Pernyataan Wakil Presiden RI Tak Menyelesaikan Masalah di Papua

352

SORONG, Monitorpapua.com – Tokoh Agama, Pastor Izaak Bame, Sang Peneliti dan Penulis di Tanah asalnya Papua, mengkritisi penyampaian Wakil Presiden RI, terkait pernyataannya tentang “Tak Boleh Lagi Wariskan Konflik Berkelanjutan di Papua”

Saya membaca isi dari judul berita ini, saya Pastor Izaak Bame, tidak menemukan langkah-langkah konkrit yang diusulkan Wakil Presiden RI maupun utusan dari Persekutuan Gereja-Gereja di Papua dan Papua Barat.

Izinkan saya untuk menyampaikan pendapat terkait judul dan isi tulisan
yang diangkat dalam salah satu media online bahwa “Tidak boleh lagi wariskan konflik berkelanjutan di Papua”.

Saya sebagai salah satu dari sekian banyak Orang Asli Papua mengharapkan hal itu, namun yang menjadi pertanyaan bagaimana konflik tidak boleh diwariskan di Tanah Papua?
Sedangkan Pemerintah Indonesia sendiri mau warisan konflik di Tanah Papua. Hal ini bisa ditunjukkan dengan berapa bukti yang mendukung.

Pertama, TNI-POLRI tiap hari membunuh Orang Asli Papua dengan alasan demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka bagi saya tidak mungkin Konflik tidak diwariskan baik untuk TNI-POLRI dan Orang Asli Papua. TNI-POLRI selalu merasa secara Institusi diberi tugas penuh untuk membunuh orang Asli Papua kapan saja boleh. Karena sikap TNI-POLRI yang sedimikian semakin membuat Orang Asli Papua melawan baik secara halus maupun kasar .

Kedua, Hasil Kekayaan Alam di Papua monopoli orang luar Papua (Perusahan Freport, Pertamina, LNG Tangguh), Orang Asli Papua tidak lebih dari 100 orang artinya mereka yang direkrut bekerja di Perusahaan itu, sebagian besar datang dari luar Papua. Siapa yang tidak sakit hati ?

Izaak Bame menegaskan sakit hati inilah yang akan membawa konflik dan itu sudah terbukti.

Ketiga, Hak Politik Orang Asli Papua diambil oleh Orang bukan Papua. Hasil Pemilihan Legislatif 2019 seluruh Provinsi Papua-Papua Barat DPRDnya 70% bukan Orang Asli Papua termasuk Kabupaten Kota.

Inilah bibit konflik yang terus dipelihara oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keempat, Hak kerja baik ASN-Swasta hampir seluruh Kantor Pemerintah di Papua-Papua Barat Provinsi-Kabupaten-Kota diisi atau diambil alih para Penganggur dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan bagian inilah merupakan salah satu alasan OAP sekarang
menolak pemekaran bukan untuk Orang Asli Papua tetapi untuk Para Pengangguran dari luar Papua termasuk BUM-BUMD-Bandara DEO Sorong, Karyawan-ti semuanya Pendatang yang asal usulnya dari mana, begitu juga Kantor, Bank. Maka harapan untuk mengakhiri konflik di Papua sangat sulit.

Kelima, Konflik di Papua bukan Orang Asli Papua dengan Gereja tapi Orang Asli Papua dengan Pemerintah maka sebenarnya Persekutuan Gereja-Gereja bertemu Wakil Presiden RI, atas restu orang asli Papua siapa?

Persekutuan Gereja-Gereja tugasnya harus bertemu Beny Wenda, kunjungi Victor Yeimo di tahanan Polda Papua juga Tabuni, cs dan Arnold Kocu, cs., jauh lebih penting untuk mendengarkan pendapat dan sikap mereka baru bisa ketemu Wakil Presiden RI.

Jangan pimpinan Agama lebih dekat Pemerintah dan abaikan hak orang asli Papua. Kepada ibu Sherly saya ingatkan jangan ulangi sejarah kelam yang pernah dibuat oleh berapa tokoh Gereja GKI dan Katolik di Tanah Papua yang hasilnya sekarang membuat Orang Asli Papua menderita di segala aspek hidup

Keenam, Saya melihat Persekutuan Gereja-Gereja pergi bertemu wakil Presiden bukan karena masalah Orang Asli Papua yang menderita sekarang tapi lebih sebagai sebuah taktik atau siasat supaya Pemerintah Indonesia melihat bahwa Persekutuan Gereja-Gereja ini ada dan dekat dengan Orang Asli Papua yang sedang bersebrangan dengan Pemerintah Indonesia. Pada hal sesungguhnya tidak.

Ketujuh, Kepada wakil Presiden RI, Amin Maruf dan Pimpinan Persekutuan Gereja-Gereja Papua Barat, konflik Papua bisa berakhir hanya Indonesia merelakan Papua Merdeka, tidak ada cara lain

Hal itu terbukti ketika Prof.Ir.J.B.Habibie dengan jiwa nasionalis yang besar merelakan Timtim sekarang Timur Leste melakukan referendum akhirnya sekarang Timur Leste-damai, Indonesia-damai. Demikian pendapat saya salam Pastor Izaak Bame (*/IB)

- Iklan Berita 2 -

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini