24.7 C
Sorong
Beranda Nasional Perayaan Misi Katolik 132 Tahun: Fakfak Dikenal ‘Tanah Awal Misi Katolik di...

Perayaan Misi Katolik 132 Tahun: Fakfak Dikenal ‘Tanah Awal Misi Katolik di Papua’

56
Perayaan Misi Katolik 132 Tahun: Fakfak Dikenal 'Tanah Awal Misi Katolik di Papua'
- Iklan Berita 1 -

Perayaan Misi Katolik 132 Tahun: Fakfak dikenal Sebagai Tanah Awal Misi Katolik di Papua

(Penyuluh Agama Katolik : Laurent Reresi)

FAKFAK-PBD, Monitorpapua.com.- Misi Katolik 132 Tahun berawal dari Kabupaten Fakfak dikenal sebagai ‘Tanah Awal Misi Katolik di Papua’. Perayaan Misi Katolik di Tanah Papua ke-132 Tahun berpusat di Kabupaten Fakfak berlangsung sakral dan sarat makna sejarah. Rangkaian kegiatan napak tilas diawali prosesi mengantar Arca Bunda Maria dari Gereja Katolik Santo Yosep Fakfak menuju Gereja Stasi Santo Petrus Torea sejak Kamis (21/5/2026).

Sesuai catatan sejarah, Masuknya Misi Katolik di Tanah Papua ke-132 Tahun berawal dari kedatangan Pastor Cornelis Johann Le Cocq d’Armandville SJ dari Serikat Yesus tiba di Fakfak pada tahun 1894. Kemudian pada 22 Mei 1894 Pembaptisan pertama dilakukan di Kampung Sekru, Fakfak. Tanggal ini jadi tonggak awal Gereja Katolik di Papua. Misi ini bukan cuma pewartaan Injil, tapi juga membuka jalan pendidikan modern di Papua.

Prosesi Arca Bunda Maria diarak menuju Kampung Sekru, salah satu lokasi bersejarah perjalanan awal penyebaran iman Katolik di Papua.
Prosesi Arca Bunda Maria diarak menuju Kampung Sekru, salah satu lokasi bersejarah perjalanan awal penyebaran iman Katolik di Papua.

Dalam catatan sejarah, Pastor Le Cocq d’Armandville diterima masyarakat Muslim dan diizinkan tinggal sementara oleh keluarga Kapitan yang saat itu telah memeluk agama Islam. Dari tempat tersebut kemudian dimulai karya misi Katolik di Tanah Papua, termasuk pembaptisan pertama terhadap 73 anak. Oleh sebab itu, Fakfak sering disebut “Tanah Awal Misi Katolik Papua”. Rumah Kapitan Kampung Sekru memiliki nilai sejarah penting karena menjadi tempat pertama Cornelis Johannes Le Cocq d’Armandville singgah saat tiba di Tanah Papua.

Perkembangan selanjutnya, era kolonial Belanda, Misi Katolik dan Protestan berjalan berdampingan, fokus ke pendidikan, kesehatan, dan pembinaan iman. Pasca 1960-an: Gereja lokal mulai mandiri.

Fakfak masuk wilayah Keuskupan Manokwari-Sorong untuk Katolik. Sekarang Fakfak menjadi pusat refleksi sejarah 132 tahun misi Katolik di Papua. Singkatnya Injil Katolik masuk Fakfak tahun 1894 lewat Imam Yesuit, dimulai dengan baptisan di Sekru. Itu menjadi awal resmi misi Katolik di Papua. Dan sampai sekarang umat Katolik Fakfak masih berharap Serikat Yesus kembali melayani di sana.

Kini, perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang dipusatkan di Kabupaten Fakfak berlangsung penuh khidmat dan sarat makna sejarah. Ratusan umat Katolik dari perbagai paroki mengikuti iring-iringan arca sambil melantunkan doa Rosario sepanjang perjalanan. Sebelum menuju ke Torea, umat dari semua Paroki berkumpul dan berdoa bersama di Paroki Santo Yosep Fakfak tempat Arca Bunda Maria disemayamkan beberapa hari sebagai simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang pewartaan Injil di Papua.

Menuju Kampung Sekru

Prosesi awal dilaksanakan di tempat ini mengingat pertama kali sejarah masuknya misi Katolik dan berkembangnya Gereja Katolik di Tanah Papua sejak 132 tahun silam. Selanjutnya, Prosesi Arca Bunda Maria diarak menuju Kampung Sekru, salah satu lokasi bersejarah perjalanan awal penyebaran iman Katolik di Papua. sesuai agenda panitia, pada Jumat (22/5/2026), Di kampung ini, dilaksanakan prosesi adat, doa Rosario bersama, serta ibadah umat sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah pewartaan Injil di Tanah Papua. Kemudian Kampung Raduria menjadi salah satu titik penting sejarah misi Katolik karena menjadi lokasi persinggahan kedua Pastor Le Cocq d’Armandville setelah tiba dari Sekru.

Prosesi Adat dihadiri Uskup Bernardus Bofitwos Baru, OSA

Prosesi adat dan harmoni lintas agama dilaksanakan keluarga besar umat Islam Kampung Sekru sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan dalam menyambut perayaan iman umat Katolik di Tanah Papua.Rangkaian kegiatan pada 22 Mei dimulai sejak pukul 06.00 WIT di Rumah Kapitan, Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak

Kegiatan tersebut dihadiri Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA para imam dari perwakilan lima keuskupan di Regio Papua, Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong Pastor Izaak Bame, para pastor se-TPW Fakfak, tokoh agama, tokoh adat, panitia HUT 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua, keluarga besar umat Islam Kampung Sekru, serta umat Katolik dari Kampung Torea.

Di kampung ini, dilaksanakan prosesi adat, doa Rosario bersama, serta ibadah umat sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah pewartaan Injil di Tanah Papua
Di kampung ini, dilaksanakan prosesi adat, doa Rosario bersama, serta ibadah umat sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah pewartaan Injil di Tanah Papua

Prosesi adat yang dilanjutkan dengan minum kopi bersama di Rumah Kapitan menjadi simbol kuat silaturahmi dan persaudaraan lintas agama yang terus dijaga masyarakat Fakfak karena menjadi tempat pertama Cornelis Johannes Le Cocq d’Armandville singgah saat tiba di Tanah Papua..

Warga Muslim dan umat Katolik berjalan berdampingan mengikuti seluruh rangkaian prosesi dalam semangat filosofi hidup masyarakat Fakfak, ‘Satu Tungku Tiga Batu’.

Uskup Menyerahkan Rosario

Usai prosesi adat, para remaja masjid dan tokoh umat Islam Kampung Sekru mengantarkan Mgr. Bernardus Bofitwos Baru bersama rombongan melalui jalur laut menuju lokasi bersejarah tempat Pastor Le Cocq d’Armandville pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Papua. Suasana toleransi dan kebersamaan tampak kuat sejak awal kegiatan.

Setibanya di lokasi rombongan disambut umat Katolik yang telah menunggu di pesisir Kampung Sekru. Prosesi penyerahan rosario oleh uskup kepada masyarakat Kampung Torea yang diyakini merupakan bagian dari keturunan 73 orang pertama yang dibaptis oleh Pastor Le Cocq d’Armandville.

Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama di lokasi injak pertama pastor tersebut di Tanah Papua. Kemudian, arak-arakan Rally Rosario Arca Bunda Maria sekaligus napak tilas 132 Tahun Misi Katolik dimulai dari Kampung Sekru menuju Kampung Raduria melalui jalur darat pukul 08.00 WIT. Ribuan umat mengikuti perarakan dengan penuh doa dan penghormatan. Menariknya, kegiatan tersebut juga dihadiri umat Muslim Kampung Sekru yang sejak pagi berkumpul di pesisir kampung untuk menyambut rombongan peserta napak tilas. Anak-anak, remaja masjid, ibu-ibu, hingga para tua-tua adat Muslim tampak berjalan bersama umat Katolik dalam suasana penuh rasa hormat dan kekeluargaan.

Warga Muslim dan umat Katolik berjalan berdampingan mengikuti seluruh rangkaian prosesi
Warga Muslim dan umat Katolik berjalan berdampingan mengikuti seluruh rangkaian prosesi

Bagi masyarakat Muslim Kampung Sekru, sosok Bunda Maria atau Sayyidah Maryam merupakan figur suci yang dihormati dalam ajaran Islam.

“Beliau dihormati karena kesucian, ketaatan beribadah, serta mukjizat luar biasa dari Allah SWT saat melahirkan Nabi Isa AS tanpa pernah disentuh laki-laki,” ujar Saida, salah seorang warga Kampung Sekru.

Pulau Bonyom Jadi Situs Wisata Rohani

Perjalanan napak tilas dan Rally Rosario menuju Kampung Raduria. Arca Bunda Maria ditahtakan sejenak untuk pelaksanaan prosesi adat dan doa bersama di salah satu rumah bersejarah diyakini menjadi tempat tinggal Pastor Le Cocq d’Armandville.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pastor Le Cocq d’Armandville sempat meninggalkan Fakfak dan mengunjungi Bomfia di Seram, Kasegui, hingga Langgur di Kepulauan Kei. Setelah kembali ke Fakfak, ia bermalam di Kampung Raduria sebelum melanjutkan karya misi hingga membuka pos misi kedua di Pulau Bonyom.

Setelah prosesi di Raduria Rally Rosario dan napak tilas dilanjutkan melalui jalur laut menuju Pulau Bonyom. Ribuan umat, para pastor, suster, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama mengikuti perjalanan tersebut dengan penuh khidmat.

Pulau Bonyom merupakan salah satu situs penting sejarah misi Katolik di Tanah Papua karena masih menyimpan peninggalan sumur tua yang diyakini dibuat pada masa Pastor Le Cocq d’Armandville. Saat ini, pulau tersebut tengah dipersiapkan sebagai kawasan wisata religius dan rohani.

Tiba di Pulau Bonyom, Arca Bunda Maria ditempatkan di Goa Maria sebagai bagian dari situs religi dan sejarah misi Katolik di Tanah Papua

Prosesi penempatan Arca Bunda Maria dipimpin  Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., didampingi Pastor Izaak Bame, para pastor tamu, pastor paroki se-TPW Fakfak, para suster, serta ribuan umat yang memadati kawasan Pulau Bonyom.

Momentum tersebut menjadi gambaran nyata harmonisasi kehidupan beragama di Kabupaten Fakfak, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya terus menjaga persatuan, toleransi, dan warisan persaudaraan yang hidup turun-temurun di Tanah Papua.

Ketua Panitia HUT ke-132 Misi Katolik di Tanah Papua, Fredikus Warpopor, mengatakan perjalanan napak tilas tahun ini dirangkaikan dengan mengantar Arca Bunda Maria menuju Pulau Bonyom untuk ditahtakan.

Menurutnya, arca tersebut memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Katolik karena melambangkan perlindungan, pengharapan, dan persatuan umat dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik di Papua.

Para tua-tua adat Muslim tampak berjalan bersama umat Katolik dalam suasana penuh rasa hormat dan kekeluargaan.
Para tua-tua adat Muslim tampak berjalan bersama umat Katolik dalam suasana penuh rasa hormat dan kekeluargaan.

“Arca itu akan ditahtakan di Pulau Bonyom sebagai bagian dari perjalanan napak tilas 132 tahun misi Katolik di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, arca berbahan batu utuh dengan berat sekitar 500 kilogram itu dibawa secara estafet melalui jalur darat oleh lima paroki di Kabupaten Fakfak hingga tiba di Kampung Raduria.

“Semua umat sudah dibagi tugasnya. Lima paroki mengarak arca secara bergantian sambil mendaraskan doa Rosario sampai tiba di Raduria,”kata Ketua Panitia. (*/pelbagai sumber)

 

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini