SORONG, Papua barat daya, Monitorpapua.com – Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, membuka ceramah umum menegaskan peserta Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Formasi Tahun 2024 di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, harus memahami arah kebijakan pembangunan daerah sekaligus memperkuat komitmen sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik. berlangsung di Gedung LJ, Kota Sorong, Senin (22/6/2026).
Gubernur Elisa Kambu menegaskan lagi, jabatan publik bukan sekadar pemenuhan administrasi pemerintahan, melainkan amanah dan kepercayaan masyarakat yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Kehadiran Gubernur dalam kegiatan itu menjadi momentum penting bagi para CPNS
“Jabatan publik ini bukan sekadar pemenuhan administrasi pemerintahan, tetapi merupakan kepercayaan masyarakat Papua Barat Daya kepada kita untuk meningkatkan pelayanan yang berkualitas, baik di sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi maupun perangkat daerah teknis lainnya,”ujar Elisa Kambu.

Gubernur mengajak seluruh peserta Latsar untuk memiliki pola pikir dan pola pandang yang sama dalam membangun Papua Barat Daya. “Kita punya pola pandang yang sama, punya pola pikir yang sama. Kalau ini bisa kita bangun bersama, maka kita akan menikmati perjalanan pembangunan ini dengan damai, aman dan penuh sukacita,” tegasnya.
Menurut Elisa Kambu, pembentukan Provinsi Papua Barat Daya bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta mendorong pemerataan pembangunan di seluruh wilayah.
“Rencana Percepatan Pembangunan (RPP) Papua menempatkan tiga isu strategis sebagai fokus utama pembangunan, yakni Papua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif. Tiga isu ini menjadi isu sentral yang harus kita kerjakan bersama. Generasi Papua yang cerdas harus dimulai dari masyarakat yang sehat. Sehat tidak turun dari langit, tetapi harus diupayakan bersama, termasuk memberikan perhatian kepada perempuan dan keluarga serta mencegah berbagai bentuk kekerasan,” tegasnya.
Elisa Kambu menekankan pelaksanaan Latsar bukan hanya memenuhi syarat administrasi menuju pengangkatan sebagai ASN, melainkan menjadi sarana pembentukan karakter, disiplin, integritas, serta etika pelayanan publik.
Menurutnya, kualitas seorang ASN tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan maupun jabatan yang dimiliki, tetapi dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. “Arah kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya periode 2025–2026 difokuskan pada percepatan pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel, serta pemerataan pembangunan di seluruh kabupaten dan kota,”ujarnya..
“ASN harus terus belajar memahami bidang tugasnya, meningkatkan inovasi dan kreativitas, serta hadir sebagai pelayan masyarakat yang bekerja dengan hati, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab. ASN dituntut mampu menjadi motor penggerak pembangunan yang adaptif terhadap perubahan dan kebutuhan masyarakat.
Gubernur juga mengingatkan para CPNS agar menjaga integritas sejak dini dan menghindari praktik-praktik yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap birokrasi. “ASN adalah wajah pemerintah yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Karena itu harus menunjukkan sikap profesional, ramah, dan responsif dalam memberikan pelayanan,” katanya.

Kegiatan Latsar merupakan bagian dari upaya pembentukan ASN yang berkarakter, berkompeten, dan siap mendukung visi pembangunan Papua Barat Daya yang maju, sejahtera, dan berdaya saing.
Elisa Kambu mengajak seluruh peserta memanfaatkan setiap proses pembelajaran selama Latsar sebagai bekal dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan publik. Ia berharap para CPNS dapat menjadi ASN yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta komitmen kuat untuk melayani masyarakat Papua Barat Daya.
“Jadilah ASN yang mampu memberikan solusi, menjadi teladan, dan bekerja demi kepentingan masyarakat. Itulah makna pengabdian yang sesungguhnya,” tutup Elisa Kambu. (Stevi, Renti)











