Seruan Moral Demi Keadilan dan Kebenaran Oleh Pastor Katolik Se-Tanah Papua

0
380
- Iklan Berita 1 -

JUMPA PERS

SERUAN MORAL DEMI KEADILAN DAN KEBENARAN OLEH PARA PASTOR KATOLIK SETANAH PAPUA

“KEKERASAN MELAHIRKAN MASALAH BARU DIALOG DAN REKONSILIASI CARA BERMARTABAT MENYELESAIKAN KONFLIK DI TANAH PAPUA”

1. PENGANTAR
Papua, Tanah dan Manusia terberkati. Pada tanggal 5 Februari 1855, Misionaris Carl Willem Ottow dan Johan Gottlob Geissler menginjakkan kaki di pulau Mansinam – Manokwari. Taburan tifa Perubahan dan Peradaban Baru pun bergema di pesisir pantai, di
lereng-lereng gunung, di lembah-lembah, dan di rimba raya seluruh pelosok tanah Papua.
Pada rentang waktu selanjutnya, para Misionaris Protestan dan Katolik hadir menyapa Orang Papua. Mereka MEWARTAKAN INJIL KERAJAAN ALLAH. Orang Papua MENERIMA INJIL dan DIBAPTIS MENJADI ANAK-ANAK ALLAH sekaligus MENJADI
WARGA GEREJA KRISTUS, baik Katolik maupun Protestan. Yesus, Injil, dan Gereja. Ketiganya menyatu dalam hidup orang Papua. Kebiasaan perang di antara suku-suku di Papua lambat laun berganti Persaudaraan erat. Demikian halnya, tradisi pengayauan pun berhenti. Orang Papua hidup damai sebagai Saudara.

Para Misionaris membawa Orang Papua kepada Budaya Kehidupan. Budaya Hidup Damai dan Bersaudara di dalam kesatuan sebagai anak-anak Allah. Bahwa di dalam nama Tuhan Yesus, Putera Allah, ada kehidupan kekal. Suatu kehidupan yang damai, sejahtera,
bahagia dan berumur panjang. TETAPI, BAGAIMANA DENGAN SAAT INI? SITUASI PAPUA SUDAH SANGAT BERUBAH DAN BERBEDA. Kita tentu ingat ada kalimat bijak dari Prof. JE Sahetapy dalam ILC pada tanggal 22 April 2012. Berdasarkan pepatah Belanda: “Al
is de leugen nog zo snel, de waarheid acherhaalt haar wel”, ia berkata: ”MESKIPUN KEBOHONGAN ITU LARI SECEPAT KILAT, SATU WAKTU KEBENARAN ITU AKAN
MENGALAHKANNYA”.

2. LATAR BELAKANG SERUAN:
 USKUP INDONESIA BERTEMU MAHFUD MD, MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLHUKAM, POLHUKAM, MAHFUD M.D., MEMBAHAS KEKERASAN DI TANAH PAPUA, PADA TANGGAL 03 NOVEMBER 2020

Menyusul Pembunuhan Pewarta Rufinus Tigau, seorang Katekis Katolik di Kabupaten Intan Jaya-Papua, maka para Pemimpin Gereja Katolik bertemu dengan Pejabat keamanan tertinggi Indonesia guna mendesak Pemerintah meredakan ketengangan melalui dialog.
Pertemuan itu berlangsung di kediaman Mahfud MD dengan tujuan membahas berbagai permasalahan yang melanda Propinsi paling timur Indonesia yang terus bergolak.

Hadir dalam pertemuan itu Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM dan Uskup Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC yang waktu itu adalah Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, bersama dengan Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Uskup Mandagi waktu itu mengatakan kepada UCA News, bahwa pertemuan selama satu jam itu dimaksudkan untuk membahas ”BERBAGAI MASALAH DI TANAH PAPUA, TERUTAMA MASALAH KEKERASAN”
Uskup Indonesia PRIHATIN DENGAN SITUASI TERSEBUT.

Dia mengatakan tidak ada kasus khusus yang dibahas dalam pertemuan itu. Sebaliknya, pembicaraan DIFOKUSKAN PADA PENDERITAAN YANG DITIMBULKAN OLEH KEKERASAN, BAIK PADA WARGA SIPIL SETEMPAT MAUPUN PADA PASUKAN KEAMANAN.

Dikatakan lebih lanjut bahwa ”Orang Papua itu Orang baik. Jangan ada orang, termasuk Militer, Polisi dan Petugas Gereja YANG MEMANDANG RENDAH MEREKA. INTERVENSI MILITER hanya memperburuk ketegangan. Akhirnya, HARAPAN KAMI ADALAH SEGERA MENGHENTIKAN KEKERASAN DI TANAH PAPUA” (lih. Jubi.co.id, 03 November 2020, Editor Dewi Wulandari).

 APA YANG TERJADI SETELAH PERTEMUAAN ITU? PADA JUMAT 06 NOVEMBER 2020, TNI/POLRI TETAP LANJUTKAN OPERASI DI SUGAPA-INTAN JAYA-PAPUA
Jajaran Komando Pertahanan (Kogabwilhan) III memastikan pasukan TNI dan POLRI TETAP MENLANJUTKAN OPERASI PENEGAKAN HUKUM TERHADAP KELOMPOK KRIMINAL BERSENJATA DI SUGAPA – INTAN JAYA – PAPUA. Mereka mengatakan: Kami tidak akan dihentikan pasca tewasnya satu prajurut TNI atas nama Pratu Firdaus Kurniawan yang ditembak oleh KKSB pada Jumat 6 November 2020 (lih. Sumber Koran Papua.com).

3. KAMI COBA MENCATAT SEJUMLAH PERISTIWA KEMANUSIAAN YANG TERJADI TERHADAP
MASYARAKAT SIPIL (ORANG ASLI PAPUA MAUPUN NON PAPUA) DI TANAH PAPUA SELAMA DUA TAHUN (2018 -2020):

 PENEMBAKAN TERHADAP KARYAWAN PT. ISTAKA KARYA PADA TANGGAL 02 DESEMBER 2018. TERJADI JUGA OPERASI MILITER DI NDUGA YANG
MENGAKIBATKAN PENGUNGSIAN MASYARAKAT SECARA BESAR-BESARAN (lih. Suara Papua Com. Menyuarakan kaum tak bersuara, 23 Juli 2020)

 UJARAN RASISME: MENYEBUT MAHASISWA PAPUA “MONYET”. Pada tanggal 15 Agustus 2019 – dua hari menjelang hari kemerdekaan RI – para mahasiswa menggelar aksi demo memperingati Perjanjian New York (15 Agustus 1962) antara Belanda dan Indonesia. Aksi demo itu diinisiasi oleh AMP dan FRI-WP di beberapa kota.

Namun kota Surabaya dan Malang menjadi sorotan utama, karena telah terjadi ujaran kebencian bernada rasisme terhadap mahasiswa Papua. Peristiwa itu telah memicu gelombang protes dan unjuk rasa di mana-mana yang tidak sedikit menimbulkan korban dan kerugian materi (lih. Memoria
Passionis no. 33 Tuntutan Martabat, Orang asli Papua dihukum, Theo van den Broek)

 PENEMBAKAN TERHADAP TOKOH-TOKOH AGAMA OLEH OKNUM APARAT KEAMANAN DARI TIM GABUNGAN TNI-POLRI

 Korban Pendeta YEREMIA ZANAMBANI. Kisah paling tragis terjadi pada Sabtu 19 September 2020. Sore menjelang malam, pada pukul 17.40 WIT. Pendeta Yeremias Zanambani ditembak oleh oknum Militer Indonesia di kampung Hitadipa, Intan Jaya (Sumber Jubi.co id. CNN Indonesia. Editor Edi Faisaol).

 Korban Pewarta muda Gereja Katolik, AGUSTINUS DUWITAU (23 thn). Dia ditembak pada tanggal 07 Oktober 2020 oleh Anggota TNI non Organik dari satuan YONIF
RAIDER 400/BRAWIJAYA (lih. sumber SUARA PAPUA, com. 8 Oktober 2020, Penulis Arnol Belau)

 Korban Pewarta muda Gereja Katolik, RUFINUS TIGAU Di Kampung Jalai Distrik Sugapa-Intan Jaya. Ia ditembak oleh pasukan gabungan TNI-POLRI pada hari Senin tanggal 26 Oktober 2020, tepat pukul 05.00 WIT. Tim Gabungan masuk ke kampung Jalai dan mulai melakukan penyisiran dan penembakan.

 Korban Pelajar SMU Negeri I Ilaga: ATANIUS MURIB (17 thn) dan MALUK MURIB (17 thn). Mereka ditembak pada tanggal 21 November 2020. Setelah mendengar pengumuman
libur, mereka berdua hendak berlibur ke kampung halaman di Distrik Agandugume, tetapi di tengah jalan, mereka dihadang dan ditembak (lih. detik news, sabtu 21 Nov 2020, oleh rfs).

 PEMBUNGKAMAN DAN PENANGKAPAN

 PEMBUNGKAMAN RUANG BERDEMOKRASI

MAHASISWA/MASYARAKAT OLEH TIM GABUNGAN TNI/POLRI. Pada hari selasa 27 Oktober 2020 di kota Jayapura terjadi penangkapan hingga penembakan oleh aparat gabungan
TNI/POLRI terhadap Mahasiswa yang mengikuti Demo Damai penolakan OTSUS Jilid II. (lih. Jubi.co.id. Portal berita Tanah Papua No 1. Editor, Syam Terrajana).

 PENANGKAPAN ANGGOTA MAJELIS RAKYAT PAPUA (MRP) SEBAGAI CERMIN PEMBUNGKAMAN TERHADAP ORANG ASLI PAPUA. Padahal MRP merupakan Lembaga resmi Negara yang ditegaskan di dalam Pasal 5 UU No 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua dan kemudian diatur lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah No 54/2004 tentang MRP (lih. Law Jutice, Portal Berita dan Investigasi, Jumat 20 11 2020. Editor, Ade
Irmansyah).

4. KAMI MENCATAT JUGA BEBERAPA PERYATAAN YANG SANGAT MERESAHKAN HATI KAMI INI, YANG SELALU HIDUP DAMAI BERSAMA UMAT TUHAN DI TANAH PAPUA:

 Pada Rabu 21 Oktober 2020 pkl. 18.40, media Pantau.com memberitakan bahwa Menteri Koordinatar Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menpolhukam) Mahfud DM merekomendasikan agar aparat pertahanan dan keamanan MENGISI DAERAHDAERAH KOSONG DEMI PENGAMANAN. Hal itu diungkapkannya setelah menerima hasil laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya di kantor Kemenkopolhukam di
Jakarta.

 Pada tanggal 21 Oktober 2020 (yang diperbaharui pada tanggal 22 Oktober 2020), berita BBC News/Indonesia menyatakan bahwa Menpolhukam juga merekomendasikan penambahan Pasukan di Papua setelah menyatakan laporan TGFT menunjukkan bahwa
ada “dugaan keterlibatan oknum aparat” dalam pembunuhan Pendeta Yeremias Zanambani di Hitadipa-Intan Jaya.

 Pada Kamis 29 Oktober 2020 pkl. 14.24 Wib, Bayu Adi Wicaksono dalam media Viva Co.id, memberitakan bahwa ternyata TNI telah menyiapkan satu Batalyon Pasukan Tempur
Infanteri 122 Tombak Sakti untuk terbang ke Papua. Batalyon yang disiapkan berasal dari Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak 450 pasukan disiapkan untuk melaksanakan operasi satuan tugas pengamanan Perbatasan RI-PNG.

5. DASAR KETERPANGGILAN KAMI (PARA PASTOR SETANAH PAPUA) UNTUK BERSUARA PADA HARI INI, HARI HAK ASASI MANUSIA SEDUNIA, YAKNI DEMI KESELAMATAN UMAT TUHAN YANG KAMI LAYANI DI TANAH PAPUA

 Kami para Pastor, bertugas di kota-kota dan di kampung-kampung di seluruh Tanah Papua, dari Sorong sampai dengan Samarai. Kami sangat dekat dan selalu bersama Umat Tuhan, sehingga SUKA-

DUKA mereka adalah juga SUKA DUKA kami. HARAPAN & KECEMASAN mereka sekaligus juga menjadi HARAPAN & KECEMASAN kami (bdk. GS no. 1).

 Faktor kedekatan itu, membuat kami selalu melihat fakta-fakta dan mendengar sendiri apa yang terjadi dengan Umat Tuhan di lapangan. Kami mendengar apa yang mereka bicarakan secara jujur, dan selama ini kami merekam semua kondisi riil itu dengan baik.

 Setelah berunding bersama, maka kami, para Pastor sepakat untuk membuat seruan bersama pada hari ini, tanggal 10 Desember 2020 yang bertepatan dengan HARI HAM SEDUNIA. Kami merasa terpanggil untuk MENJADI CORONG UNTUK MENYUARAKAN HATI NURANI UMAT YANG DIPERCAYAKAN TUHAN DALAM MISI PENGGEMBALAAN KAMI DI SELURUH TANAH PAPUA.

6. KAMI MENYUARAKAN RINTIHAN HATI NURANI IBU-IBU HAMIL DAN YANG SEDANG MENYUSUI, ANAK-ANAK KECIL, ORANG TUA DAN ANAK MUDA, ORANG-ORANG
YANG SAKIT, YANG BUTA, YANG TULI DAN YANG LUMPUH, SEMUA YANG TAK BERDAYA. MEREKA SEMUA YANG KINI HIDUP DALAM KECEMASAN DAN KETAKUTAN DI SELURUH TANAH PAPUA, TERUTAMA DI KAMPUNG-KAMPUNG PEDALAMAN

 Seruan kami yang PERTAMA, ditujukan kepada kedua kubu yang bertikai, yakni kubu TNI/POLRI dan kubu TPN OPM. Kami memohon agar kedua belah pihak yang adalah Manusia bermartabat, segera hentikan kekerasan bersenjata dan membuka ruang hati untuk berunding dalam dialog bermartabat yang dapat dimediasi oleh Negara atau Kelompok Netral dan independen. Sebab kekerasan tidak pernah akan menyelesaikan permasalahan di Tanah Papua; malahan akan menambah sejuta kesengsaraan dan masalah baru. Kekerasan akan melahirkan dendam dan kekerasan baru yang membunuh kehidupan. Sadarlah bahwa “keselamatan nyawa manusia tidak berada di ujung laras senjata” saudara sekalian.

 Seruan kami yang KEDUA, ditujukan kepada BAPAK PRESIDEN REBUBLIK INDONESIA sebagai Panglima Tertinggi, supaya segera menggelar pertemuan dengan KAPOLRI & PANGLIMA TNI untuk mengevaluasi dampak dari penambahan pasukan ke Tanah
Papua. Dan secepatnya menarik kembali semua pasukan non organik gabungan TNI/POLRI dari seluruh Tanah Papua.

 Seruan kami yang KETIGA, ditujukan kepada MRP DAN DPRP PAPUA – PAPUA BARAT supaya segera menetapkan regulasiregulasi yang lebih memihak kepada Orang Asli Papua (OAP). Menurut kami, perumusan regulasi-regulasi yang kontekstual dan bernilai keberpihakan, adalah langkah yang sangat bermartabat dalam menghargai dan menyelamatkan OAP yang sedang menuju ambang kepunahan.

 Seruan kami yang KEEMPAT, ditujukan kepada BAPAK GUBERNUR PAPUA, Lukas Enembe. Kami mendukung penyataan Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen E. Kuayo Pr, tertanggal 11 Oktober 2020 yang meminta agar Bapak Gubernur
mencabut Rekomendasi WIUPK Blok Wabu di Intan Jaya, jika benar bahwa Bapak Gubernur  apua yang merekomendasikannya. Sebab Blok Wabu merupakan penyebab konflik, pengungsian masyarakat lokal dan korban jiwa.

 Seruan kami yang KELIMA, ditujukan kepada KETUA KONFERENSI WALI GEREJA INDONESIA (KWI), Bapak Ignatius Kardinal Suharyo dan segenap anggota KWI. Kami, para Pastor Papua ingin bertanya: Mengapa Bapak-bapak Pimpinan Gereja Katolik Indonesia tidak membahas secara holistic, serius dan tuntas mengenai konflik terlama di Tanah Papua dalam rapat tahunan KWI?

Ada apa dengan Tanah Papua ini? Sekali lagi kami berharap, merindukan, dan memohon, agar Bapak Kardinal dan Para Uskup seIndonesia jangan tinggal diam atau seakan-akan tidak mau tahu dengan kondisi terlukanya rasa kemanusiaan umat Tuhan di Tanah Papua, terutama Ras Melanesia yang sedang menuju ambang kepunahan. Kami merasa heran dan sekaligus tersisih, karena mendengar bahwa KWI begitu cepat menyatakan sikap dan ungkapan dukacita terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi di Lewonu – Lembantongoa – Palolo – Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah, sedangkan duka dan kecemasan serta terbunuhnya manusia Papua terasa luput dari perhatian, perlindungan, dan bela rasa KWI.

 Seruan kami yang KEENAM, ditujukan kepada KONFERENSI EPISKOPAL PAPUA (yang terdiri dari empat Uskup dan satu Administraror Diosesan) juga sekaligus kepada PARA PIMPINAN ORDO/TARIKAT yang berkarya di seluruh Tanah Papua. Kami para Imam se Papua merindukan sikap yang tegas dan penuh keberpihakan terhadap Manusia Papua dan semua orang lain yang di tanah Papaua ini yang terbunuh dan yang sedang terluka nuraninya. Kami merindukan seorang gembala yang berada di tempat yang paling depan untuk bertindak menyelamatkan Umat Tuhan, seperti yang telah ditunjukkan oleh almahrum Uskup Herman M. Munninghoff, OFM dan almarhum Uskup John Philip Saklil, Pr. Mereka telah mengangkat realitas penderitaan hidup umat Tuhan di Tanah Papua ini. Tetapi kini, rasanya seakan-akan semangat perjuangan mereka hilang terkubur bersama jasad mereka yang kaku di dalam liang lahat. Di manakah suara para Pemimpin kami saat ini untuk menyikapi tragedi kemanusiaan di Bumi Cenderawasih ini?

 Seruan kami yang KETUJUH, ditujukan kepada PEMERINTAH INDONESIA dan PARA INVESTOR. Camkanlah bahwa tanah Papua bukanlah tanah kosong dan tak bertuan. Pemilik Tanah Papua adalah Orang Asli Papua yang juga sekaligus adalah ahli warisnya. Tanah ini, sudah dibagi secara jelas kepada pemiliknya, yakni Tujuh Wilayah Adat, masing masing Lapago, Meepago, Ha Anim, Bomberay, Domberay, Sairery dan Mamta.

 Seruan kami yang KEDELAPAN, ditujukan kepada KELOMPOK RAWAN PEMICU KONFLIK HORISONTAL: Nusantara, KNPB, Barisan Merah Putih, Bintang Kejora, Pro NKRI dan Pro Papua Merdeka di seluruh tanah Papua. Kita semua adalah insan yang beriman kepada Tuhan yang Mahaesa dan manusia yang adil dan beradab. Marilah kita menyelesaikan semua masalah di tanah Papua dengan cara-cara yang bermartabat. Camkanlah bahwa ada perbedaan ideologi dan pendapat, tetapi baiklah kita duduk bersama dalam suasana saling menghargai dan menghormati untuk mencari solusi yang tepat demi ketenteraman dan kedamaian di tanah Papua ini.

 Seruan kami yang KESEMBILAN, ditujukan kepada PARA PEMIMPIN PEMERINTAHAN DAERAH DI SELURUH TANAH PAPUA: GUBERNUR, WALI KOTA, DAN BUPATI.

Kami sangat mendukung dan mendoakan saudara dalam memimpin pemerintahan di tanah Papua ini. Saudara adalah titipan Tuhan untuk memimpin semua manusia, warga masyarakat di tanah Papua agar hidup berdampingan secara damai, adil, dan sejahtera. Lihatlah dengan mata iman semua realitas di atas tanah ini! Pimpinlah negeri ini secara independen dan mandiri berdasarkan nurani yang tulus tanpa cacat intervensi dan intimidasi dari siapapun, yang hanya akan merusakkan kestabilan, ketentraman, kedamaian, dan keadilan di atas wilayah pemerintahan yang saudara pimpin. Kami juga meminta perhatian yang khusus untuk pembinaan bagi aparat Pemerintahan setempat dan petugas-petugas lapangan supaya ada dedikasi kepemimpinan dan pengabdian supaya ada semangat pelayanan yang bertanggung jawab, yang tulus, dan ikhlas bagi masyarakat demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat banyak.

 Seruan kami yang KESEPULUH, ditujukan kepada PARA PENGAMBIL KEBIJAKAN MIGRASI. Kepada Pemerintahan Pusat dan Daerah, kami berharap sambil mengingatkan apa yang telah kami katakan di atas, bahwa tanah Papua bukanlah tanah kosong dan tak bertuan. Karena itu, mesti ada kebijakan yang jelas mengenai migrasi. Entah ada upaya pembatasan atau malah dihentikan arus migrasi yang selama ini terjadi secara terstruktur maupun tidak terstruktur ke tanah Papua. Upaya ini harus dibuat untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi relasi yang semakin renggang dan tegang antara pendatang dan OAP. Sekaligus meminimalisir gesekangesekan sosial yang berakibat pada tertekan dan tersingkirnya OAP di atas tanah leluhurnya sendiri.

7. AKHIRNYA
Kami, para Pastor se-Papua sepakat dan dengan tegas menawarkan suatu PENDEKATAN DIALOG. Pendekatan inilah, yang menjadi kebijakan baru dan bermartabat untuk membangun Tanah Papua yang stabil, adil dan damai, serta sejahtera. Sekaligus DENGAN TEGAS MENOLAK DAN MENGUTUK TINDAKAN KEKERASAN DI ATAS TANAH INI.

Dialog yang kami tawarkan adalah DIALOG KOMPREHENSIF yang dapat menyelesaikan konflik terlama di tanah Papua ini. Dialog ini tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan demi menemukan kebenaran-kebenaran nyata yang mengantar semua pihak kepada keadilan dan damai di dalam hidup. Dalam Iman dan Pengharapan, kami sangat yakin, bahwa Dialog tidak akan pernah membunuh, Dialog tidak akan pernah menyakiti, dan Dialog tidak akan pernah menjadikan kita bodoh. Justru ketika kita menggunakan cara-cara yang salah seperti tindakan kekerasan yang tidak berperi kemanusiaan, maka kita akan meninggalkan luka busuk lahir maupun batin. Karena apapun alasannya, setiap kekerasan berupa pembunuhan dan pembantaian, serta pembiaran terhadap manusia ciptaan Tuhan, adalah merupakan salah dan dosa teramat bengis dan kejam.

Kami para Pastor Katolik se-tanah Papua:
Pada hari HAM se-Dunia, Jayapura, 10 Desember 2020, Nama para Pastor Katolik se-Tanah Papua:

  1. Alberto John Bunai, Pr
  2. Paul T. Tangdilintin, OFM
  3. Nico Syukur  Dister, OFM
  4. Alfonsius Biru Kira, Pr
  5. Yohanes E.G. Kayame, Pr
  6. Bernardus Bofitwos Baru, OSA
  7. Paul Tan, Pr
  8. Maryanus Koba Toyo, SVD
  9. Yanuarius M. You, Pr
  10. Adrianus Tuturop, Pr
  11. Vicky Bauntal, Pr
  12. Benyamin S. Magay, Pr
  13. Yosiasi Wakris, Pr
  14. John Kandam, Pr
  15. Izaak Bame, Pr
  16. Yulianus Korain, Pr
  17. Martin Homba-Homba, Pr
  18. Daniel Gobai, Pr
  19. Lukas Sasior, OSA
  20. Athanasius Bame, OSA
  21. Imanuel Air, OSA
  22. Imanuel Tenau, Pr
  23. Jan Pieter Fatem, OSA
  24. Lewi Ibori, OSA
  25. Edy Doga, OFM
  26. Honoratus Pigai, Pr
  27. Aloysius Daby, Pr
  28. Yohanes B. Uttun, Pr
  29. Philipus Sedik, OSA
  30. Yohanes S. Sedik, OSA
  31. Alo Teniwut Sedik, OSA
  32. Maksimilianus Dora, OFM
  33. Petrus Fenyapwain, OFM
  34. Alexius Ate, Pr
  35. Floribertus Yoseph S, Pr
  36. Agustinus Yerwuan, OFM
  37. Cayetanus Tarong, MSC
  38. Hilarius Salmon, Pr
  39. Markus Malar, OSA
  40. Medardus Puji Harsono, Pr
  41. Mecky Mulait, Pr
  42. Fransiskus B. V. L. Maing, Pr
  43. Herry Lobya, OSA
  44. Yanuarius Yelipele, Pr
  45. Fransiskus Hilapok, Pr
  46. H. Ngalumtila Pekey, Pr
  47. Moses Amiset, Pr
  48. Rudolf Renyaan, Pr
  49. Abel Yandum Sanam, Pr
  50. Remigius Seran, OFM
  51. Hubertus Aweekohabi Magay, Pr
  52. Theo Kosi, OFM
  53. Selpius Goo, Pr
  54. Yohanes Klau, Pr
  55. Stefanus Yogi, Pr
  56. Benyamin Keiya, Pr
  57. Felix Janggur ,OSA
  58. Fransiskus Utii, Pr
  59. Nikolaus Wakei, Pr
  60. Aloysius Susilo, Pr
  61. Petrus Lekat Plue, Pr
  62. Alexius Fabianus, Pr
  63. Emanuel Bili, Pr
  64. Adi Bon, Pr
  65. Fredy Sabu, Pr
  66. Matius Syukur, Pr
  67. Jermias Rumlus, Pr
  68. Paulus Trorba, OSA
  69. Ibrani Gwijangge, Pr
  70. Didimus Kosy. OFM
  71. Floridus Nadja, OSA
  72. Adri V. Durenge, OSA
  73. Antonius Tromp, OSA
  74. Benediktus Jehamin, OSA
  75. Hilarius Soro, OSA
  76. Konradus Ngandur, OSA
  77. Yohanes Kota, OSA
  78. Damasus Pantur, OSA
  79. Liborius Nong, OSA
  80. Agustinus Gusti Elmas, Pr
  81. Rufinus EPW Madai, Pr
  82. Jems Kosay, Pr
  83. Yohanes Sudrijanta, SJ
  84. Krispinus Bidi, SVD
  85. Hendrikus Hada, Pr
  86. Paulus Wolor, Pr
  87. Amandus Rahadat, Pr
  88. Damianus Adii, Pr
  89. Yan P. A. Dou, Pr
  90. Agustinus Alua , Pr
  91. Agustinus Tebay, Pr
  92. Lambertus Pati, OSA
  93. Yohanes Batlayeri, Pr
  94. Martinus Mada Werang, OSA
  95. Dominikus Dulione Hodo, Pr
  96. Alexandro Rangga, OFM
  97. Goklian P.H, OFM
  98. Kornelis Basa Kopon, Pr
  99. Barnabas Daryana, Pr
  100. Bartholomeus D. Oyan, Pr
  101. Petrus Hamsi, Pr
  102. Karolus Kune Boruk, Pr
  103. Yermias Lado, OFM
  104. Modestus Teniwut, OFM
  105. Gokmento Sitinjak OFM Cap
  106. Juperdinan Manik, OFM Cap
  107. Yohanes Mangguwop, Pr
  108. Ag. Eko Widiatmono, Pr
  109. Heronimus Lebi, OFM
  110. Ambrosius Sala, OFM
  111. Philipus Elosak, OFM
  112. Bartolomeus Urobmabin, OFM
  113. Lorens Purek, OFM
  114. Yohanes Purnama, OFM
  115. Fransiskus Katino, Pr
  116. Wilibaldus Jampa, OSA
  117. Paulus Jab Ulipi, OSA
  118. Roni Guntur, SVD
  119. Yohanes R. Jempormase, OSA
  120. Ronald Sitanggan, Pr
  121. Yuven Tekege, Pr
  122. Theo Makai, Pr.
  123. Oktovianus Taena, Pr
  124. Yance Yogi, Pr
  125. Sebas T. Maipaiwiyai. Pr
  126. Rinto Dumatubun, Pr
  127. Yohanes Djawa, SVD
  128. Hubertus Henslok, SCJ
  129. Paulus Kusworo, SCJ
  130. Ari Wuardana, SCJ
  131. Jhon Kore, OFM
  132. Damianus Uropmabin, Pr
  133. Yulius D, Pr
  134. Kleopas S. Sondegau, Pr
  135. Agustinus Rumsorin, Pr
  136. Yoseph Ikikitaro, Pr
  137. Herman Yosep Betu, Pr
  138. Yustinus Rahangiar, Pr
  139. Samuel O, Pr
  140. Agustinus Yohanes Setiyono, SJ
  141. Robertus L. Tangdilintin, Pr.
  142. Linus Dumatubun, Pr.
  143. Hendrikus Nahak, OFM
  144. Norbertus B. Renyaan, OFM.
  145. John Djonga, Pr.
  146. Santon Tekege, Pr.
  147. Marten Kuayo, Pr.

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.