SORONG, Monitorpapua.com.- Setiap hari Kamis, ada Mimbar Agama Katolik disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Sorong. Pendengar setia siaran Mimbar Agama Katolik mulai belajar mendalami isi Kitab Suci. Mereka mulai belajar dari para tokoh Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Jelaslah bahwa kita dapat mengetahui bagaimana Allah berbicara dan menyapa manusia ciptaan-Nya. Namun ada juga beberapa sikap para tokoh yang tidak bisa dijadikan pedoman hidup. Kita sering mendengar petuah dari orangtua, guru, katekis, Pastor “Janganlan mengambil Keputusan apapun ketika kita sedang berada dalam keadaan emosi yang berlebihan, baik emosi positif atau pun emosi negative”.
Hari ini kita belajar dari Tokoh Sentral yakni Yesus Kristus.
Ada juga tokoh lain yaitu Santo Yosep dan Herodes. Para tokoh ini memiliki karakter masing-masing. Hal ini tampak dari keputusan mereka. Bagaimana tipe para tokoh itu? Sebelum mengenal sikap mereka, pesan awal adalah ketika seseorang sangat bahagia atau pun sangat marah, sebaiknya ia tidak boleh mengambil keputusan apa pun. Apalagi keputusan itu, sangat penting bagi hidupnya. Pasalnya, keputusan tersebut seringkali tidak berasal dari pertimbangnan yang rasional, bijaksana, tetapi berasal dari emosi sesaat sehingga dapat dipastikan hasil dari keputusan tersebut tidak akan memuaskan.
Injil Lukas 9:7-9 memperlihatkan para tokoh penguasa duniawi dan surgawi menampakkan dirinya. Salah satunya penampil Herodes yang resah, cemas dan gelisah. Singkatnya, kiprah dan kedatangan Yesus membuat hatinya gelisah. Ada yang berkata, Yohanes hidup kembali yang dahulu dipenggal kepalanya oleh Herodes. Memang tindakan jahat akan meninggalkan rasa cemas dan bersalah.
Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.
Saudara-saudari, Jika kita bandingkan, karakter Yesus dan Herodes memang bertolak belakang. Herodes identik dengan sifat kejam, bengis, serakah, menghalalkan segala cara dan haus kuasa. Kisah masa kanak-kanak Yesus diwarnai oleh tampilnya Herodes yang kejam dan bengis. Ketika mendengar berita lahirnya Yesus yang dinubuatkan akan menjadi raja di wilayah Yudea, dengan tipu daya Herodes ingin menghabisinya. Karena gagal maka dengan bengis ia menyuruh para prajuritnya membunuh anak-anak yang berumur dua (2) tahun ke bawah.
Herodes di masa Yesus berkarya juga berwatak sama. Ia menggunakan kekuasaannya untuk membunuh Yohanes Pembaptis yang telah mengusik hidup pribadinya. Yohanes menegurnya tatkala ia mengambil atau merebut Herodias isteri Philipus saudaranya. Herodes menampilkan diri sebagai penguasa yang anti kritik dan pendendam.
Saudara-saudari yang terkasih. Sebaliknya Yesus tampil sebagai seorang guru yang dengan setia berkeliling dari kampung ke kampung. Tidak hanya mengajar tetapi juga melakukan beragam mujizat. Banyak orang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan mengalami tindakan kasih-Nya. Kehadiran Yesus pun terdengar oleh Herodes. Timbul rasa cemas karena beredar kabar bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis yang telah bangkit. Herodes cemas dan takut akibat tindakannya. Hatinya tak tenang. Dikejar-kejar rasa bersalah akibat perbuatan di masa lalunya, membunuh Yohanes Pembaptis dengan memenggal kepalanya.

Kita lihat lagi Santo Yosep salah satu tokoh dalam Kitab Suci. Santo Yosep dan Herodes, dua sosok yang memiliki kesamaan dan perbedaan dalam teks Injil Matius 2: 13-18. Kesamaannya adalah keduanya sama-sama mengambil Keputusan penting dalam hidup mereka. Sedangkan perbedaannya, Herodes mengambil keputusan di saat ia sedang berada dalam emosi, tetapi Santo Yosep mengambil Keputusan di dalam ketenangan. Kata “mimpi” yang ada dalam Injil tidak berarti Santo Yosep berada di dalam mimpi yang tidak sadar, tetapi kata mimpi menunjukkan situasi batin yang tenang dan damai. Lebih dari itu, Injil menceritakan bahwa di dalam mimpi atau ketenangan batin itulah Santo Yosep mampu mendengarkan suara dan kehendak Tuhan bagi dirinya. Hasil dari kedua Keputusan itu pun berbeda. Herodes akhirnya membunuh semua anak yang tidak bersalah. Sedangkan Santo Yosep menyelamatkan Yesus dari Keputusan emosional Herodes
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam hidup kita sering kali diperhadapkan dengan pelbagai Keputusan. Sejak bangun pagi hingga istirahat malam pasti kita berhadapan dengan begitu banyak Keputusan. Ataupun pada titik tertentu, seseorang akan mengambil keputusan penting bagi hidup dan masa depannya. Santo Yosep mengajarkan jika kita hendak mengambil keputusan haruslah berada dalam situasi tenang. Dalam ketenangan batin itulah, suara dan kehendak Tuhan semakin terdengar nyata. Semoga kita mampu mengambil Keputusan dan mengendalikan hati agar terhindar dari tindakan keji dan semena-mena. Marilah, belajar dari Santo Yosep dan Yesus sebagai tokoh sentral hidup kita. (Laurent R/PH*)











