
SORONG, Monitorpapua.com.- Sebentar lagi Hari Raya Natal akan tiba. Pada Minggu Adven ketiga disebut Minggu Gaudete, yang berarti “Bersukacitalah” dalam bahasa Latin. Ini adalah minggu sukacita karena kedatangan “Sang Terang” hampir tiba. Gereja mengajak umatnya untuk mulai bergembira sebab sudah dekat waktunya Tuhan Yesus berkenan hadir dengan lahir di dalam hati kita masing-masing.
Terang yang dijanjikan untuk menerangi kegelapan dunia semakin nampak wujudnya. Hal ini ditandakan dengan lilin adcen yang berwarna ‘merah muda’ melambangkan ‘sukacita’ besar telah tiba
Minggu Gaudete adalah momen untuk bergembira dan bersukacita karena Tuhan sudah dekat. Kata “Gaudete” sendiri berasal dari antifon pembuka perayaan liturgi hari ini, yang diambil dari Filipi 4:4-5, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat”. Ini berarti bahwa kita sebagai umat beriman harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan dengan sukacita dan harapan.
Mari kita renungkan bersama-sama Injil Matius 1:1-17. Tentang “Janji keselamatan”. Pernahkah saudara-saudari menjanjikan sesuatu kepada orang lain dan janji tersebut kemudian tidak anda penuhi? Atau pernahkah saudara-saudari mengalami pengalaman sebaliknya, dijanjikan sesuatu tetapi tak dipenuhi?
Kita sering mendengar ungkapan menarik “janji harus ditepati” Ungkapan ini menunjukkan betapa pentingnya pemenuhan sebuah janji, supaya agar orang yang dijanjikan tidak putus harapan dan menjadi kecewa. Janji adalah penegasan komitmen terhadap suatu hal. Janji juga memberikan jaminan akan kepercayaan agar memberikan kebahagiaan bagi orang lain.
Bacaan Injil mengisahkan tentang silsila Yesus Kristus anak Daud, anak Abraham. Kepada keturunan Daud, Allah menjanjikan tahta yang kokoh dan kekal (Bdk. 2 Sam. 7) Ternyata, “Janji Allah” kepada Daud sungguh terpenuhi dalam diri Yesus Kristus Anak-Nya. Allah bersabda melalui Malaekat Gabriel demikian “Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja, kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.
Setelah dua puluh delapan keturunan, barulah janji tersebut terpenuhi. Waktu yang sangat panjang namun mengagumkan. Karena Allah setia memenuhi janji-Nya. Janji untuk menyelamatkan umat manusia dengan memberikan Putera-Nya yang tunggal karena Allah tetap setia pada janji-janji-Nya.
Dalam Injil Matius menampilkan siapakah Yesus itu? Dari mana Yesus berasal. Penginjil Matius menampilkan Yesus sendiri berasal dari keturunan Daud, anak Abraham. Dalam sejarah, bangsa Israel mengalami pengalaman kebahagiaan dan berkat namun tidak lepas dari pengalaman penderitaan saat pembuangan di Babel. Allah selalu menyertai bangsa Israel dari waktu ke waktu. Tak jarang juga bangsa Israel tidak setia kepada Allah dan berbalik dari hadapan Allah, meskipun demikian, Allah tetap setia dengan janji-Nya. Janji keselamatan itu sunggu-sungguh dipenuhi dalam keluarga Yusuf dan Maria, lewat kehadiran Yesus.
Janji Allah sungguh terbukti untuk menyelamatkan manusia dan selalu menyertai kita telah terpenuhi serta akan selalu terpenuhi. Di hadapan Allah, kita sebagai orang Katolik telah membuat banyak Janji. Janji Baptis untuk menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhyul, perjudian dan hiburan tidak sehat. Janji untuk setia kepada pasangan dalam untung dan malang dalam suka maupun duka. Janji untuk menaati nasihat-nasihat Injili untuk hidup taat, suci dan murni. Semua janji ini adalah pengungkapan komitmen kita untuk tetap setia kepada Allah. Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah janji-janji ini telah kita penuhi?” jika belum, belajarlah dari Allah yang setia pada janji-janji-Nya.
Pada Minggu Adven ketiga, lilin berwarna merah muda dinyalakan sebagai simbol sukacita dan harapan. Warna merah muda melambangkan penderitaan masa kini yang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada umat beriman
Minggu Gaudete mengajak kita untuk melihat Kristus bukan hanya sebagai yang akan datang, tapi sudah hadir di tengah kita. Ini membentuk persepsi teologis tentang kehadiran Kristus sebagai realitas yang sudah ada, sedang datang, dan akan datang penuh kemuliaan. Oleh karena itu, kita diajak untuk hidup dalam kegembiraan sebagai saksi Kristus yang “selalu dekat” (Laurent Reresi)










