Nasib Dialog “Pasca Sang Pembuka Jalan” Itu Pergi (Part 3)

1
195
Pastor Neles Tebay, Pr (live in the memory)
- Iklan Berita 1 -

live in the memory of Pastor Neles Tebay, Pr

Penulis : Samuel Asse Bless

Monitorpapua.com – Sekarang hal penting yang menjadi pertanyaan. Apakah ketika Indonesia berjuang mencapai kemerdekaan dalam tahun 1945, dapatkah orang Papua ikut ambil bagian di dalam perjuangan itu? “Ataukah, ikutsertakah orang Papua ketika merumuskan Pancasila dan UUD 1945?

 Inillah pertanyaan bersama untuk kita renungkan. Apakah bedanya Papua dengan para pahlawan lain di Nusantara ini?” Inilah pertanyaan kita, ketika merunut proses semangat bersama dan mimpi bersama membangun bangsa Indonesia ini!. Jangan sampai mimpi kamu dengan mimpi orang Papua berbeda?”

Neles, coba ko masih hidup supaya kita bicara barang ini? Kenapa Ko, pergi cepat-cepat! Tinggalkan kami bingung di belakang?

Baca Juga : Nasib Dialog “Pasca Sang Pembuka Jalan” Itu Pergi (Part 1)

Kami juga pernah meminta agar dilibatkan untuk buka ruang komunikasi dengan para pihak pejuang Papua di luar negeri agar kami bisa memperoleh informasi penting, tentang apa saja yang mereka kehendaki, apa saja yang mereka inginkan dan apa saja yang Pemerintah Indonesia, serta para pemuka Papua ingin mau dan yang berkepentingan?”

Ketika kami berjuang bersama Yafet Kambay, Beny Giay, dan Agus Alue Alua, John Rumbiak, Theos van den Broek, dan kawan-kawan untuk mau bicara hal itu, eh!, malah Ko pergi?”

Kami sedih dan kecewa. Siapa akan menjadi pembuka jalan, penjembatan, dan mediator berhati nurani untuk mendengarkan jeritan suara hati dari mereka yang berteriak di hutan?.

Baca Juga : Nasib Dialog “Pasca Sang Pembuka Jalan” Itu Pergi (Part 2)

Atau, siapakah yang akan mengkritisi kaum penikmat yang menggunakan OPM dan KNPB sebagai alat penjustifikasi kepentingan jabatan politik dan karier di Papua? Dengan cara itu, mereka melegalkan kekerasan di Papua. Tuhan Saja Yang tahu!.

Ketika mengakhiri huruf terakhir dari tulisan ini, saya pun meneteskan air mata. Samarinda- Balikpapan, Rabu, Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2019,  Samuel Asse Bless, Direktur Yayasan “OYO PAPUA”. (RED-MP)

1 KOMENTAR

  1. […] Pater Neles bersama saya, dan sejumlah pakar di Indonesia dapat menulis sebuah buku, yang kian menjadi refrensi penting tentang masalah Papua. Kami menulis buku, “100 Orang Indonesia, Angkat Demi Dialog Papua”, (2008). Kami menulis dengan sejumlah pakar di Indonesia,, saya ingat baik, sebuah tulisan dari Prof. Mochtar Masoe’d (dari UGM), bahwa, “Indonesia dibangun atas dasar  semangat bersama”. Jika tanpa semangat bersama, maka tidaklah mungkin membangun sebuah bangsa. Hal itu sama halnya, dengan Apa yang diidealkan oleh Ernest Renaan, bahwa, Didirikannya suatu bangsa karena adanya mimpi bersama (common Imagine).  (Bersambung…Part 3) […]

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.