Tokoh Pendidikan dan Agama Katolik Hadir di Kampung Jabouw Distrik Miyah Selatan

0
155
- Iklan Berita 1 -

TAMBRAUW, Monitorpapua.com – Pendidikan di Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat memprihatinkan sejumlah kalangan masyarakat di Kabupaten Konservasi ini. Maka rakyat asli Mijah Selatan mengundang dua tokoh untuk melakukan diskusi agar kehadiran Gereja dan Lembaga Pendidikan yang sudah ada di Mijah Selatan dapat membawa perubahan lebih baik lagi.

Dua Tokoh itu yakni Tokoh Pendidikan Dra. Agnes Maria Hae, M.Si dan Tokoh Agama Katolik Pastor Izaak Bame, Pr., berdiskusi bersama masyarakat di kampung Jabuow Distrik Mijah Selatan Kabupaten Tambrauw mengangkat Tema: “GEREJA DAN PENDIDIKAN MEMBAWA PERUBAHAN”.

Tema diskusi ini sangat menarik perhatian penduduk di wilayah itu. Maka hadir dalam acara itu Kepala Kampung, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan Mahasiswa-Mahasiswi asal Distrik Mijah Selatan dengan menghadirkan dua orang Pembicara ternama yakni Dra. Agnes Maria Hae, M.Si dan Pastor Izaak Bame, Pr, .

Pantauan media Monitorpapua.com di Mijah, Dua pembicara ini memberikan informasi tentang situasi Pendidikan di Papua Barat secara umum dan lebih khusus Kabupaten Tambrauw.

“Berdasarkan hasil penelitian dari Universitas Katolik Sanata Darma Jogyakarta, pendidikan di Kabupaten Tambrauw berada di bawah standar Nasional atau kategori siswa terbodoh di Papua Barat,” jelas Narasumber Pastor Izaak Bame dan Dra. Agnes Maria Hae, M.Si.

Namun di sisi lain, terang dua narasumber itu, sebenarnya penelitian itu baik sebagai informasi kepada masyarakat Kabupaten Tambrauw supaya memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan. Karena hanya lewat Pendidikan bisa mengubah kehidupan.

Terkait hal itu terang Pastor Izaak Bame maka secara prosedural yang bertanggung jawab penuh atas Pendidikan adalah orangtua, Gereja dan Pemerintah. Tentu Kepala Distrik diharapkan mengambil bagian untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Mijah.

“Namun kenyatannya Gereja masa sekarang kurang memperhatikan pendidikan, Gereja hanya terfokus pada Ibadah, Misa saja. Begitu juga Kepala Distrik tidak ada kepedulian terhadap Pendidikan bagi anak-anak sebagai aset penentu masa depan Distrik Mijah Selatan,” tegas Pastor Izaak Bame dalam acara diskusi itu.

Lebih lanjut kata Izaak Bame, sedikit perbandingan era 49-79, ketika Gereja awal hadir melalui para Misionaris justru pendidikan menjadi perhatian utama yang diteguhkan dengan perayaan Ekaristi. Kesan dari Umat stasi Sta. Bernadeth Ruf Ayiawes Paroki St.Yosep Senopi bahwa Pastor sekarang hanya merayakan Misa dan menerima uang atau minta uang saja. Kedengarannya aneh tapi sepertinya ungkapan ini ada benarnya.

Masyarakat Distrik Mijah Selatan 100% Katolik mengapa Pastor Paroki yang mewakili Gereja-Keuskupan tidak memperhatikan Pendidikan sebagai visi utama Tuhan Yesus sebagai Guru dan Nabi. Pada hal, wilayah Distrik Mijah Selatan sejak tahun 2005 atau 2006 telah dibangun sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN), namun yang menjadi masalah adalah kehadiran dan Pengajaran Guru.

“Guru, menurut kesaksian peserta diskusi, hanya mengajar satu Minggu, tapi libur satu sampai tiga bulan. Akhirnya lewat diskusi ini peserta diskusi mengusulkan supaya di pusat Distrik kalau bisa dibangun Sekolah Dasar atau SD YPPK. Namun peserta diskusi lebih tegas megatakan bahwa yang menjadi persoalan bukan terletak pada YPPK atau Negeri melainkan ada pada pribadi guru,” jelas narasumber diskusi.

Selain guru, hal yang penting adalah tanggung jawab Orang tua. Dari diskusi itu disimpulkan bahwa Umat-Masyarakat Distrik Mijah Selatan
membutuhkan pendidikan yang baik. Maka tugas Pemerintah dan Gereja merealisasikan kerinduan ini secepatnya. Salam dan Doa P.Izaak Bame, Pr (Ren/MP)

Berikan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.