
SORONG, Monitorpapua.com.- Ketua Komunitas Ibu-ibu Santa Teresa Kalkuta Paroki Santo Yohanes Pembaptis Sorong, Sartika Siska Gurning bersama sejumlah ibu terharuh dan meneteskan air mata ketika mengadakan kunjungan di Lembaga Pemasyarakatan Kota Sorong, Minggu 22 Juni 2025.
Mereka mengenakan kaos kuning bertuliskan Santa Teresa Kalkuta dan yang lain mengenakan kaos biru bertuliskan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Paroki Yoh Pem. Kehadiran ibu-ibu di Lembaga ini membuat para warga binaan beragama Katolik sangat tersentuh hatinya dengan kedatangan ibu-ibu Paroki.

Dalam kunjungan itu, ibu-ibu Paroki menghadiri misa kudus bersama warga binaan sebanyak 36 orang, para Penyuluh ASN dan Non PNS. Misa Kudus dipersembahkan Pastor Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Sorong, RD Izaak Bame.
Sebelum perayaan Ekaristi, Penyuluh Agama Katolik, Laurentius Reresi mengajak warga binaan untuk memahami makna Ekaristi (Lukas 9: 12-17) dengan baik.
Laurentius Reresi mengatakan hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Kita mengenang Tuhan yang memberikan diri-Nya, tubuh dan darah-Nya bagi penyelamatan manusia. Pemberian diri Yesus itu dikenang dalam perayaan ekaristi, dilambangkan dengan persembahan roti dan anggur. “Kamu harus memberi mereka makan.” Itulah perintah Yesus kepada murid-murid-Nya. Awalnya mereka meminta agar orang banyak yang kelaparan disuruh pulang atau mencari makan di kampung-kampung terdekat. Yesus mengajarkan para murid agar memiliki tanggungjawab terhadap penderitaan sesama. Bukan lepas tangan atau menyuruh orang banyak pergi.

Pastor Izaak Bame di awal Misa mengajak umatnya untuk menghayati sikap hati Tuhan yang selalu berbelas kasih kepada orang-orang yang menderita dan berkekurangan. Ia siap memberikan diri-Nya bagi kebaikan orang banyak. Mujizat lima roti dan dua ikan ini menyatakan bahwa Allah akan bertindak ketika kita berniat mulia, berbagi kepada yang menderita.
Dalam khotbahnya, RD. Izaak Bame mengajak warga binaan untuk memahami makna Ekaristi (Lukas 9: 12-17). “Seperti roti ekaristi, kita yang telah diberkati Tuhan, harus siap dibagi-bagi atau siap berbagi kepada sesama. Singkatnya, setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, harus tergerak untuk berbuat baik. Mempersembahkan hidupnya bagi kebaikan sesame,” terang Izaak Bame.
Vikjens KMS RD. Izaak Bame lebih lanjut mengatakan Ekaristi menjadi jantung hidup kita. Kita bersyukur karena Tuhan hadir bukan hanya lewat kata, tapi lewat makan hosti kudus, kita merayakan dan mengimani. Tuhan Yesus tidak hanya berkata, tapi memberi makan. Yesus menyuruh para murid berikan mereka makan, itu artinya ada tugas yang Tuhan berikan kepada kita. Karena itu, kita wajib merayakan Ekaristi yang adalah puncak iman Katolik.
“Dalam perayaan ekaristi, Tuhan hadir, tanda cinta tanpa syarat. Kristus mempersembahkan diri sebagai Imam Agung, bukan hanya mempersembahkan kurban, tetapi mengurbankan diriNya. kita berjumpa dengan Tuhan saat Misa. Kemudian kita membagikan cinta kepada sesama, kita berada dalam cinta Tuhan,” ucap Pastor Paroki Sto. Yoh Pem.

“Merayakan ekaristi kita mampu dan rela berkurban demi sesama, kita bangun persekutuan, tidak ada alasan kita menerima Ekaristi lalu mendendam orang, kita harus menjadi orang.Katolik yang baik. Merayakan ekaristi itu, kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus maka kita hidup sesuai dengan hidup Kristus. Warga Lapas harus rajin membaca.Kitab Suci sehingga kita beriman dan bertanggung jawab kepada bangsa dan Negara,” terang Vikjen KMS.
Usai Misa Kudus, warga binaan mendapat bingkisan makanan dari ibu-ibu Santa Teresa Kalkuta. Warga binaan juga sempat bertatap muka dan mengisahkan kisah hidup di Lembaga Pemasyarakatan (LP) bahwa hidup di (LP) menjadi pengalaman yang sangat berat dan mempengaruhi seseorang secara emosional, mental, dan fisik. “Kesulitan hidup di LP seperti keterbatasan ruang, Penjara memiliki ruang yang terbatas, sehingga dapat membuat seseorang merasa terkurung dan tidak bebas. Penjara memiliki aturan yang ketat dan jadwal yang harus diikuti, sehingga dapat membuat seseorang merasa kehilangan kontrol atas hidupnya,” kisah warga binaan.

Hidup di penjara dapat membuat kami melakukan refleksi diri dan mempertimbangkan tindakan-tindakan yang telah kami lakukan. Penjara dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, membaca Kitab Suci, dan meningkatkan pengetahuan. Dukungan dari keluarga, teman, dan Penyuluh Agama Katolik atau konselor dapat membantu kami melewati masa-masa sulit di penjara.
Tak lama berada di LP, Ibu-ibu Santa Teresa Kalkuta bersama Pastor dan para Penyuluh meninggalkan ruang Kapel/ Gereja tempat berkumpul dan Misa. Mereka keluarg mengikuti jalur menuju pintu utama LP. Akhirnya semua Pintu-pintu LP ditutup dan dikunci para Petugas LP. (Laurent R)










