Polri Jelaskan 3 Penyebab Gizi Buruk Melanda Asmat

0
79

Monitorpapua.com – Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar menyampaikan tiga penyebab Asmat, Papua didera gizi buruk. Berdasarkan pemaparannya, paling tidak 15 ribu penduduk Asmat menderita kekurangan gizi.

Berikut tiga penyebab gizi buruk di Asmat:

  1. Akses tempat tinggal yang jauh

Faktor pertama yang menjadi kendala pemerintah untuk memberikan layanan kesehatan adalah akses kesehatan yang sulit terjangkau oleh sarana transportasi.

“Persoalan gizi buruk ini kami lihat lebih kepada lokasi masyarakat yang cukup jauh, sehingga dari aspek perekonomian untuk menjangkau daerah-daerah yang bisa didistribusi oleh pemerintah secara menyeluruh ini terkendala,” kata Boy saat menghadiri Rapat Pimpinan Polri 2018 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta, Rabu 24 Januari.

Jarak antara tempat tinggal masyarakat dengan sarana kesehatan terdekat menyebabkan penduduk Asmat kesulitan dalam mendapatkan pertolongan kesehatan pertama.

“Sulit mendapatkan sarana transportasi ke Puskesmas. Andaikan ada sarana transportasi biayanya cukup mahal, jadi ada daerah-daerah yang oleh pemerintah daerah tidak terjangkau dan masyarakat sendiri tidak dapat serta merta (terjangkau) karena faktor transportasi,” kata dia.

Kondisi akses juga diperburuk dengan cuaca yang menyebabkan terganggunya aliran sungai sebagai sarana transportasi.

“Apalagi dikaitkan dengan faktor cuaca, di mana di beberapa aliran sungai juga mengalami pasang surut jadi tidak selalu dapat dilewati dengan kapal-kapal untuk distribusi bahan makanan,” kata dia.

  1. Kurangnya persediaan obat

Keterbatasan obat-obatan dan vaksin di tengah gizi buruk juga menambah pekerjaan rumah pemerintah. Boy mengatakan, dibutuhkan sekitar 2.000 hingga 3.000 vaksin sebagai cadangan, guna menyiapkan kondisi kesehatan masyarakat yang semakin memburuk.

“Untuk cadangan vaksin, kita langsung koordinasi di lapangan, diperkirakan kita masih butuh antara sekitar 2.000 sampai 3.000 lagi. Itu bagus apabila kita stok. Sehingga waktu ke depan kita tetap bisa memberikan pelayanan vaksinasi kepada anak-anak, khususnya mereka yang di daerah-daerah yang terpencil,” ujar dia.

  1. Kekurangan tenaga medis

Berikutnya, masalah kurangnya tenaga medis menjadi kendala bagi pemerintah guna membendung peningkatan angka penderita gizi buruk.

“Tenaga medis kurang, tenaga dokter sangat minim, kepala Puskesmas pun bukan dokter,” kata Boy.

Menyiasati hal itu, Boy berencana mengirimkan dokter muda dari kepolisian sebagai tenaga medis pembantu di Asmat.

“Jadi kami juga dari kepolisian ini kita minta bantuan kendali operasi (BKO) dokter dari Mabes Polri. Mabes Polri, Polda Papua juga meminta BKO dokter kepada Pusdokkes Mabes Polri, saya yakin mudah-mudahan dipenuhi untuk kita perbantukan. Jadi program-program dokter muda, dokter magang memang diharapkan bisa hadir di Papua, sehingga bisa mengisi pos yang kosong,” kata Boy. (Sumber: idntimes.com)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.