
SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Manokwari Sorong (KMS), RD. Izaak Bame memimpin Misa Kudus Kamis Putih di Paroki Santo Yohanes Pembaptis Klasaman Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dihadiri ribuan umat Katolik. Misa Kamis Putih berlangsung sakral penuh khidmat sebagai bagian dari rangkaian Pekan Suci yang memperingati peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama para murid.

Vikjen KMS, RD. Izaak Bame didampingi 12 Rasul menambah suasana sakral dipandu koor sponsor dari Lingkungan Santa Faustina Kowalska, dalam homilinya mengajak umat untuk mendalami kasih dan pelayanan yang diteladankan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.
Vikjen mengatakan, pesan penting Yesus pada perayaan Kamis Putih merupakan perayaan kenangan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya, bukanlah perjamuan keputusasaan, kesedihan melainkan perjamuan yang penuh keakraban, perjamuan persaudaraan, penuh makna, symbol penyerahan hidup-Nya yang total. Tubuh dan Darah-Nya diberikan demi keselamatan murid-murid-Nya. Itulah Ekaristi Kudus
“Dalam peristiwa pemberian tubuh dan darah-Nya yang kita rayakan dalam Ekaristi Kudus, serta pembasuhan kaki, Yesus menunjukkan kasih yang melingkupi komunitas para murid, menghangatkan, dan mempersatukan mereka sebagai satu komunitas di dalam Dia,” ujarnya.

Pastor Izaak Bame menjelaskan perayaan tersebut bukan sekadar ritual, melainkan undangan bagi umat untuk menyadari identitas mereka sebagai satu komunitas yang hidup dalam kasih dan persatuan. “Kita berkumpul malam ini untuk merayakan misteri keselamatan, karena kita juga adalah bagian dari komunitas itu, komunitas yang dipersatukan dalam kasih Tuhan,” terang RD Izaak Bame.
Dalam homilinya, RD. Izaak juga menyinggung kisah Rasul Petrus yang sempat menolak dibasuh kakinya oleh Yesus. Menurutnya, penolakan tersebut mencerminkan pemahaman manusiawi tentang relasi guru dan murid, yang berbeda dengan ajaran kerendahan hati yang ditunjukkan Yesus.
“Petrus merasa tidak pantas seorang guru dan Tuhan merendahkan diri membasuh kaki murid. Namun Yesus berkata, ‘Jika Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.’ Ini berarti tanpa menerima kasih dan pelayanan Tuhan, kita bisa terpisah dari karya keselamatan itu sendiri,” jelasnya.
Vikjen KMS menambahkan hanya mereka yang sungguh merasakan kasih Tuhan yang mampu mewartakan kasih tersebut kepada sesama melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Kamis Putih juga diwarnai dengan ritus pembasuhan kaki terhadap sejumlah umat yang diwakili Prodiakon tokoh gereja Katolik sebagai simbol pelayanan dan kerendahan hati, meneladani tindakan Yesus kepada para murid-Nya.
Selain itu, perayaan Ekaristi Kudus pada malam Kamis Putih menjadi momen penting bagi umat Katolik untuk mengenang institusi Sakramen Ekaristi dan imamat, yang menjadi dasar kehidupan Gereja.

Umat yang hadir tampak mengikuti seluruh rangkaian Misa Kudus dengan penuh penghayatan, mencerminkan semangat kebersamaan dan iman yang kuat dalam menyambut misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.
Melalui perayaan ini, umat diharapkan semakin menghidupi nilai-nilai pelayanan, kerendahan hati, dan kasih Kristiani dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman di Kota Sorong. (Laurent R, Siska Gurning)










