SORONG, Monitorpapua.com.– Ketua Etnis Tanimbar, Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Kota Sorong, Laurentius Reresi, memimpin ibadah perkumpulan Etnis Tanimbar dengan tema “Kerapuhan dan Kuasa Allah. Dalam renungan singkat, Pemimpin ibadah mengajak semua yang hadir untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan karena kasih karunia-Nya bisa berhimpun sebulan sekali dalam kumpulan etnis Tanimbar, kita adalah manusia yang rapuh namun membutuhkan kuasa Allah. Ibadah bertempat di kediaman Robertus Yanubi, Minggu, 22 Februari 2026.

“Hari ini, kita merayakan Minggu Prapaskah I, kita diajak Gereja Katolik untuk bersama-sama menjalani masa tobat dengan baik. Pada masa ini kita etnis Tanimbar secara khusus mendekatkan diri kepada Allah melalui permenungan sengsara dan wafat Yesus Kristus. Kita harus menjalani masa tobat karena kita adalah manusia yang rapuh mudah jatuh ke dalam dosa. Namun, pada saat yang sama kita dapat hidup dalam kuasa Allah yang memenangkan kita dari dosa,” ajak Ketua Etnis Tanimbar.
Dalam Injil Matius 4: 1-11, lanjut Laurentius Reresi Penyuluh Agama Katolik yang bekerja di Kantor Kementerian Agama Kota Sorong, Bimas Katolik mengatakan kita diajak untuk melihat tentang kisah percobaan Yesus di padang gurun selama 40 hari, sekaligus merefleksikan sejarah masa lalu Israel yang berziarah selama 40 tahun di padang gurun. Tetapi dengan hasil yang berbeda. Bila bangsa Israel gagal dalam pencobaan, Yesus justru mengatasi cobaan iblis. Dalam keadaan lapar iblis datang menawarkan cobaannya.
“Ada tiga cobaan yang ditawarkan, antara lain, Pertama: mengubah batu-batu menjadi roti. Kedua: menjatuhkan diri-Nya dari puncak Bait Allah. Ketiga: semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dengan syarat, Yesus menyembahnya. Lantas, apa yang dilakukan Yesus?,” tanyanya.

Dengan cerdik iblis menilik kebutuhan Yesus yang paling dasar dalam situasi lapar yakni makanan. Maka cobaan pertamanya adalah keterikatan material: batu menjadi roti. Berhati-hatilah pula dengan titik-titik lemah dalam dirimu. Itulah yang selalu dibidik Iblis dengan jitu. Materi selalu dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan di tengah dunia ini. Yang berbahaya bila ia meyakini kenikmatan material itulah yang memuaskan dan membahagiakan hidupnya. Justru titik lemah inilah yang terus dimainkan iblis dalam kehidupan manusia.
Tawaran iblis sangat menakjubkan. Cobaan-cobaan ini juga selalu ditawarkan iblis kepada kita selama mengikuti Yesus di dunia ini, terutama selama masa Prapaskah ini.
Maukah kita memberi jawaban sama seperti yang ditegaskan oleh Yesus? Pertama: Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:3-4); Kedua: Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu! (ayat 7); Ketiga: Enyalah iblis ! (ayat 7) engkau harus menyembah TRuhan Allahmu dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti ! (ayat 10)
Pada zaman ‘now’ kita tengah dirasuki semangat materialistis, bukankah ini pertanda kita sedang membiarkan iblis menguasai hidup kita? Yesus mengingatkan kita, “manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari Firman Allah”. Ketika kita berpaling dan mengikuti kehendak Allah, maka kita menemukan kepuasaan hidup pada Allah, sekaligus mengatasi godaan iblis yakni keinginan daging, materialisme, konsumerisme dan hedonisme.
Saudara-saudari, Setelah gagal dengan cobaan pertama, iblis menemukan dan melemparkan cobaan kedua terhadap Yesus, yakni keterikatan pada gengsi, semua kemegahan dan kemasyuran duniawi, asalkan Yesus menyembahnya. sebuah godaan yang menggiurkan untuk memperoleh kekuasaan.

Dua cobaan sebelumnya terkait hal duniawi, maka cobaan ketiga dan terakhir justru menyasar pada hal spiritual. Sambil mengutip ayat Kitab Suci, iblis menantang iman Yesus. ‘jatuhkanlah dirimu ke bawah, maka para malaikat akan menatang-Mu. Iblis tidak hanya pandai menggunakan hal-hal duniawi untuk menggoda Yesus. Iblis memanipulasi kita dengan argumen saleh, biblis dan teologis. Bukankah hal ini terjadi juga dalam hidup kita?
“Yesus menegaskan “jangan mencobai Tuhan, Allahmu!”. Mari mempersembahkan hidup kita khususnya dalam masa Prapaskah ini kepada Tuhan. Selamat berhari Minggu Prapaskah Pertama. Tuhan memberkatimu,” ucap Laurentius Reresi menutup permenungan.
Usai ibadah Sabda, dilanjutkan dengan ramah tamah sekaligus membicarakan program etnis Tanimbar agar bisa dilaksanakan pada tahun 2026, serta upaya pencarian dana etnis agar etnis ini bisa melaksanakan kegiatan di Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Sorong. Tak ketinggalan, kumpulan etnis ini mengadakan undian berhadiah. Dalam undian tersebut, Paulinus Bille mendapat hadiah satu buah kue yang disiapkan keluarga Robertus Yanubi. (Siska Gurning, Ren)










