Problematika Kepribadian Peserta Didik Di Papua 

15

Oleh : Adelina Menufandu1, Christin Heipon2, Deby Vivi Iventi Hor3, Efendy Kadadi4, Ratna Suryanti5, Sonya Y. Noya6

Monitorpapua.com – Pendidikan adalah investasi utama bagi penerus bangsa, namun hingga saat ini pendidikan di Papua masih mengalami berbagai problematika, khususnya bagi peserta didik usia remaja di Papua. Pendidikan menurut KBBI dalam Wikipedia adalah proses untuk membentuk dan mempengaruhi kepribadian individu melalui upaya yang sadar dan terencana. Dalam Depdiknas juga menjelaskan tentang pendidikan, dimana pendidikan mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan kemampuan berpikir logis, analistis, sistematis, kritis dan kreatif agar mampu bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Arah pendidikan bukan hanya sekedar menciptakan manusia yang cerdas, namun membentuk kepribadian seseorang. Penting bagi para pendidik mengetahui kepribadian peserta didiknya. Menurut Koentjaraningrat, kepribadian adalah karakteristik seseorang yang dilandasi atas dasar watak dengan menunjukan secara konsisten dan konsekuen, sehingga keadaan ini mendorong seorang individu memiliki suatu identitas yang khas dan berbeda dari individu-individu lainnya.

Beberapa data dari berbagai sumber yang menunjukkan sebagian permasalahan yang terjadi terhadap kepribadian remaja beserta alternatif solusinya, diantaranya adalah yang pertama, dalam Kompas yang ditulis oleh Fabio Maria Costa Lopes pada tahun 2021, fakta yang terungkap bahwa Sekitar 50 persen dari total 104 pengguna narkoba yang dirawat di Badan Narkotika Nasional Provinsi Papua sepanjang tahun 2021 berusia 12-18 tahun. Temuan ini terungkap di tiga daerah yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Mimika.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dan masih perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat. Salah satu akibat dari pergaulan bebas adalah remaja mulai mengkonsumsi obat terlarang. Pergaulan bebas membawa angka pernikahan dini menjadi meningkatnya pelecehan seksual, dan dampak psikis, fisik dan  tekanan sosial dan sebagai alternatif solusinya adalah memberikan pendidikan dan pengetahuan tentang rumah ramah remaja sebagai tempat untuk curhat, diskusi dan konsultasi konseling tentang permasalahan yang dihadapi anak.

Pengabdian ini sebagai salah satu bentuk tridharma pendidikan yang dilakukan sebagai wujud penanganan awal pada masalah narkoba dan pergaulan bebas pada anak dan remaja di perbatasan Papua dan Papua Nugini. Mitra pengabdian ini telah dilakukan oleh para remaja di Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.

Sumber informasi yang  kedua diperoleh dari UNICEF Indonesia tahun 2024, yaitu dimana anak-anak di Papua menghadapi risiko kekerasan, eksploitasi, dan masalah kesehatan mental yang lebih besar sejak pandemi COVID-19. Angka prevalansi perkawinan anak melonjak dari 11,52% pada tahun 2018 menjadi 13,21% pada tahun 2021. Kasus-kasus kekerasan terhadap anak pun meningkat, khususnya kekerasan seksual, sebagai alternatif solusinya adalah seperti contoh yang dilakukan pihak UNICEF yakni kegiatan lingkar remaja. Kegiatan Lingkar Remaja membawa pendekatan inovatif untuk membantu remaja dalam menghadapi masa-masa sulit, dan mengembangkan perangkat Helping Adolescents Thrive dari UNICEF-WHO.

Melalui Kerjasama dengan Z Zurich Foundation, UNICEF menguji coba pendekatan baru untuk mempromosikan Kesehatan mental dan mencegah masalah Kesehatan mental  di kalangan remaja. Dalam kegiatan Lingkar Remaja,  mereka dibekali kemampuan untuk menghadapi situasi sarat stres, membangun hubungan yang sehat, mempelajari keterampilan baru dan berinteraksi positif dengan lingkungan di sekitarnya.
Data ketiga diambil dari TribunSorong.com 26 Februari 2024, Dinas Kesehatan Kota Sorong mencatat jumlah anak usia sekolah hingga remaja yang terdeteksi  positif terpapar penyakit HIV mencapai 315 kasus. Ketua Bidang P2P, Jenny Isir mengatakan jumlah saat ini data anak usia 15 hingga 19 tahun di Kota Sorong ada 219 kasus yang menyebar di 10 Distrik di Kota Sorong, Papua Barat Daya  terpapar HIV karena pola atau cara pergaulannya yang bebas. Kasus ini telah masuk dalam prevalensi tinggi, yakni 2,3 persen. Bahkan sangat berbahaya karena anak yang positif HIV di Kota Sorong juga didapati anak laki-laki ada juga yang berhubungan sejenis, sebagai alternatif solusinya adalah memberikan pemahaman tentang pengenalan organ reproduksi , kesehatan reproduksi, bahaya HIV dan AIDS, narkoba hingga seks bebas dan edukasi kepada anak-anak untuk memproteksi diri lebih awal. Pihak sekolah juga dapat memberikan menambahkan materi tentang kesehatan reproduksi dalam kurikulum nasional yang digunakan di sekolah.

Problematika kepribadian peserta didik di Papua dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah sosial, budaya, ekonomi, dan geografis. Problematika kepribadian peserta didik yang kurang baik akan berdampak pada kenakalan remaja sehingga menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua, agama, pendidik dan semua pihak yang terlibat dalam memberikan pemahaman pendidikan karakter yang baik bagi generasi penerus bangsa ini. Beberapa problematika lainnya yang dihadapi oleh peserta didik di Papua antara lain : kesenjangan pendidikan, budaya dan bahasa, faktor ekonomi, infrastruktur dan aksesibilitas, kesehatan dan gizi, dukungan psikososial serta pengaruh sosial dan lingkungan

Alternatif solusi untuk mengatasi problematika kepribadian peserta didik di Papua memerlukan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, masyarakat, hingga lembaga non-pemerintah. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi problematika kepribadian peserta didik antara lain : peningkatan akses dan kualitas pendidikan, pengembangan kurikulum yang inklusif, program gizi dan kesehatan sekolah, peningkatan kesadaran dan partisipasi komunitas dan layanan dukungan psikososial.

Beberapa alternatif solusi lainnya yang dapat dilakukan di sekolah-sekolah dengan berbagai aktivitas sekolah yang sederhana diantaranya : workshop (contoh : pihak sekolah mengundang seorang profesional Kesehatan mental untuk memberikan pengetahuan tentang Kesehatan mental yang terjadi pada diri sendiri dan lingkungan sekitar), diskusi panel (contoh : pihak sekolah mendatangkan seorang yang pernah punya pengalaman dan berhasil dalam Kesehatan mental diberikan kesempatan untuk bertanya atau berbagi pengalaman), pameran seni (bertujuan untuk mengekspresikan perasaan peserta didik melalui kesehatan mental),  kampanye kesadaran (contoh : pembuatan poster atau spanduk dalam rangka menyebarkan pesan mengenai pentinya kesehatan mental) dan/atau konseling gratis (contoh : pihak sekolah mendatangkan dokter psikologi untuk melayani seluruh masyarakat sekolah).

Seorang anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, oleh sebab itu membutuhkan bimbingan dari lingkungan dimana dia berada. Lingkungan tersebut dimulai dari lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Bimbingan ini perlu terus dilakukan untuk membina kepribadian peserta didik. Seorang anak apabila sehat secara mental, akan berdampak terhadap Pendidikan yang diterimanya dalam Pendidikan secara formal atau non formal.

Pengaruh pendidikan pada anak-anak di papua sangatlah penting karena akan berdampak pada kualitas kepribadian serta kehidupan masa depan anak. Oleh sebab itu, baik pemerintah daerah dan pemerintah pusat agar terus memperhatikan pendidikan bagi anak-anak bangsa, secara khusus yang ada di papua yang juga berhak mendapatkan jaminan pendidikan sesuai dengan undang-undang dasar 1945 dimana setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak yang disediakan oleh pemerintah. Peserta didik yang adalah anak-anak bangsa memerlukan perhatian dari keluarga, sekolah, agama, masyarakat dan pemerintah. Kerjasama berbagai pihak ini perlu terus dilakukan untuk menangani berbagai probematika peserta didik yang berdampak pada kepribadian peserta didik yang lebih baik.

- Iklan Berita 2 -

Berikan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini