26.6 C
Sorong
Beranda Papua Barat Daya TNI-POLRI Membunuh Pemimpin TPNPB-OPM,Tidak Selesaikan Akar Masalah Konflik di Papua

TNI-POLRI Membunuh Pemimpin TPNPB-OPM,Tidak Selesaikan Akar Masalah Konflik di Papua

96
Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2026
Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2026
- Iklan Berita 1 -

SORONG, Monitorpapua.com.- Redaksi menerima tulisan dari Pastor Izaak Bame, pemerhati kemanusiaan di Tanah Papua, demikian isi artikelnya.

Setelah mendengar-menonton lewat media sosial tentang kejadian penembakan terhadap Pimpinan dan Anggota TPNPB-OPM di Intan Jaya dan Pegunungan Bintang pada 15 Oktober 2025 dan 19 Oktober 2025, yang menewaskan 14 orang  dan 3 orang,dan seakan-akan TNI-POLRI mampu menyelesaikan konflik di tanah Papua.

Melalui kesempatan ini saya Pastor Izaak Bame, Pastor Gereja Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong Papua Barat dan Papua Barat Daya menyampaikan pendapat atas peristiwa ini.

Sebagai Orang Papua yang adalah Pastor menegaskan pembunuhan-penembakan terhadap Orang Asli Papua oleh TNI-POLRI, atas nama Negara Kesatuan Indonesia adalah program genosida terhadap orang asli Papua. Hal ini telah diungkapkan oleh Ali Martopo sejak tahun 1962-1969, bahwa Pemerintah Indonesia tidak membutuhkan Manusia Papua tapi membutuhkan “kekayaan alam”.

Saya sebagai seorang Imam merasa Rakyat Asli Papua terus merasa kecewa
Saya sebagai seorang Imam merasa Rakyat Asli Papua terus merasa kecewa

Maka setiap peristiwa apa saja yang terjadi di tanah Papua  terutama pembunuhan-penembakan terhadap Orang Asli adalah sebuah tindakan untuk mendukung dan membenarkan pernyatan Ali Martopo. Namun pada saat yang sama TNI-POLRI lupa bahwa dengan tindakan membunuh-menembak mati orang asli Papua entah karena anggota TPNPB-OPM atau sipil, semakin menguatkan hati-pikiran dan perasaan seluruh dakyat asli Papua bahwa bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu maut sudah siap di depan mata.

Kepada TNI-POLRI-Presiden Republik Indonesia, dari waktu ke waktu terus menciptapkan kekecewaan-kebencian dari rakyat asli Papua kepada  Pemerintah-Rakyat Indonesia.

Saya sebagai seorang Imam merasa Rakyat Asli Papua terus merasa kecewa dan frustrasi terhadap sikap dan cara Pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia menunjukkan  sikap mereka  terhadap Rakyat Asli Papua bukan sebagai manusia atau sesama anak bangsa.

Hal ini sudah terungkap dari tiga tokoh penting di Tanah Papua yaitu  Barnabas Suebu, SH., yang pernah menjadi Gubernur dua periode di Provinsi Irian Jaya 1987-1992 dan Papua 2005-2010, atas perlakuan hukum yang tidak adil pada dirnya dengan pernyatan “saya menyesal bergabung dengan Bangsa Indonesia. Lukas Enembe (Alm.) Gubernur Provinsi Papua, 2014-2019 dan 2019-2024, beliau berkata bahwa “Rakyat Asli Papua dari Merauke sampai Sorong hidup tidak aman di atas tanah leluhurnya sendiri, dan Pdt. Abdiokus Mofu Ketua Sinode GKI juga mengungkapkan rasa kesalnya Rakyat Aslj Papua bergabung dengan Bangsa Indonesia bahkan almarhum Teys Eluay sangat tegas mengatakan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang biadab.

Kedua Kepada TPNPB-OPM, berhenti melakukan kekerasan dengan Senjata Api-senjata tradisional seperti Panah, Tombak-Parang, Kapak untuk  membunuh masyarakat sipil
Kedua Kepada TPNPB-OPM, berhenti melakukan kekerasan dengan Senjata Api-senjata tradisional seperti Panah, Tombak-Parang, Kapak untuk membunuh masyarakat sipil

Kesempatan ini, saya sebagai Pastor meminta:

Pertama: Kepada pihak TPNPB-OPM, mari evaluasi cara perjuangan  kalau boleh ikuti cara Zanana dan Ramos Horta, berjuang untuk Timur Leste.

Kedua Kepada TPNPB-OPM, berhenti melakukan kekerasan dengan Senjata Api-senjata tradisional seperti Panah, Tombak-Parang, Kapak untuk  membunuh masyarakat sipil, membakar  Fasilitas umum, karena cara begitu TPNPB-OPM, sedang berada dalam permusuhan bahkan tidak mendapat simpati dari Publik baik Rakyat Asli Papua mau pun seluruh Umat Manusia yang ada di atas muka bumi Indonesia dan bahkan dunia  Internasional.

Ketiga: Kepada para tokoh Pejuang Papua Merdeka harus dan terus  membangun rasa memiliki  Nasionalisme yang kuat bagi seluruh rakyat asli Papua melalui keluarga-keluarga, anak-anak, sekolah, mahasiswa dan Pemuda, mendukung perjuangan yang sudah di jalankan oleh: ULMWP.

Keempat: Kepada pihak Pemerintah Republik Indonesia Presiden -TNI-POLRI, perlu lakukan Evaluasi yang sungguh mendalam atas cara kerja -kebijakkan pembangunan yang dijalankan di enam (6) Provinsi  yang ada di atas Tanah Papua supaya bisa program-kebijakan itu  tidak menimbulkan konflik lagi.

Kelima: Kepada para Gubernur-Bupati-Wali Kota-DPR-DPRD-MRP, yang  sedang memimpin Papua coba bangun komunikasi yang efektif dengan para pejuang Papua Merdeka untuk dengar pikiran mereka supaya bisa bersama cari cara yang baik mengurangi bahkan meniadakan konflik yang terjadi selama ini. Karena, kalau ruang dialog tidak dibuka maka masing-nasing membangun sikap saling curiga, terutama, Gubernur Bupati-Wali Kota, jangan mengedapan pendekatan keamanan. Sebaiknya pendekatan kekeluargan untuk menghindari kecurigan antara TPNPB-OPM dan Pejabat anak Negeri. Sejauh ini belum ada ruang dialog yang sungguh dibangun oleh para Pemimpin Negeri-Tanah Papua untuk menyiasat penyekesaian konflik di Tanah Papua. Kiranya tulisan ini memberi informasi kepada kita terkait situasi Papua saat ini. (*Pastor Izaak Bame)

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini