Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Aifat, Mare dan Miyah

44

SORONG, Monitorpapua.com – Komunitas Fenia Meroh mengadakan seminar mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Aifat, Mare, Miyah di Kota Sorong.
Seminar tersebut dilaksanakan di Aula Paroki Sto. Yohanes Pembaptis (12/6).

Menghadirkan Pembicara dalam seminar Frederika Korain, SH, MAAPD, Desi K.O.Sentuf, S.Pd., Pastor Dr. Bernardus Bofit Wos Baru, OSA., didampingi Moderator Jonny R.Kocu,S.IP.,M.IP.

Para peserta yang hadir berjumlah 87 orang, mayoritas pemuda dan pemudi Aifat, Mare, Miyah.

Dalam semimar, Desi Sentuf menjadi pembicara pertama, memberikan motivasi kepada anak-anak muda Aifat, Mare, Miyah terkait membangun kepercayaan diri sebagai perempuan dan berjuang dengan rajin belajar serta selalu menghormati dan mempelajari kebudayaan sendiri seperti bahasa daerah.

Desi juga memotivasi anak-anak muda Aifat, Mare, Miyah dengan mengajak mereka untuk mengenal identitas diri dan dengan percaya diri menjelaskan kebudayaannya kepada mereka yang berkebudayaan lain.

Desi menceritakan dirinya pernah mengikuti pertukaran pelajar di Jepang dan berjumpa dengan banyak orang dari kebudayaan lain, dan berusaha menjelaskan tentang identitasnya sebagai orang Melanesia kepada mereka dari kebudayaan lain di dunia.

Dia mengatakan perempuan Aifat, Mare, Miyah harus bangkit dari keterpurukan dan mesti terus berusaha agar dapat sukses pada masa kini dan akan datang.

Sementara itu, Frederika Korain sebagai pembicara kedua dalam pemaparan materinya menjelaskan terkait munculnya gerakkan femenisme di Eropa sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan terhadap sistem patriaki yang mengampayekan hak-hak perempuan dalam lingkup hak untuk memilih dalam pemilu, hak untuk memegang jabatan politik, hak bekerja, hak mendapat upah yang adil, hak untuk mendapatkan pendidikan, dan hak penghormatan dalam perkawinan.

Frederika Korain juga mengajak para perempuan Aifat,Mare,Miyah untuk hidup sederhana, harus rajin belajar supaya pintar dan mendapat nilai yang bagus, para perempuan harus menunjukkan karya-karyanya, dan harus selalu percaya diri.

Selain itu, Frederika Korain juga menjelaskan tentang pentingnya ekofeminisme yakni pentingnya para perempuan untuk menjaga dan melindungi alam.

Menurutnya, para perempuan adalah orang hebat yang bisa mengekspresikan pikiran dan perasaannya ke dalam noken-noken yang dirajut, mereka juga menanam berbagai jenis bibit sayuran di kebun dan mereka juga mencari ikan yang bagus untuk dikonsumsi dalam keluarga.

Dalam konteks ini, menurut Frederika Korain, para perempuan Aifat, Mare, Miyah itu seperti surga yang membawa kehidupan. Oleh karena itu, para perempuan Aifat, Mare, Miyah harus terus membangun kesadaran dan berjuang untuk semakin setara dengan kaum laki-laki dalam kehidupan.

Selanjutnya, Pastor Dr.Bernardus Baru,OSA sebagai pembicara ketiga, menjelaskan terkait  pandangan sosial laki-laki tehadap perempuan Aifat, Mare, Miyah.

Menurut Pastor Bernard, laki-laki perlu menghormati dan menghargai perempuan dalam kehidupan sosial. “Para perempuan Aifat, Mare, Miyah perlu membangun kesadaran diri dan bangkit dari keterpurukan dengan membangun kepercayaan diri serta kehidupan spiritual dan juga doa perlu ditingkatkan dalam kehidupan,”tegas Pastor Bernard.

Lebih lanjut, kata Pastor Bernard, gereja-gereja perlu terus mengembangkan pastoral keluarga. Pastoral keluarga merupakan upaya awal untuk membangun kesetaraan gender.

Hal yang menarik dari seminar ini ialah setelah setiap pembicara memaparkan materi-materinya dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta dan pembicara.

Pada akhir seminar, diadakan foto bersama dan ramah-tamah. (Heri Lobya, Ren)

- Iklan Berita 2 -

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini