
SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Pasar Pujasera Aimas Disulap Menjadi Panggung Budaya, Generasi Muda Papua Tampilkan Tradisi dalam Wajah Modern. Betapa tidak, Pasar Pujasera Aimas, Kabupaten Sorong, berubah semarak pada 11–12 September 2026. Ruang publik yang sehari-hari menjadi bagian dari aktivitas masyarakat menjadi panggung kreativitas generasi muda Papua melalui Lomba Tari Kreasi Papua dan Fashion Show yang diselenggarakan Yayasan Kilau Arafuru Abadi.
Pendiri Yayasan Kilau Arafuru Abadi, Komarudin, S.Sos., dalam sambutannya mengatakan tema kegiatan tersebut pada dasarnya berbicara tentang bagaimana generasi masa kini dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan ja dirinya.
“Bagaimana kita menjadi modern tanpa kehilangan jati diri? Modernitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi juga tidak boleh dibiarkan hanya menjadi kenangan masa lalu,” ujar Komarudin
Menurutnya, tradisi harus hidup, berkembang, dan mampu berbicara kepada generasi masa kini. Komarudin lebih lanjut menjelaskan, tari kreasi Papua yang ditampilkan para peserta bukan sekadar rangkaian gerakan, tetapi memiliki nilai, sejarah, simbol, filosofi, serta memori kolektif masyarakat Papua.
Hal yang sama juga terlihat melalui busana yang ditampilkan dalam fashion show. Kain, motif, warna dan berbagai ornamen yang digunakan peserta tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari bahasa budaya yang menggambarkan identitas, asal-usul dan nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, lanjut Pendiri Yayasan Kilau Arafuru Abadi, kreativitas generasi muda dalam mengolah tradisi dengan pendekatan modern dinilai bukan sebagai bentuk meninggalkan budaya, melainkan sebagai keberanian untuk membawa budaya Papua memasuki masa depan.
Kegiatan secara resmi dibuka Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Sorong Oktovianus N. Kalasuat, S.H., M.Si.,

Dalam sambutannya, Kepala BPKAD mengingatkan pentingnya menjaga budaya Papua di tengah perkembangan teknologi dan era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menjadi tantangan bagi keberlangsungan budaya lokal.
Ia berharap budaya Papua tidak hanya menjadi sesuatu yang dilihat melalui layar, tetapi tetap hidup dan dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat.
Seminar dan Workshop: Menjaga Alam, Budaya, dan Tradisi
Seminar dan Workshop: Menjaga Alam, Budaya, dan Tradisi Setelah sesi seremonial pembukaan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan seminar dan workshop tentang pentingnya menjaga alam, budaya, dan tradisi.
Sesi ini menghadirkan akademisi dan penggiat budaya Kabupaten Sorong sebagai narasumber.
Peserta diajak memahami pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat budaya tersebut tumbuh dan berkembang. Dalam diskusi, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentngnya menjaga alam, menghargai nilai-nilai budaya, serta mempertahankan tradisi agar tetap relevan bagi generasi muda.
Kegiatan seminar dan workshop menjadi ruang interaksi dan berbagi pengalaman antara generasi muda, akademisi, serta pelaku budaya. Pesan yang dibangun sederhana “menjaga budaya berarti juga menjaga lingkungan dan kehidupan masyarakat yang menjadi tempat budaya itu tumbuh.
Budaya Hadir di Ruang Publik Pemilihan Pasar Pujasera Aimas sebagai lokasi kegiatan menjadi bagian dari gagasan Yayasan Kilau Arafuru Abadi bahwa pelestarian budaya tidak harus berlangsung di ruang formal.

Budaya dapat tumbuh dan berkembang di ruang publik yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain kompetisi tari dan fashion show, kegiatan juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berpartisipasi. Kehadiran UMKM turut menghidupkan suasana sekaligus membuka ruang interaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi Yayasan Kilau Arafuru Abadi, kegiatan ini bukan hanya tentang perlombaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pengalaman bagi generasi muda untuk berani tampil, berkarya, dan melihat budaya Papua sebagai sesuatu yang dapat terus dikembangkan.
Kegiatan ditutup oleh Hayyik, yang akrab disapa Cak Hay, salah satu founder Yayasan Kilau Arafuru Abadi. Ia berharap pengalaman selama kegiatan dak berhenti pada perlombaan, tetapi menjadi langkah awal untuk terus membuka ruang bagi generasi muda, komunitas, dan masyarakat dalam menghadirkan kegiatan positif.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Kilau Arafuru Abadi menunjukkan ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya budaya, kreativitas, generasi muda, dan masyarakat. Dari Pasar Pujasera Aimas, satu pesan sederhana kembali ditegaskan “budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi harus terus dihidupkan. (Yeni A./Ren)




