Pastor Markus Malar, OSA Berkati Tugu Miyor Sipat : Agama, Adat dan Pemerintah

0
127
Pastor Markus Malar, OSA, dan Pastor Heribertus Lobya, OSA di Seya, Maybrat
- Iklan Berita 1 -

MAYBRAT, Monitorpapua.com – Pastor Markus Malar, OSA, dan Pastor Heribertus Lobya, OSA., bersyukur dan berdoa serta memberkati batu pertama pembangunan tugu Miyor Sipat di Kampung Seya Distrik Mare Kabupaten Maybrat. Pemberkatan dan peletakan batu pertama tugu itu bersamaan dengan perayaan 50 tahun Gereja Katolik di Tanah Seya.

Tepat 4 April 2019 ini merupakan tanggal bersejarah bagi umat Katolik di Paroki Senya. Betapa tidak, pada 4 April 1969  lalu, masyarakat di Kampung Seya secara resmi masuk dalam Gereja Katolik di Mriah Printah Seya.

Sebagai tanda perayaan syukur 50.tahun,  Pemberkatan tugu tiga tungku  disaksikan para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, tokoh Penginjil GKI dan masyarakat setempat.

Budaya Masyarakat tiga tungku merupakan semboyan budaya Orang Papua dalam Menjaga keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan antarumat beragama, masyarakat adat Papua.

Dua Pastor melakukan pemberkatan dan peletakkan batu pertama tugu Miyor Sipat yakni tugu tiga tungku yaitu Agama, Adat dan Pemerintah di Mriah Printah Seya.

Semboyan tiga tungku menggambarkan prinsip hidup warga Papua dalam menjaga  keseimbangan dan kebersamaan hidup, antara lain melalui penghormatan yang tinggi terhadap pentingnya kerukunan hidup antarumat beragama yang ada di daerah itu, yakni Agama Islam, Kristen, dan Katolik. Juga menggambarkan keharmonisan hidup antara masyarakat beragama, masyarakat adat dan pemerintah.

Keuskupan Manokwari Sorong mencatat, di Kampung Seya, Distrik Mare, pada 4 April 1969  lalu, masyarakat di Kampung Seya beragama Katolik hidup harmonis dengan agama-agama lain.Terkait peristiwa bersejarah itu maka, masyarakat Seya membuat tugu tiga tungku  yang menggambarkan keberadaan Agama, Adat dan Pemerintah.

Sumber data media, semboyan “Satu Tungku Tiga Batu” diambil dari kebiasaan memasak masyarakat setempat yang menggunakan tungku dengan batu sebagai penopangnya. ‘Tungku’ menggambarkan kebersamaan hidup. Sedangkan ‘Tiga Batu’ merupakan simbol dari tiga agama besar, Kristen, Katolik, dan Islam yang hidup di sana.

Masyarakat meyakini, jika keseimbangan terjaga stabil, semua persoalan hidup dapat diatasi dengan baik. Semboyan “tiga tungku tiga batu” juga berarti sinergi harmonis antara tiga elemen masyarakat dalam pembangunan, yaitu Adat, Agama, dan Pemerintah. Sinergi artinya mengelola perbedaan agar tidak menimbulkan perpecahan.

Kecerdasan para pemuka adat dan agama di Seya sejak 50 tahun lalu telah memungkinkan hidup harmoni dan kerukunan agama dan adat berlangsung baik di Tanah Papua.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mempraktikkan tenggang rasa dalam hidup beragama, adat, bermasyarakat dan pemerintah. Pelaksanaan tiga tungku membuat  masyarakat dapat memasak dengan baik, tungku untuk memasak yang ditopang tiga batu. Batu-batu harus bersama-sama menyokong tungku agar tidak terguling.

Istilah tungku merujuk pada konsep kebersamaan, toleransi, dan harmoni. Interpretasi mendasarnya menyebutkan tiga batu penopang di bawahnya adalah simbol tiga agama dengan banyak pemeluk. (RED MP/Ren/ IWO)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.