarang bagi anak usia dini. sosialisasi dampak narkoba, menghadirkan dua narasumber yakni Laurentius Reresi, S.S., M.M dan dari pihak Kepolisian Kota Sorong., sudah waktunya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya menyiapkan Generasi Emas Indonesia di Papua tahun 2045. Generasi ini harus disiapkan baik-baik agar mereka dapat memimpin bangsa dan negara Indonesia pada tahun 2045.
Kegiatan penutupan ini dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya beserta narasumber, panita dan para pegagai dinas Pendidikan.

Sebelum kegiatan penutupan, Para narasumber dari Reserse Narkoba Polresta Sorong memberikan materi penyuluhan terkait dampak narkoba dan aturan hukum yang mengatur ketentuan pidana sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 pasal 111 ayat 1 setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum, menanam, memeliharan, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika Golongan 1 dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 tahun dan pidana paling banyak Rp. 8 milyar.
Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja adalah masalah serius dan kompleks. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga melibatkan aspek psikologis, sosial, dan spiritual.
Narasumber Laurentius Reresi mengatakan yang lebih mengkhawatirkan, kelompok usia 15–24 tahun menunjukkan peningkatan signifikan dalam penyalahgunaan narkoba Ini memperkuat tren yang sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir, di mana generasi muda menjadi kelompok paling rentan. Selain itu, data dari Polri menunjukkan bahwa hingga 2025, terdapat lebih dari 61.000 kasus narkoba yang ditindak, dengan fluktuasi jumlah kasus setiap bulannya

Ini mencerminkan dinamika kompleks antara upaya pemberantasan dan tantangan baru yang terus bermunculan. Dalam menghadapi tantangan besar ini, pendekatan yang melibatkan tiga pilar utama keluarga, gereja, dan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun sistem perlindungan yang kuat bagi generasi muda kita.
Dalam sessi Tanya jawab, banyak bermunculan pertanyaan dari para siswa. Mereka berlomba-lomba menanyakan dampak narkoba dan di Kota dan Kabupatem Sorong. Narasumber Laurentius Reresi, S.S., MM, salah satu dosen dari di Perguruan Tinggi Kota Sorong menegaskan Keluarga adalah tempat pertama dan paling penting di mana anak-anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Keluarga berperan sebagai agen sosialisasi primer yang memiliki pengaruh besar dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.
Keluarga adalah konteks pertama dan paling berpengaruh dalam pembentukan makna, kepercayaan, dan spiritualitas anak. Menurutnya, pengalaman awal anak terhadap kasih sayang dan keandalan dalam lingkungan rumah tangga membentuk dasar kepercayaan yang mendalam, yang kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan iman di tahap-tahap selanjutnya.
Anak yang dibentuk dalam keluarga yang memiliki kelekatan emosional yang kuat, kebiasaan komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, dan pemahaman tentang iman yang baik, akan memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi godaan penyalahgunaan narkoba. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa keluarga bukan hanya sekadar institusi biologis, tetapi juga merupakan medan pertama di mana anak-anak belajar menghargai hidup dan memahami nilai-nilai moral, sekaligus benteng pertama melawan penyalahgunaan narkoba.
Perwakilan siswa-siswi dari Kota dan Kabupaten Provinsi Papua Barat Daya yakni Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Sorong Selatan, Maybrat, Teminabuan, Tambrauw dan Kota Sorong. Setiap sekolah menghadirkan 4 siswa didampingi dua guru termasuk Kepala Sekolah dan Guru Pendamping siswa. Demikian laporan Ketua Panitia Arnold Isir di hadapan forum sosialisasi dampak narkoba, menghadirkan dua narasumber yakni Laurentius Reresi, S.S., M.M dan dari pihak Kepolisian Kota Sorong., sudah waktunya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya menyiapkan Generasi Emas Indonesia di Papua tahun 2045. Generasi ini harus disiapkan baik-baik agar mereka dapat memimpin bangsa dan negara Indonesia pada tahun 2045.

Penting ! Karena generasi Emas 2045 adalah visi Indonesia untuk menjadi negara maju, berdaulat, dan mandiri pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia (2045), didukung oleh SDM berkualitas, produktif, dan berkarakter. Fokus utamanya adalah memanfaatkan bonus demografi dengan peningkatan pendidikan, kesehatan, dan transformasi ekonomi untuk menjadikan Indonesia kekuatan ekonomi besar dunia.,
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya berharap, setelah kembali ke sekolah masing masing, perlu Implementasikannya di sekolah masing. “Jangan ikutan teman-teman, Saya berharap adik-adik bisa menangkan satu dua orang spx ada perubahan,” tegas Kepala Dinas
Pemateri yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan meminta semua anak yang hadir maupun yang belum sempat hadir agar selalu berhati-hati dalam “pergaulan bebas kurangi dari siswa,” ujar Kadis.
Dalam penutupan kegiatan, Kepala Dinas mengatakan Sekolah memiliki Guru Bimbingan Penyuluhan (BP), komunikasilah dengan Kepala Sekolah supaya semua anak dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mendengar sharing yang dilakukan anak-anak yang mengikutu kegiatan sosialisasi dampak narkoba dan obat-obat terlarang. Kalau guru BP mengajar pasti masuk di kelas-kelas. Kalau sosialisasi di aula sekolah, maka seluruh anak gabung lalu mendapat pengarahan,” ajak Kepala Dinas.

Kepala Dinas Pendidikan berpesan kepada para guru untuk terus mengajar anak didiknya, namun perlu memperhatikan akhlak moral anak. “Guru mengajar untuk anak-anak kuasai ilmu supaya mereka tidak melakukan hal negatif. Namun jangan hanya menguasai ilmu eksakta saja melainkan ilmu moral, agama, seni dan filsafat agar terbentuk kepribadian yang tahan uji,” tegasnya
“Kegiatan ini demi masa depan adik-adik, mereka memiliki ilmu tinggi, maka harus punya mental, kesehatan bagus, mental tidak boleh rusak. Kita berupaya menyiapkan adik2 untuk masa depan. Rajin ke Gereja, rajin ke Mesjid, tempat ibadah sesuai agama masing-masing. Ilmu dan iman baik maka kita bisa membawa negara pada kemakmuran dan kemajuan,” ajak Kepala Dinas.
“Program ke depan, kita kerja sama, kita akan undang semua siswa hadir dalam kegiatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar mereka juga mengetahui secara langsung dampak dari narkoba dan obat-obat terlarang. Mari tingkatkan ilmu pengetahuan, belajar bahasa Inggris supaya mempermudah ke mana saja. Terimakasih banyak kepada para narasumber dari kepolisian dan dosen telah menyiapkan generasi emas Indonesia.”
Akhirnya, Kepala Dinas berpesan lagi “Kampanyekan di sekolah, tolak narkoba demi kepentingan kemanusiaan”.











