Menghormati Tubuh sebagai Bait Roh Kudus:
Tata Cara Persiapan Jenazah dalam Tradisi Katolik
SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Mahasiswa Katolik Program Studi Keperawatan di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Papua Sorong seringkali bertanya bagaimana tata cara persiapan jenazah dalam tradisi Gereja Katolik. Apakah sama dengan semua agama?
Tentu tidak sama, jawab Dosen Pengampu mata kuliah pendidikan Agama Katolik, Laurentius Reresi, S.S., M.M. Dijelaskan, Gereja Katolik tidak memiliki aturan kaku mengenai kain pembungkus (seperti kain kafan putih), melainkan menekankan pada martabat tubuh manusia sebagai “Bait Roh Kudus”.
“Ingatlah tugas saat merawat jenazah pasien (Katolik) adalah menjaga “martabat Bait Roh Kudus”. Kerapian dan kehormatan yang adalah penghiburan luar biasa bagi keluarga yang sedang berduka, sekaligus bentuk nyata kesaksian iman mahasiswa sebagai tenaga kesehatan.

Berikut adalah panduan pengajaran mengenai tata cara Katolik dalam mempersiapkan jenazah.
Dalam iman Katolik, tubuh manusia dipandang sakral karena pernah menjadi tempat bersemayamnya Roh Kudus melalui Sakramen Baptis. Oleh karena itu, perawatan jenazah dilakukan sebagai wujud penghormatan terakhir sebelum tubuh tersebut dikembalikan ke tanah.
1. Prinsip Dasar: Martabat dan Kasih
Perawatan jenazah dalam Gereja Katolik bukan sekadar tindakan higienis, melainkan tindakan kasih (Corporal Works of Mercy—salah satu karya belas kasih adalah menguburkan orang mati).
- Kelembutan: Tubuh harus diperlakukan dengan sangat hormat, layaknya saat orang tersebut masih hidup.
- Privasi: Menjaga martabat tubuh dengan selalu menutup bagian tubuh yang tidak perlu terlihat.
- Doa: Seluruh proses hendaknya disertai dengan doa (seperti doa Salam Maria atau doa hening) untuk memohonkan kedamaian bagi jiwa mendiang.
2. Langkah-Langkah Persiapan Jenazah
Sesuai dengan praktik pastoral di paroki-paroki, berikut adalah langkah yang umum dilakukan:
- Memandikan dan Membersihkan:
- Jenazah dibersihkan dengan air bersih. Jika memungkinkan, digunakan sabun yang lembut.
- Proses ini dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas kesehatan/pengurus lingkungan gereja dengan tetap menjaga aurat jenazah (ditutup dengan kain saat memandikan).
- Mengenakan Pakaian:
- Dalam tradisi Katolik, jenazah biasanya dipakaikan pakaian yang layak dan rapi.
- Sering kali, jenazah dikenakan pakaian terbaik yang pernah mereka miliki, atau pakaian yang bermakna bagi mendiang semasa hidup.
- Jika mendiang adalah anggota ordo tertentu (misalnya Fransiskan awam) atau memiliki devosi khusus (seperti mengenakan Skapular Cokelat atau Rosario di tangan), benda-benda rohani tersebut dapat dipasangkan pada jenazah.
- Posisi Jenazah:
- Tangan jenazah biasanya diletakkan di atas dada dalam posisi terkatup (seperti orang berdoa), atau memegang salib kecil/rosario. Ini melambangkan penyerahan diri mendiang kepada Tuhan di saat terakhirnya.
- Penempatan dalam Peti (Jika menggunakan peti):
- Tubuh diletakkan dengan tenang di dalam peti.
- Tidak ada keharusan menggunakan kain putih sebagai pembungkus seluruh tubuh, namun kain putih bisa diletakkan di bawah kepala atau sebagai penutup sebagian tubuh sesuai dengan tradisi lokal atau keinginan keluarga.
3. Simbol-Simbol Kristiani
Dalam proses persiapan ini, keluarga atau petugas dapat menambahkan unsur-unsur yang mempertegas identitas Kristen:
- Salib: Diletakkan dekat dengan kepala atau di atas dada jenazah sebagai tanda bahwa ia adalah milik Kristus melalui Baptisan.
- Lilin: Menandakan bahwa mendiang adalah anak-anak terang yang kini menghadap Tuhan.
- Air Suci: Sering kali air suci dipercikkan sebagai pengingat akan janji baptisnya.
4. Pendampingan Spiritual
Perawatan jenazah adalah kesempatan bagi keluarga untuk memulai proses pelepasan.
- Doa Bersama: Saat memandikan atau mengenakan pakaian, keluarga dapat mengelilingi jenazah dan mendoakan doa-doa bagi keselamatan jiwanya.
- Penyucian Hati: Bagi para tenaga kesehatan (mahasiswa STIKES), melakukan tugas ini adalah bentuk pelayanan Kristiani. Lakukanlah dengan membatin: “Tuhan, aku melayani-Mu melalui tubuh umat-Mu yang Engkau panggil pulang.”
Dalam Gereja Katolik, fokus utama saat seseorang meninggal adalah pengharapan akan kebangkitan. Tubuh yang dipersiapkan dengan hormat adalah tanda iman kita bahwa tubuh ini akan dibangkitkan kelak di akhir zaman.
Pesan untuk Mahasiswa: Ingatlah bahwa tugas Anda saat merawat jenazah pasien Katolik adalah menjaga “martabat Bait Roh Kudus”. Kerapian dan kehormatan yang Anda berikan adalah penghiburan luar biasa bagi keluarga yang sedang berduka, sekaligus bentuk nyata kesaksian iman Anda sebagai tenaga kesehatan.
Literatur Pustaka (Referensi)
- Katekismus Gereja Katolik (KGK). (Terutama artikel mengenai martabat tubuh manusia dan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal, nomor 1681–1690).
- Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Ordo Exsequiarum: Tata Cara Pemakaman Katolik.
- Kongregasi bagi Ajaran Iman. (2016). Instruksi Ad Resurgendum cum Christo mengenai pemakaman jenazah dan pelarangan kremasi dalam hal penyimpanan abu jenazah.
- Santo Agustinus. De Cura Pro Mortuis Gerenda (On the Care to be Taken for the Dead).
- Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983, Kanon 1176–1185. Tentang pemakaman gerejani.











