SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Mahasiswa beragama Katolik di Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Papua Sorong Provinsi Papua Barat Daya, Program Studi Keperawatan mendapat kesempatan untuk mendalami pengetahuan pendidikan agama Katolik. Salah satu tema perkulihaan tentang ‘Perawatan Jenazah dalam perspektif tradisi gereja Katolik. Dosen Pembimbing Laurentius Reresi, S.S., M.M memberikan pengajaran iman Katolik untuk membekali para calon sarjana Keperawatan Stikes Papua Sorong. Selain pengajaran, ada juga bentuk tanyajawab dari mahasiswa.
Dijelaskan, kematian, dalam perspektif iman Katolik, bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah peralihan (transisi) menuju kehidupan kekal. Karena keyakinan akan kebangkitan badan di akhir zaman, Gereja Katolik memberikan perhatian yang sangat khusus dan hormat terhadap perlakuan terhadap jenazah.
Dijelaskan Dosen Pengampu matakuliah Pendidikan Agama Katolik,. tubuh adalah Bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19) yang pernah mengambil bagian dalam sakramen-sakramen, khususnya Baptis dan Ekaristi. Oleh karena itu, perawatan jenazah dipandang sebagai bentuk tindakan kasih, penghormatan, dan karya belas kasih Allah.
Prinsip Utama Perawatan Jenazah
Dalam Ordo Exsequiarum (Tata Cara Pemakaman Katolik), ada beberapa prinsip yang menjadi pedoman dalam merawat jenazah:
- Penghormatan terhadap Tubuh: Jenazah harus diperlakukan dengan penuh hormat. Memandikan, mengenakan pakaian yang layak, dan menata jenazah adalah bentuk penghormatan terakhir kepada seseorang yang telah menjadi saudara seiman.
- Kesederhanaan dan Martabat: Gereja menganjurkan kesederhanaan dalam prosesi pemakaman agar perhatian utama tetap tertuju pada doa bagi keselamatan jiwa almarhum/ah, bukan pada kemegahan fisik.
- Doa sebagai Inti: Perawatan jenazah tidak pernah lepas dari doa. Setiap langkah dalam prosesi—mulai dari doa di rumah duka, ibadat pemberkatan, hingga penghormatan di gereja—adalah upaya untuk menyerahkan kembali jiwa almarhum ke tangan Allah.

Tradisi Kristiani dalam Perawatan Jenazah
Praktik merawat jenazah dalam Gereja Katolik berakar kuat pada tradisi kuno Kristen. Santo Agustinus dari Hippo, dalam karyanya De Cura Pro Mortuis Gerenda (Tentang Perawatan bagi Orang Meninggal), menekankan bahwa merawat jenazah orang beriman bukanlah sebuah kewajiban untuk kepentingan jenazah itu sendiri, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada tubuh yang telah menjadi instrumen Roh Kudus.
Meskipun saat ini banyak prosesi perawatan jenazah diserahkan kepada pihak rumah duka, Gereja tetap mendorong keterlibatan keluarga dalam doa-doa pendampingan selama proses tersebut. Hal ini membantu keluarga yang ditinggalkan untuk melalui masa berduka secara lebih manusiawi dan religius.
Merawat jenazah adalah sebuah karya iman. Melalui tindakan ini, umat Katolik diingatkan akan kefanaan duniawi dan harapan akan kebangkitan yang mulia. Dengan memperlakukan jenazah secara hormat, kita merayakan martabat manusia yang diciptakan menurut citra Allah, yang hidup, mati, dan akan dibangkitkan kembali dalam Kristus.
Literatur Pustaka (Referensi)
- Katekismus Gereja Katolik (KGK). (Terutama artikel mengenai martabat tubuh manusia dan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal, nomor 1681–1690).
- Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Ordo Exsequiarum: Tata Cara Pemakaman Katolik.
- Kongregasi bagi Ajaran Iman. (2016). Instruksi Ad Resurgendum cum Christo mengenai pemakaman jenazah dan pelarangan kremasi dalam hal penyimpanan abu jenazah.
- Santo Agustinus. De Cura Pro Mortuis Gerenda (On the Care to be Taken for the Dead).
- Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983, Kanon 1176–1185. Tentang pemakaman gerejani.











