SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Kemurahan Hati dan Rahmat Allah” (Injil Mat.20:1-16a) demikian Mimbar Agama Katolik pada hari ini mengambil. Salve Saudara-saudari, pendengar setia RRI Sorong di mana pun Anda berada. senang sekali saya, Laurentius Reresi, Penyuluh Agama Katolik di Bimas Katolik, Kantor Kementerian Agama Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, kembali menyapa Anda sekalian dalam program siaran Mimbar Agama Katolik hari ini. Semoga damai sejahtera, kemurahan, dan kasih karunia Tuhan Yesus Kristus senantiasa memenuhi hati, rumah tangga, serta setiap usaha dan karya kita di Tanah Papua yang kita cintai ini.
- Doa Pembuka Marilah kita awali acara rohani ini dengan berdoa: Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Ya Bapa yang Maharahim dan Mahapengasih, kami bersyukur atas kelimpahan nafas kehidupan dan rahmat-Mu pada hari ini. Saat ini, bukalah hati dan pikiran kami untuk mendengarkan Sabda-Mu melalui Injil Santo Matius. Biarlah Firman-Mu menjadi pelita bagi kaki kami dan terang bagi jalan-jalan hidup kami di Kota Sorong ini. Roh Kudus-Mu kiranya memandu kami agar dapat memahami dan memberlakukan kasih-Mu yang tanpa batas dalam kehidupan sehari-hari. Berkatilah para pendengar setia, berkati juga Lembaga Penyiaran RRI Sorong, Pimpinan, Staf, Karayawan-Karyawati yang bekerja di Lembaga ini, semoga damai Tuhan dan berkat melimph turun kepada kami semua, Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin
Bacaan Injil Singkat (Matius 20:1-16)
(Pekerja di Kebun Anggur – Inti Pesan: Pemilik kebun anggur memberi upah yang sama, satu dinar, kepada semua pekerja, baik yang bekerja dari pagi hari maupun yang baru masuk menjelang malam)
Isi Renungan
Pendengar RRI Sorong yang dikasihi Tuhan, Dalam Injil Matius 20:1-16, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang pemilik kebun anggur yang keluar dari pagi-pagi benar untuk mencari pekerja. Ia kembali keluar pada jam 9 pagi, jam 12 siang, jam 3 sore, bahkan hingga jam 5 sore, menjelang hari berakhir.
Uniknya, ketika waktu pembayaran upah tiba, pemilik kebun memberi upah yang sama kepada semua pekerja: satu dinar. Orang-orang yang bekerja sejak pagi merasa tidak puas dan bersungut-sungut. Mereka berpikir seharusnya menerima lebih banyak daripada mereka yang baru bekerja satu jam di sore hari. Namun sang pemilik kebun menjawab: “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Matius 20:15).
Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur ini sering kali mengusik rasa keadilan manusiawi kita. Secara rasional, orang yang bekerja 12 jam dari pagi terik seharusnya mendapat upah lebih banyak daripada mereka yang hanya bekerja 1 hari atau 1 jam saja di sore hari. Namun, pemilik kebun memberi upah yang sama: satu dinar.
Mengapa demikian? Karena Allah melihat kebutuhan, bukan sekadar hitung-hitungan kerja manusia. Pada zaman itu, satu dinar adalah upah minimun harian agar satu keluarga bisa bertahan hidup untuk makan hari itu. Pemilik kebun—yang menggambarkan Allah—tidak membiarkan mereka yang baru masuk di jam terakhir pulang dengan tangan kosong dan keluarganya kelaparan. Ini bukan soal keadilan matematis, melainkan soal Kemurahan Hati dan Rahmat Allah.
Logika manusiawi kita sering kali mengukur segalanya dengan hitung-hitungan matematika atau prinsip keadilan distributif: “Siapa yang bekerja paling lama, dialah yang dapat paling banyak.” Namun, perumpamaan ini memperlihatkan logika Kerajaan Allah, yaitu logika kemurahan hati dan kasih karunia.
- Satu Dinar sebagai Simbol Kehidupan: Pada zaman Yesus, satu dinar adalah upah minimal agar satu keluarga bisa makan dan bertahan hidup untuk hari itu. Pemilik kebun tidak ingin pekerja yang baru masuk jam 5 sore pulang dengan tangan kosong dan keluarganya kelaparan. Ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi semua orang dan peduli pada kebutuhan dasar setiap manusia.
- Penyakit Suka Membandingkan: Pekerja yang masuk sejak pagi bukan kecewa karena upahnya kurang—sebab mereka menerima sesuai kesepakatan awal. Mereka kecewa karena membandingkan diri dengan orang lain. Keinginan untuk melihat orang lain mendapat lebih sedikit daripada kita adalah benih dari sifat iri hati.
Saudara-saudaraku di Kota Sorong dan sekitarnya, sering kali kita bertindak seperti para pekerja yang masuk sejak pagi:
- Suka Membandingkan Diri: Kita mulai melihat keberhasilan tetangga, rekan kerja, atau sesama warga Sorong lalu merasa iri hati dan berkata, “Mengapa dia yang baru datang/baru berjuang justru mendapat kelimpahan?”
- Merasa Paling Berhak: Kita merasa paling senior, paling banyak berjasa, atau paling rajin beribadah, sehingga menuntut perlakuan khusus dari Tuhan maupun sesama.
Melalui Injil hari ini, Yesus menegur kita: “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Matius 20:15).
(Di kota kita, Sorong, yang terus berkembang sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, kita hidup berdampingan dalam keberagaman suku, budaya, dan latar belakang. Tuhan memanggil kita untuk tidak mengukur kebaikan Tuhan dengan mata yang iri, melainkan dengan hati yang penuh rasa syukur. Jika sesama kita diberkati, mari kita bersukacita bersama mereka. Jika ada saudara kita yang membutuhkan bantuan—seperti para pekerja yang seharian berdiri mencari kerja—mari kita ulurkan tangan dengan kasih tanpa membeda-bedakan.)
Penutup
Keselamatan dan keberkahan adalah murni rahmat Allah, bukan hasil transaksi jual-beli kebaikan dengan Tuhan. Orang yang datang pertama maupun terakhir, semuanya dikasihi Allah secara adil dan utuh.
Mari kita tinggalkan sikap suka membanding-bandingkan, rasa iri hati, dan kesombongan spiritual. Sebaliknya, mari kita hidup di Kota Sorong ini sebagai pembawa kemurahan hati Tuhan: saling mendukung, bersyukur atas berkat diri sendiri, serta turut gembira atas berkat yang diterima oleh sesama kita.
Doa Penutup
Doa Penutup: Marilah kita berdoa, Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Bapa yang Mahabaik, kami berterima kasih atas Sabda-Mu yang mengingatkan kami akan besarnya kasih dan kemurahan-Mu. Tanamkanlah dalam hati kami rasa syukur yang mendalam atas setiap rahmat yang kami terima. Jauhkanlah kami dari rasa iri hati, sifat suka membandingkan, dan kesombongan.
Berkatilah seluruh masyarakat Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat Daya. Karuniakanlah kedamaian, kesejahteraan, serta persaudaraan yang rukun di antara kami. Berkatilah para pemimpin kami dan lindungilah setiap keluarga.
Semua doa dan permohonan ini kami serahkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Salam Penutup: Terima kasih atas perhatian Saudara-saudari pendengar RRI Sorong sekalian. Semoga Renungan Injil hari ini memperkuat iman dan mempererat kasih persaudaraan di antara kita.
Saya, Laurentius Reresi Penyuluh Agama Katolik Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, mengucapkan selamat melanjutkan aktivitas. Tetap jaga kedamaian dan keharmonisan di Kota Sorong tercinta. Tuhan memberkati kita sekalian. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. (*)










