Nasib Dialog “Pasca Sang Pembuka Jalan” Itu Pergi (Part 2)

2
198
Pastor Neles Tebay, Pr (live in the memory)
- Iklan Berita 1 -

live in the memory of Pastor Neles Tebay, Pr

Penulis : Samuel Asse Bless

Monitorpapua.com – Dalam rangka dialog Papua, Neles selalu berpesan, bahwa, mari kitorang duduk. Bicara. Panggil TNI, POLRI, Depdagri, Gubernur, Bupati, dan LSM Indonesia. Duduk di sebelah. Lalu, kita panggil lagi teman-teman yang menurut kita mereka yang berontak dan ingin merdeka itu untuk duduk di sebelah.

Mereka-mereka itu, ya, TPN/OPM. Dewan Presidium Papua, Dewan Adat Papua, KNPB dan tokoh-tokoh Papua yang di luar negeri. Antara lain, Pace Otto Andowame (Almarhum di Australia,); Tom Beanal, Taha Alhamid, Goliat Tabuni, dan beberapa tokoh Papua di Papua New Guinea, Belanda, Inggris, seperti: Beny Wenda, Oto Mote, dan lain-lain, dan masih beberapa tokoh seperti Markus Kaiseipo (almarahum) Fred Atahaboe (almarhum), dan seterusnya untuk duduk. Berdialog dari hati ke hati.

Bukan Dialog yang sudah ada kesimpulan baru didialogkan dari belakang. Atau Dialog yang salah satu pihak dominan memaksa kehendak! Itu Salah!” Tetapi, dialog hati! Dialog model itu melanggar prinsip dialog. Karena prinsipi dialog, antara lain, menyepakati pihak-pihak yang terlibat (partispan dialog); agenda, dan pilihan model dialog, yakni negosiasi, dialog dari hati ke hati, ataukah dialog yang dimediasi pihak ketiga yang dipandang netral, dan juga di tempat netral sehingga, segala kebutuhan mendasar, keinginan mendasar, dan posisi para pihak dapat didengar dengan baik, dicatat, lalu disepakati bersama. Hal-hal yang dipandang sama, dapat  disamakan. Hal yang berbeda, dapat dicatat sebagai keinginan, kebutuhan, dan posisi para pihak.

Hasilnya dapat dicatat, lalu disampaikan lagi kepada pihak dan apabila membutuhkan dialog lagi, maka terus dilanjutkan. Entah, dalam bentuk negosiasi, perundingan, ataukah kesepakatan bila diterima para pihak.

Hal inilah yang, kami bersama Neles tebay, mengambil pilihan untuk dijadikan alternatif penyelesaian masalah Papua secara damai dan bermartabat.

Hasilnya harus diterima dan dihormati para pihak. Tidak boleh salah satu pihak mengambil tindakan yang dipandang “coersif” (memaksa),  dan dominan atau tiba-tiba menggunakan kekerasan (violence as a tools).

Karena kekerasan adalah pilihan paling beresiko tinggi dalam negosiasi menuju perang untuk menyelesaikan suatu masalah tetapi dapat menyisakan derita, sengsara, dan trauma mendalam. Banyak ibu dan anak yatim piatu akan dijumpai di mana-mana, kalau dialog tidak dipilih sebagai alternatif penyelesaian suatu masalah.

Kelaparan, pengungsian, dan pemerkosaan, dan tawanan akan menjadi nyata kalau alternatif dialog tidak dijadikan alat untuk penyelesaian masalah Papua.

Kembali lagi kepada Neles. Setelah kami merekomendasikan Pater Neles secara indepen, tanpa dia tahu, ia pun meraih sebuah penghargaan dari sebuah lembaga yang bergerak di bidang perdamaian di Korea Selatan. (dalam tahun 2006).

Dengan penghargaan itu, ia dapat memekkkikan ekspresi gembira, bahagia, atau terkejut ketika mendapatkan sesuatu berita atau menjumpai seseorang kebanggaan , sehingga menurut kebiasaan orang Mee, dapat mememikkan dengan “wa wa wa wa waa….. “ atau Wak wak wak wak wak,……”.

Pater Neles bersama saya, dan sejumlah pakar di Indonesia dapat menulis sebuah buku, yang kian menjadi refrensi penting tentang masalah Papua. Kami menulis buku, “100 Orang Indonesia, Angkat Demi Dialog Papua”, (2008). Kami menulis dengan sejumlah pakar di Indonesia,, saya ingat baik, sebuah tulisan dari Prof. Mochtar Masoe’d (dari UGM), bahwa, “Indonesia dibangun atas dasar  semangat bersama”. Jika tanpa semangat bersama, maka tidaklah mungkin membangun sebuah bangsa. Hal itu sama halnya, dengan Apa yang diidealkan oleh Ernest Renaan, bahwa, Didirikannya suatu bangsa karena adanya mimpi bersama (common Imagine).  (Bersambung…Part 3)

2 KOMENTAR

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.