Sebanyak 50 Peserta OMK Salib Suci Belajar dan Praktek MC

0
27
- Iklan Berita 1 -

SORONG, Monitorpapua.com – Sebanyak 50 peserta Orang Muda Katolik Salib Suci, Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Kota Sorong mengikuti kegiatan pelatihan menjadi Master of Ceremony (MC). Kegiatan ini berlangsung dirancang Pembina OMK, Ita Retob, Ketua OMK, Alex Mitan dan Wakil Ketua OMK Christel Senewe, berlangsung di Aula Paroki Santo Yohanes Paulus II, Minggu 1 Mei-2 Mei 2022.

Pemateri Utama Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Perwakilan Wilayah Papua Barat, Laurentius Reresi, S.S., M.M., didampingi Pastor Paroki RD. Izaak Bame

Hadir dalam pelatihan itu Orang Muda Katolik (OMK) Salib Suci dan OMK Stasi Santa Yosefa Klagana Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 1 Mei 2022, pukul 18.00 wit

Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Wilayah Papua Barat, Laurentius Reresi, S.S., M.M., memberikan materi dasar menjadi MC kepada 50 peserta dengan latar belakang pendidikan berbeda.

Dalam kagiatan itu, Laurentius Reresi yang adalah Dosen di dua Perguruan Tinggi Swasta itu memberikan beberapa catatan penting sebagai syara menjadi MC seperti, komunikatif, ekspresi suara, kreatif, luwes, percaya diri, memiliki kemampuan bahasa (bahasa Indonesia maupun bahasa asing), golden voice, luwes, teknik vokal, memiliki jiwa humoris.

“Kami sudah melatih 50 peserta dengan teori dan ptaktek menampilkan beberapa syarat menjadi MC. Sebagian peserta OMK yang sudah praktek, memiliki teknik vokal, penampilan yang menarik, kepribadian yang menyenangkan dan rasa percaya diri.

“Awal praktek, para peserta cemas, kami memberikan tips atau metode dasar yang bisa membuat peserta semakin percaya diri,” jelas Laurent Reresi yang mempraktekkan menjadi MC yang baik,” terang Ketua IWO PW Papua Barat.

Kegiatan berlangsung dua hari menghadirkan pemateri Ketua IWO PW Papua Barat, Laurentius Reresi, S.S., M.M., dan RD. Izaak Bame untuk pendalaman iman Katolik.

Selanjutnya kata Pemateri Ketua IWO PW Papua Barat, sewaktu memberikan materi menjadi MC yang baik perlu mengetahui tiga syarat penting memilah mana kegiatan Formal, Non Formal dan Semi Formal.

Laurentius menjelaskan, MC Formal harus mematuhi aturan baku terkait protokoler, harus patui aturan oleh penyelenggara, termasuk hadirin dan undangan. Tentu ditandai dengan susunan acara yang pasti, bahasa resmi atau baku serta berpakaian yang sesuai kode etiknya. Misalnya, upacara kenegaraan, upacara bendera, pelantikan, upacara adat, seminar, simposium, diskusi panel dan lainnya.

Sedangkan Non Formal, kata Pemateri, tidak ada keprotokolan, dibutuhkan MC yang pandai berimprovisasi, menarik perhatian, gembira dan terkesan publik. Misalnya ulangtahun, konser musik, pameran, fashion show, pentas seni dan lainnya.

Untuk MC Semi Formal, perlu diingat kata Laurent, acara tidak resmi namun penggunaan bahasa Indonesia yang baik, sopan, etika berbicara harus dipatuhi. Misalnya seminar, workshop, simposium, sarasehan, lokakarya, diskusi panel. Jika diadakan oleh pemerintah maka perlu penerapan protokol misalnya, tempat duduk dan menyanyikan lagu Indonesia Raya,” jelasnya.

Akhir kegiatan, semua peserta mempraktekkan teori dasar seperti Salam Pembuka, Isi dan Penutup acara Formal, Non Formal dan Semi Formal.

OMK harus tahu urutan acara seperti Salam Pembuka, Isi (Susunan Acara) dan Penutup. (Sartika Siska Gurning/Kevin Reresi).

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.