
SUPIORI-Papua, Monitorpapua.com. – Kampung Waryesi, Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Papua, tengah dipersiapkan menjadi salah satu lokasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat sarana perikanan sekaligus membuka ruang bagi pengembangan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Kehadiran KNMP di Waryesi mendapat dukungan dari pemerintah kampung dan masyarakat setempat.
Berdasarkan laporan RMOL pada 16 September 2026, masyarakat turut menyambut kunjungan pemerintah daerah bersama jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Satgas, serta Tim Pelaksana Percepatan Pembangunan KNMP pada Juni 2026.

Pengembangan kawasan tersebut menjadi relevan dengan kondisi nelayan Waryesi yang masih menghadapi keterbatasan sarana produksi dan akses pemasaran.
Perwakilan nelayan, Matias Mansoeben, sebelumnya menyampaikan bahwa kebutuhan perahu, alat tangkap, serta tempat pendaratan yang layak masih menjadi persoalan dalam aktivitas sehari-hari. “Kondisi nelayan di lapangan memang kami sangat kekurangan dengan hal-hal lain berkaitan dengan perahu, tempat pendaratan, dan juga alat-alat tangkap,” kata Matias Mansoeben.
Persoalan tersebut tidak berhenti pada proses menangkap ikan. Nelayan juga membutuhkan dukungan setelah hasil tangkapan didaratkan, terutama untuk penanganan, penyimpanan, distribusi hingga pemasaran.
Di Waryesi, keterbatasan tempat penjualan ikan membuat sebagian hasil tangkapan belum selalu terserap pasar. Kondisi itu menunjukkan pentingnya membangun rantai usaha perikanan yang saling terhubung.
Model KNMP yang dikembangkan KKP mencakup keterkaitan antara kawasan nelayan, fasilitas pendaratan, rantai dingin, pengolahan, logistik dan pasar.
Dalam konsep tersebut, hasil tangkapan diarahkan agar dapat ditangani dengan lebih baik sebelum didistribusikan ke pasar regional, nasional hingga ekspor.
KNMP Tidak Hanya Bangun Infrastruktur
KKP menegaskan pembangunan KNMP tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan fisik. Dalam siaran pers 16 Juni 2025, KKP menyebut aspek keberlanjutan menjadi bagian penting program tersebut, termasuk melalui pendampingan dan rekayasa sosial agar kegiatan usaha dari hulu hingga hilir dapat berjalan berkesinambungan.
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Doni Ismanto Darwin mengatakan, “Kampung Nelayan Merah Putih ini bukan sebatas proyek membangun, tapi bagaimana memastikan pembangunan yang dilakukan menghasilkan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.”
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari keberlanjutan kawasan. KKP menyatakan pengelolaan KNMP akan melibatkan kelembagaan usaha, sementara pendampingan dilakukan untuk membantu masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi dari hulu hingga hilir.
Konsep tersebut juga sejalan dengan pengembangan ekonomi biru yang diperkenalkan KKP melalui sejumlah KNMP.
Dalam publikasi KKP pada Juli 2026, KNMP disebut sebagai salah satu implementasi kebijakan ekonomi biru yang menghubungkan pengembangan ekonomi berbasis perikanan dengan penghidupan berkelanjutan dan perhatian terhadap kawasan pesisir.
Bagi Waryesi, pendekatan itu membuka peluang agar potensi laut tidak hanya dimanfaatkan melalui aktivitas penangkapan. Dengan dukungan sarana produksi, penanganan hasil, penyimpanan, pengolahan dan pemasaran, masyarakat memiliki ruang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi yang lebih terintegrasi.
Penguatan Hulu-Hilir untuk Masa Depan Nelayan
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan KNMP dirancang sebagai ekosistem perikanan teriintegrasi yang menghubungkan kawasan hulu dengan nelayan, rantai dingin, industri pengolahan dan pasar.

Menurut KKP, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hilirisasi perikanan.
“Kalau Kampung Nelayan Merah Putih ini berjalan, saya jamin kualitas produknya bagus karena rantai penanganannya dibenahi dari awal. Industri pengolahan juga akan lebih mudah menyerap hasil tangkapan nelayan,” ujar Trenggono.
Bila diterapkan sesuai kebutuhan lokal, penguatan rantai usaha tersebut diharapkan dapat memberi ruang bagi nelayan Waryesi untuk mengembangkan potensi perikanan sekaligus memperluas akses terhadap kegiatan ekonomi.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kesiapan fasilitas, pengelolaan, akses pasar, kapasitas masyarakat dan keberlanjutan sumber daya laut.
Karena itu, keberhasilan KNMP Waryesi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya fasilitas. Masyarakat, pemerintah daerah, pengelola, dan pemangku kepentingan terkait perlu menjaga agar sarana yang dibangun dapat digunakan secara produktif dan berkelanjutan.

Harapan masyarakat Waryesi juga mulai terlihat dari respons positif terhadap program tersebut.Matias sebelumnya mengatakan kehadiran KNMP memberikan harapan terhadap kehidupan ekonomi masyarakat ke depan.
“Dengan adanya program KNMP ini kami sangat senang karena bisa mendukung ekonomi kami ke depan untuk bagaimana masyarakat sejahtera,” kata Matias.
Pada akhirnya, pembangunan KNMP Waryesi diharapkan tidak berhenti pada tersedianya infrastruktur perikanan. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi pesisir, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.
Dengan pengelolaan yang baik, keterlibatan masyarakat, penguatan rantai usaha dari hulu hingga hilir, serta akses pasar yang lebih terbuka, potensi laut Waryesi memiliki ruang untuk dikembangkan secara lebih produktif.
Pada saat yang sama, keberlanjutan ekosistem pesisir tetap menjadi bagian penting agar sumber penghidupan masyarakat nelayan dapat terus dijaga untuk jangka panjang.(*/Red)









