

SORONG, Monitorpapua.com.- Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sorong, Muhudar Wailegi melakukan launching gerakan penanaman 1 juta pohon Matoa di lokasi Pondok Pesantren (PPTQ) Fahd Al Muslim, Km 15 Kota Sorong, menyambut Hari Bumi International yang jatuh pada 22 April 2025. Launcing gerakan ini berdasarkan Surat Edaran Sekjen Kemenag Nomor 182 Tahun 2025 tentang Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa. Surat Edaran tentang Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon Matoa diterbitkan dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut.
Pertama dalam rangka mendukung pelestarian hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan melaksanakan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden ke-8, yaitu memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam. dan budaya, serta peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, Menteri Agama menggagas program ekoteologi sebagai salah satu dari Asta Program Prioritas Menteri Agama Tahun 2025-2029.

Kedua Pelaksanaan program ekoteologi salah satunya dilakukan dalam bentuk Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama, menciptakan lingkungan hidup yang lebih hijau, dan menginspirasi umat beragama untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Gerakan ini melibatkan Pemerintah Kota Sorong, TNI-Polri, satuan kerja Kemenag Kota Sorong, termasuk Kantor Urusan Agama (KUA), lembaga pendidikan keagamaan, serta rumah-rumah ibadah. Ini sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperingati Hari Bumi. Program ini merupakan bagian dari gerakan nasional penanaman pohon matoa yang digagas Kementerian Agama Republik Indonesia secara serentak di seluruh Indonesia.

Dalam sambutan, Kepala Kantor Kemenag Kota Sorong, mengatakan pohon matoa dipilih bukan tanpa alasan. Matoa merupakan pohon buah yang cocok di lingkungan Papua menjadi ciri khas tanaman Papua. Selain menghasilkan buah, pohon ini juga mampu menyerap karbondioksida dan merubahnya menjadi oksigen. Tujuannya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengenalkan kembali tanaman khas Papua yakni phon matoa. Kementerian Agama menginisiasi gerakan penanaman sejuta pohon Matoa sebagai implementasi dari program prioritas penguatan ekoteologi. Pada tahap awal, penanaman ini digelar serentak di seluruh provinsi dan dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Walikota Sorong Septinus Lobat dalam sambutanya yang diwakili Staf Ahli Waliktoa Sorong Amos Kareth, menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hutan Papua untuk keberlangsungan generasi mendatang. Mari kita jaga hutan maka hutan akan menjaga kita. Kita juga menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya, karena kini Kota Sorong mendapat julukan kota terkotor kelima seluruh Indonesia.

“Mari serentak melakukan gerakan penanaman pohon. Hari ini dipusatkan di Pondok Pesantren Fahd Al Muslim Kota Sorong secara serentak dilakukan Walikota Sorong yang diwakili Staf Ahli, Kepala Kantor Kemenag, Ketua MUI, Kapolresta atau yang mewakili, Komandan Pasmar 3, Tokoh Lintas Agama, Dharma Wanita, Kepala KPPN atau yang mewakili, ASN Kementerian Agama Kota Sorong dan semua tamu undangan lainya.
“Gerakan penanaman satu juta pohon Matoa merupakan wujud nyata komitmen Kemenag dalam mengimplementasikan ekoteologi. Sebuah paradigma yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pelestarian lingkungan,” ucap Staf Ahli Pemkot Sorong
Menurut Staf Ahli Pemkot Sorong Amos Kareth Matoa berasal dari Papua. Pohon Matoa dipilih karena nilai ekologis, ekonomis, dan simbolisnya sebagai representasi keberagamaan hayati Indonesia.

Untuk melaksanakan gerakan ini, lanjut Amos Kareth Kemenag telah menyiapkan rencana aksi nasional yang melibatkan seluruh unit kerja Kemenag. Proses penanaman pohon Matoa ini dilakukan di rumah ibadah, kantor Kemenag, madrasah, pesantren, kampus Perguruan Tinggi Keagamaan, hingga asrama haji didukung oleh Pemerintah Kota Sorong.
Pada saat penanaman pohon, Kepala Kemenag, Muhudar Wailegi mengatakan Kemenag juga menjalin kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan keagamaan dan komunitas masyarakat untuk melakukan penanaman amanah Allah. Semoga pohon matoa yang kita tanam hari ini memberikan kesejukan, kehidupan dan berbuah melimpah untuk kehidupan generasi berikutnya,” Doa Muhudar Wailegi sembari menanam pohon matoa. (Laurent Reresi)










