Pemimpin Negara  Republik Indonesia Hati Nurani Tidak Berfungsi,  Tangisan Air Mata  Manusia Asli Papua Selatan Terabaikan

54
Pemimpin Negara Republik Indonesia Hati Nurani Tidak Berfungsi, Tangisan Air Mata Manusia Asli Papua Selatan Terabaikan
Pemimpin Negara Republik Indonesia Hati Nurani Tidak Berfungsi, Tangisan Air Mata Manusia Asli Papua Selatan Terabaikan
- Iklan Berita 1 -

SORONG, Monitorpapua.com.- Redaksi menerima sebuah tulisan dengan judul Pemimpin Negara  Republik Indonesia Hati Nurani Tidak Berfungsi,  Tangisan Air Mata  Manusia Asli Papua Selatan Terabaikan

RD. Izaak Bame, Pastor Gereja Katolik Keuskupan Manokwari Sorong merasa aneh terhadap Pemimpin Negara Republik Indonesia. Mengapa saya berpikir kalau Negara Republik Indonesia dipimpin oleh Manusia maka cara berpikir dan bertindak pasti berdasarkan “Hati Nurani” tetapi sepertinya Negara ini dipimpin oleh seorang “Iblis” mengapa? Karena Iblis saja yang tidak memiliki hati  dan telinga sehingga bertindak tanpa arah dan dasar hidup manusia. Kalau manusia yang pimpin negeri ini pasti mengunakan seluruh potensi diri untuk kebaikan bersama bukan membuat yang  lain menjadi susah seperti saat ini Umat-Masyarakat Papua Selatan menjerit karena kehidupan mereka dirusakan oleh “Kelapa Sawit“.

Demikian dikatakan RD Izaak Bame, Pastor Pemerhati kaum tertindas di Tanah Papua kepada media ini. “Saya merasa heran Gubernur Papua Selatan, Bupati Kabupaten Merauke,Ketua DPRD Propinsi Papua Selatan, Ketua DPRD Kabupaten Merauke, semuanya pada diam dan mendukung kejahatan bahkan diri  mereka sebagai penjahat utama terhadap masyarakat yang mereka pimpin,” ucapnya.

Lebih dalam lagi RD. Izaak Bame menegaskan Pimpinan Gereja Katolik yang diharapkan oleh Umat-Masyarakat Papua Selatan justru menjadi pendukung utama dan mengabaikan tugas berpihakkan kepada kaum lemah, tertindas, tersingkir dan termiskin, yang menjadi visi-misi Tuhan Yesus. “Saya tidak heran kalau Umat Katolik Asli Papua Selatan  melakukan demo kepada pimpinan Gereja Katolik di Papua Selatan,” ujarnya/

Pertanyaan sederhana, kata RD. Izaak Bame, apa sebenarnya yang terjadi antara pimpinan Gereja Katolik  Papua  Selatan dan umatnya terutama Umat Katolik Asli Papua Selatan. Kepada Umat Katolik Papua Selatan saya secara pribadi dan sebagai Pastor sangat kagum atas perjuangan kalian mempertahankan Tanah Adat kalian.

“Pesan sederhana saya adalah Umat Asli Katolik Papua Selatan perlu bersatu untuk melawan para penjahat yang saat ini sedang  menguasai kalian di tanah leluhur kalian. Pimpinan Gereja Katolik Papua Selatan beserta Kurianya perlu sadar bahwa Tuhan Yesus mengutus para Misionaris ke Tanah Papua Selatan dengan tujuan mulia bukan  untuk merebut tanah warisan Manusia Asli Papua Selatan,” tegas Izaak Bame.

Bagi saya Pimpinan Gereja Katolik Papua Selatan bisa ambil waktu yang baik untuk refleksikan kembali penolakan Umat Katolik Asli Papua Selatan terhadap pimpinan Gereja Katolik Papua Selatan.  “Saya percaya Umat Katolik Asli Papua Selatan adalah  manusia juga yang punya hati tidak mungkin mereka melakukan demo terhadap pimpinannya kalau pimpinannya ada bersama mereka.Kepada siapa pun Umat Katolik yang ada di Papua Selatan yang bukan Umat Katolik Asli Papua Selatan supaya punya rasa bertanggung jawab moral terhadap penindasan yang terjadi terhadap Umat Katolik Asli Papua Selatan, jangan buat diri  jadi pahlawan bagi pimpinan Gereja Katolik yang tidak berpihak terhadap Umatnya yang sekarang lagi kehilangan hak hidupnya ditanah leluhurnya,” ujarnya lagi.

Kepada TNI-POLRI bila kalian adalah  anak Manusia maka jangan terlibat kejahatan kemanusian yang dilakukan oleh pimpinan tertinggimu di Negara ini.  Ingat, Presiden hanya lima tahun memimpin tapi rakyat berada selamanya di atas tanah mereka maka hormatilah “Suara Rakyatmu” karena tanpa Rakyat tidak ada TNI dan POLRI, tetapi TNI-POLRI tidak ada Rakyat tetap hidup, ingat  baik bagi para TNI-POLRI yang bertugas di Papua Selatan. Saya tidak melihat bahwa tanpa Kelapa Sawit Manusia Asli  Papua Selatan akan mati tetapi dengan adanya Kelapa Sawit Manusia Papua Selatan pasti Mati.

Mengapa begitu, karena hidup Manusia Papua Selatan dan Papua pada umumnya tidak bergantung pada Kelapa Sawit. “Akhirnya saya berharap kepada Pemerintah Pusat-Propinsi-Kabupaten  dan pimpinan Gereja Katolik Papua Selatan supaya buka hati dan telinga untuk mendengarkan jeritan, tangisan air mata dari  Manusia Asli Papua Selatan.” Salam RD. Izaak Bame (*/red)

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini