Uskup Anak Komoro, Orangtuanya Asal Kepulauan Kei, Maluku Tenggara (4)

0
596
- Iklan Berita 1 -

TIMIKA, Monitorpapua.com – Kenangan tak terlupakan. Walau Uskup dilahirkan sebagai anak Komoro, Kedua orang tuanya berasal dari Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Masyarakat Kei sangat lekat dengan tradisi garis keturunan. Anak laki-laki merupakan penerus marga dan keluarga.

Ayahnya merasa berat karena pilihan tersebut akan membuat silsilah garis keturunan marga terputus. Apalagi saat itu mereka hanya dua lelaki dan laki-laki yang bungsu belum lahir.

“Di budaya Kei, anak laki-laki itu pewaris garis keturunan. Saat itu bapak tidak tolak tapi dia merasa berat sekali. Bapak tidak mau marga punah. Ini sebuah pergolakan batin. Namun 4sebagai seorang katekis, bapak kemudian pasrah dengan pilihan kakak uskup. Bapak menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan jika itu memang jalan yang Tuhan pilih untuk anaknya,” kenangnya.

Salah satu tradisi dari dulu yang hingga kini masih dipegang teguh keluarga ini adalah mereka sering berdoa Doa Rosario setiap hari.

Uskup dan sembilan saudaranya sejak jam 6 pagi, 12 siang, 6 sore hingga jam 9 malam, selalu mendoakan Doa Rosario secara bersama-sama.

“Kami dididik dari kecil jadi orang pendoa. Setiap hari kami harus berlutut untuk berdoa. Inilah yang membuat kami hidup dalam iman walau saat itu semua serba sulit. Bapak dan mama benar-benar mengajarkan ini kepada kami. Ini satu kenangan yang tidak akan dilupakan. Saya tidak tahu orang lain tapi saya merasakan itu. Sebagai suster saya merasa bahwa hidup orangtua kami bahkan bisa lebih dari biarawan biarawati,” ungkapnya.

Di mata Suster Rosalina, almarhum kakaknya, Uskup John mewarisi sifat kedua orangtuanya secara seimbang. Ia merupakan pribadi yang tegas namun sangat lemah lembut.

“Di dalam dirinya ada figur bapak sebagai kepala sekolah yang tegas, disiplin juga jenius serta sifat mama yang lembut dan murah hati. Dua pribadi ini menyatu dalam kepribadiannya. Kaka uskup juga paling tidak bisa melihat orang menderita,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa ketika ia dan saudara-saudara lainnya memiliki masalah atau pergumulan hidup, mereka masih menjadikannya sebagai tempat curhat. Namun apa yang ingin mereka sampaikan, harus dipersiapkan secara matang sebelum diutarakan.

“Kalau kami selalu kumpul bersama, kita lebih banyak cerita-cerita kenangan masih kecil di kampung walau harus ulang-ulang. Ini yang membuat kami selalu rindu dengan masa-masa itu. Tapi kalau mau bicara hal serius dengan kakak, maka kita harus sampaikan dengan hati-hati. Kalau mau bicara dengan dia harus susun kalimat bagus-bagus dulu,” ungkapnya dengan senyum.

Pertemuan terakhir antara Suster Rosalina dengan saudaranya Uskup John Philip terjadi pada awal Februari lalu. Saat itu Uskup John mengikuti pentahbisan Uskup Medan. Sementara Suster Rosalina hingga saat ini bertugas di Panti Asuhan Santa Lusia (SLBC) Kota Medan.

Ia tidak mendapat firasat apapun tentang kepergian saudaranya. Namun saat Uskup John berada di Jakarta sebelum berangkat ke Merauke menghadiri pentahbisannya sebagai Uskup Agung, mereka masih sempat berkomunikasi lewat pesan whatssap.

“Waktu dia mau ke Merauke dia minta kami semua berdoa Rosario, Novena (doa khusus-red) 10x Salam Maria. Kami semua buat Novena Rosario 9 hari berturut-turut. Sepertinya doa itu semua untuk mengiringi kepergiannya. Dia memang orang yang tidak mau membuat beban untuk semua orang. Bahkan hingga kepergiannya, dia tunjukan itu,” ujarnya sambil tertunduk.

“Sebelumnya kakak juga kirim lagu ciptaan dia ke saya jam 3 subuh. Saya berpikir jam begini kaka dia belum tidur ka? Saya kemudian bertanya dalam hati apakah berat sekali tugas itu (Uskup Merauke-red) atauf adakah sesuatu dengan dia. Sebagai seorang katekis saya langsung merasakan itu. Saya hanya balas Wa-nya, kaka lagu kaka ini refleksi syairnya sangat dalam dan panjang, tapi mari kita saling menguatkan dalam panggilan ini,” ungkap Suster Rosalina sambil menatap jenazah kakanya yang terbaring di depannya, di Gereja Katedral Tiga Raja.

Selamat Jalan Bapak Uskup, Kami Semua Mencintaimu! Engkau Akan Selalu Hidup Dalam Hati dan Ingatan Kami. (RED-MP/RONALD RENWARIN/IWO)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.