Penyuluh Kota Sorong Melatih Mahasiswa dan OMK Salib Suci

67

SORONG, Monitorpapua.com – Salah satu Dosen Penyuluh Agama Katolik Kota Sorong, Laurentius Reresi, S.S., M.M., melatih sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam Komunitas Orang Muda Katolik ‘Salib Suci’ Paroki Santo Yohanes Pembaptis Kota Sorong untuk tampil di khalayak publik dengan model kepemimpinan Yesus yang berintegritas

“Penyuluhan ini tentu bertujuan membentuk karakter Mahasiswa dan Orang Muda Katolik agar mampu membekali diri menjadi Pemimpin yang berkualitas, termasuk menjadi Pemimpin Ibadah Sabda di lingkup Gereja, Lingkungan, keluarga, tempat kerja, kampus maupun di tengah khalayak publik pada masa sekarang dan yang akan datang,” jelas Laurent

“Mereka ingin tampil di hadapan publik dengan penuh kewibawaan namun belum mendapat pembekalan khusus, maka Gereja Katolik memberikan kesempatan kepada Dewan Pastoral Paroki atau Penyuluh dalam bidangnya untuk membantu Pastor Paroki melaksanakan tugas Pastoral kepada Mahasiswa dan OMK. Maka saatnya anak-anak muda ini, harus dituntun agar mendapatkan bekal dasar menjadi seorang pemimpin,” terang Laurent Reresi.

Anggota komunitas Orang Muda Katolik sering ditunjuk memimpin ibadat, menjadi MC, melayani umat Paroki, namun mereka belum banyak bekal yang tidak bersifat sakramental.

Ketua OMK Salib salib Suci, Alex Mitan, bersama OMK telah membuat sejumlah program kerja untuk membantu mahasiswa yang telah bergabubg dalam komunitas OMK agar bisa berlatih diri. “Salah satunya, telah terlaksana metode dasar memimpin ibadah sabda,” ucap Ketua OMK.

Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Laurentius Reresi, S.S.,M.M., mendapat kesempatan untuk menampingi kaum muda Katolik di Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Kota Sorong, mengajak mahasiwa dan OMK sewaktu memimpin ibadah sabda harus memperhatikan petunjuk Liturgi Gereja Katolik agar sesuai pelaksaan Ibadah.

Selanjutnya, kata Laurent, dalam memimpin ibadah harus disadari bahwa kita sedang berdoa bersama umat, bukan berdoa sendiri.
Saat berdoa sendiri, harus mampu membawa umat agar merekapun sungguh terbawa ke dalam doa kita.

“Memimpin doa harus jelas dan perlahan tidak keburu cepat selesai. Umat dapat menghayati dan tidak hanya sebagai penonton atau pendengar. Memimpin ibadah tidak asal selesai, tetapi harus bisa mengajak umat benar-benar menghayati maksud atau tujuan beribadah,” ucapnya mengakhiri. (Ren/Siska Gurning)

- Iklan Berita 2 -

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini