Perjumpaan Yang Menyelamatkan di Kantor Kemenag Bimas Katolik

26

Perjumpaan Yang Menyelamatkan di Kantor Kemenag Bimas Katolik
(Laurentius Reresi, S.S., M.M)

SORONG, Monitorpapua.com
Lingkaran Natal mulai dari Masa Adven. Selama empat pekan, umat Katolik mempersiapkan diri dan menantikan kedatangan Tuhan. Selama masa ini, kita merindukan keselamatan. Ibarat tanah kering yang mengharapkan hujan. Hati kita berseru-seru: “Hai langit, turunkanlah embunmu! Hai awan hujankanlah Raja Adil!” (Yes. 45:8). Sungguh yang kita rindukan akan datang sebagai Penyelamat. Maka mari kita siapkan hati, memurnikan batin kita menyambut Yesus Kristus Sang Penyelamat dunia.

Demikian, renungan Penyuluh Agama Katolik, Laurentius Reresi, bersama seluruh pegawai bertempat di ruang Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.

Memasuki masa Adven Pertama, kita diajak untuk merenung kisah perjalanan hidup. Bacaan Injil Matius 8:5-11 Kisah perjumpaan antara perwira di Kapernaum dan Yesus ini sangat mengharukan. Kata-kata si perwira itu sungguh sungguh menggetarkan hati,

“Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Inilah ungkapan iman terdalam seorang perwira Romawi. Walau ia bukan orang Yahudi tetapi ia memiliki hati yang peduli terhadap hamba atau budaknya yang sakit.

Dan berkat kata-kata inilah akhirnya Tuhan mengabulkan permohonannya dan memberi penyembuhan kepada hambanya.

“Kata-kata perwira di Kapernaum itu kini menjadi doa pendek yang selalu  diucapkan sebelum menyambut hosti suci tubuh Kristus dalam perayaan ekaristi.

Doa itu mengingatkan kita bahwa kita sejatinya juga tidak layak menerima Tuhan di dalam hati kita. Maka sudah seharusnya kita meneladan sikap iman dan kerendahan hati sang perwira ini.

Tuhan tak hanya menyembuhkan hambanya, tetapi juga memuji iman perwira itu melebihi iman orang-orang Israel. Pelajaran dan pesan iman dari kisah ini adalah bahwa kerendahan hati itu berbanding lurus dengan iman yang mendalam.

Semakin beriman berarti semakin rendah hati, tidak sombong apalagi congkak. Pengakuan akan ketidakpantasan di hadapan Tuhan ini jugalah yang menyebabkan Tuhan melimpahkan rahmat dengan karya mujizat. Semoga kita sungguh dapat meneladan iman sang perwira ini dalam hidup sehari-hari. Demikian sumber renungan dari Rm. Istata Rahardjo, Pr.

- Iklan Berita 2 -

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini