Renungan: Tantangan Hidup Keluarga Beriman

36

SORONG, Monitorpapua.com – Tantangan hidup keluarga beriman di era digitalisasi sangat menantang. Bapak keluarga harus mengambil keputusan terbaik untuk mendidik anak-anaknya. Ibu Rumah Tangga turut mendampingi suami mencari nafkah menghidupi keluarga. Tak jarang, banyak rintangan yang harus dihadapi suami-isteri. Keluarga yang teguh imannya pasti berpegang teguh pada ajaran agamanya dan memiliki waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Hal inilah yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita masing-masing.

Kelompok binaan menyadari arti penting panggilan sebagai keluarga beriman yang berakar dan bersumber serta berpedoman pada Sabda Allah dan senantiasa bersekutu sebagai satu saudara dalam melaksanakan Sabda Allah.

Di saat melakukan penyuluhan kepada kelompok binaan, Penyuluh mengajak kelompok binaan untuk memahami siapa itu keluarga yang beriman. Penyuluh memberi materi penyuluhan terkait relasi manusia dengan Allah dan melihat lebih dekat “Keluarga Beriman”. Tema ini memberikan inspirasi kepada kelompok binaan untuk mengenal Keluarga adalah kelompok orang yang anggotanya disatukan oleh hubungan darah. Semuanya berasal dari orangtua atau nenekmoyang yang sama.
Namun dalam gambaran lain, Penyuluh menggambarkan tentang keluarga adalah kelompok manusia yang anggotanya disatukan oleh iman dan misi serta ajaran dan tradisi yang sama.

Artinya, keluarga beriman adalah keluarga yang berakar dalam iman yang bersumber, berakar dan berpedoman pada Sabda Allah serta senantiasa bersekutu dengan Allah dalam hidup dan karyanya sehari-hari. Meskipun menghadapi dunia modern dengan segala persamalahannya, Keluarga beriman harus menunjukkan imanya dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan perintah Tuhan yang ditemukan dengan membaca dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci.
Keluarga beriman adalah keluarga yang dalam perjalanan hidupnya baik saat suka maupun duka tetap ingat dan percaya akan janji berkat Allah seperti yang dilakukan Abraham dan keluarganya (Kej. 12:2-3).

Abraham adalah Bapa kaum beriman (Rm. 4:16). Dia dikatakan sebagai Bapa kaum beriman karena dia telah menunjukkan dirinya sebagai orang beriman (Gal, 3:9) dengan kesediaannya menaati dan melaksanakan perintah Allah untuk meninggalkan negerinya, sanak suadaranya dan rumah bapanya (Kej. 12:1) menuju Kanaan (Kej.11:31). Dengan kata lain Abraham diminta Allah oleh Allah untuk pergi meninggalkan akar hidupnya, dasar yang telah menopang hidupnya, lalu pergi meninggalkan akar hidupnya yang memberi rasa aman seperti tanah, masyarakat dan keluarga dekatnya.

Dalam melaksanakan perintah Allah, Abraham tidak melakukan tawar-menawar dengan Allah apalagi menunda-nunda tetapi Abraham langsung melaksanakan perintah Allah. “Lalu pergilah Abraham seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kej.12:4)

Penyuluh memberikan motivasi kepada kelompok binaan bahwa dalam perjalanan melaksanakan perintah Tuhan, Abraham senantiasa bersekutu dengan sesama dan percaya kepada janji dan berkat Allah. Ia juga selalu mendengankan Allah yang berbicara kepadanya melalui alam, orang-orang bersamanya dan dijumpainya serta melalui peristiwa yang dialaminya.

Terkait semuanya itu, Penyuluh mengajak kelompok binaan agar beriman kepada Allah sehingga iman benar-benar berakar dan bersumber kepada Allah dalam Kitab Suci yang ditunjukkan dalam setiap sikap, siap sedia mendengar dan melaksanakan perintah Allah dalam hidup dan karya nyata setiap hari (Laurentius Reresi)

- Iklan Berita 2 -

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini