Rakyat Desak, Srikandi Asli Keerom Pimpin Negerinya

0
33
- Iklan Berita 1 -

KEEROM, Monitorpapua.com – Desas-desus adanya oknum pejabat tertentu di Keerom yang berambisi ingin merebut kursi jabatan Sekda Keerom, akhirnya menuai kecaman Tokoh Perintis mekarnya Kabupaten Keerom Herman Yoku.

Ia mengatakan, sudah saatnya Srikandi asli Keerom berhak menjadi Plt. Sekretaris Daerah (Sekda) kabupaten Keerom maupun sekda defenitif, apalagi di tengah amanat Otonomi Khusus (OTSUS) yang masih berlangsung di Tanah Papua ini.

Ditegaskan Anggota kelompok kerja {Pokja} Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) ini, semangat dan impiannya merintis berdirinya Kabupaten Keerom kala itu, agar masyarakat kelak lebih dominan memimpin di negerinya sendiri.

Menurut Herman Yoku kepada sejumlah media termasuk www.monitorpapua.com tegas menyerukan kepada Pjs. Bupati Keerom DR. Ridwan Rumasukun, agar memperhatikan tuntutan masyarakatnya, mengingat selama ini posisi karir strategis (Sekda) hanya jatuh ke tangan suku lain di luar orang asli Keerom.

“Ini Otsus dan masih ada putera-puteri asli Keerom yang mampu, tapi masih tinggal saja di rumahnya sendiri tanpa diberi jabatan. Pemda Keerom ini lebih dominan jabatannya diisi oleh orang-orang dari suku di luar orang asli Keerom.

Pada hal UU. 21 tahun 2001 ini kan undang-undang negara yang sudah jelas mengamanatkan itu, tapi orang asli Keerom dalam hal jabatan birokrasi masih tetap saja belum bisa jadi tuan di negerinya sendiri.

Kemudian yang lebih saya soroti sekaligus minta perhatian serius Pjs. Bupati Keerom meskipun dia mungkin hanya bekerja beberapa minggu ke depan menuntaskan Pilkada, tapi saya minta dengan tegas saudara saya ibu Yohana Waas harus diangkat jadi Plt. Sekda!

Ya saya harap dia juga harus jadi Sekda defenitif di Keerom. Harus ada penghargaan juga kan? buat Srikandi asli Keerom!,” kata kepala suku.

Lagi tambah pionir Kabupaten Keerom ini, Herman menyebut nama Yohana Waas karena dinilainya dia (Yohana), sudah sangat pantas dan tepat dengan kedudukan jabatan karir tertinggi secara struktural itu.

“Dia lulusan APDN, juga sudah pernah menjabat kepala BKD, kepala Bawasda dan jadi Asisten I Sekda, kok kenapa untuk naik satu tingkat saja ke atasnya susah sekali?!. Dia Srikandi asli Keerom asal Senggi. Wajar dong kalau diberi kesempatan.

Ternyata mau naik ke Sekda kok susah sekali. Kenapa bisa begitu?. Bahkan saya dengar ada info entah benar atau tidak, eh malah ada oknum pejabat yang bisa rangkap jabatan sampai 3 jabatan sekaligus.

Dia menjabat salah satu jabatan kepala dinas, kemudian asisten, dan diberi jabatan pelaksana tugas sekda lagi. Ada aturan yang bisa begitu kah?. Bahwa satu orang bisa menjabat sampai 3 jabatan sekaligus?,” sambung Herman merasa heran.

Herman Yoku yang juga menjadi Kepala Suku Besar di Keerom ini menutup keterangannya terkait jabatan sekda, dirinya sekali lagi sangat berharap ada perhatian serius Pjs. Bupati Keerom untuk memberi apresiasi kepada srikandi (puteri atau perempuan) orang asli Keerom, agar diangkat menjadi Plt. Sekda.

Lagi menurutnya, selama berdirinya kabupaten Keerom dan masih berjalan pemerintahan daerahnya sampai dengan saat ini, untuk posisi pimpinan tinggi pratama (SEKDA untuk Kabupaten/Kota seturut pasal 19 ayat (1) huruf “C” dan pasal 115 UU ASN Nomor 5 Tahun 2014), sama sekali belum pernah diduduki seorang figur perempuan.

“Mungkin ada 21 hari ke depan, atau berapa minggu lagi, tapi saya sangat berharap apa yang menjadi keluhan kami ini diperhatikan serius Bupati Ridwan Rumasukun. Kami tegas menolak sekda yang nanti bukan dari suku di luar OAP yang adalah orang asli Keerom.

Informasi yang saya dengar entah benar atau tidak, bahwa ada salah satu oknum asisten di Pemda Keerom yang hendak berambisi jadi sekda, saya mau kasih tahu buat kau, lebih baik kau stop dari niatmu buat jadi sekda!!!.

Bukalah matamu dan lihat, ada putera-puteri orang asli Keerom yang sudah pantas buat diangkat juga jadi sekda Keerom. Saya ini juga orang pamong yang sangat paham hal ini, yaitu mengenai jabatan-jabatan di birokrasi pemerintah daerah.

Ini jabatan karir, dan ada orang asli Keerom juga yang sudah sangat layak sekali buat jadi plt sekda ataupun sekda defenitif. Ibu Yohana Waas ini salah satunya. Dia lulusan APDN, dan semua kriteria sudah terpenuhi kalau mau dilihat. Apalagi yang kurang?.

Biar hari ini saya tidak jadi bupati, tapi saya mau lihat saudara saya ada yang jadi sekda di Keerom. Saya meminta dan berharap, satu saja. Saya minta ibu Yohana Waas diangkat jadi Sekda!.

Saya berjuang merintis dan meletakan kabupaten ini (Keerom), untuk anak-anak aslinya yang bisa dominan duduk jadi pemimpin. Kalau memang bupatinya orang dari suku lain, ya sekda dan juga kepala-kepala OPD kalau bisa didominasi oleh putera-puteri asli Keerom.

Tapi ini kan tidak. Masa cuma kepala dinas Catatan Sipil Jhon Tawa dan Barnabas Taigat saja yang jadi kepala OPD Perijinan?. Cuma 2 orang putera Keerom ini saja tambah ibu Yohana Waas yang jadi asisten?. Ini sama sekali tidak adil namanya.

Kami punya daerah, eh orang lain yang terus dominan jadi pemimpin di negeri kami. Jadi ini bukan sekedar harapan dari saya, tapi ini jelas sebuah ketegasan yang saya sampaikan!. Tolong catat dan digaris-bawahi.

Pejabat sementara Bupati bapak Ridwan Rumasukun yang saya hormati, sekali lagi menutup pernyataan saya sebagai pelaku dan tokoh berdirinya kabupaten Keerom, dengan tegas saya minta tolong angkat saudara saya, perempuan asli daerah kami ibu Yohana Waas untuk jadi plt. Sekda Keerom!.

Saya juga tegaskan untuk pemda Keerom ke depan, ibu Yohana Waas juga harus diangkat jadi Sekda defenitif. Tolong dicatat!.” tegas Herman Yoku (Stefi Fun/Ren)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.