SORONG-PBD, Monitorpapua.com.- Kunjungan Pastoral Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong ke stasi terjauh dari Paroki Santo Yosep Senopi Keuskupan Manokwari-Sorong. Pada tgl 8 Januari 2026 s/d 12 Januari 2026, Pastor Izaak Bame, Pr, selaku Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong, mengunjungi stasi Santa Anna Miri Paroki St.Yosep Senopi KMS sebagai bagian dari rencana Pastoral Vikaris Jenderal KMS 2026.
Beberapa kegiatan selama kunjungan di Stasi Santa Anna Miri.
Pertama: Kujungi makam Umat-leluhur yang telah meninggal dengan kegiatan yaitu pembersihan makam dan doa bersama di makam.
Kedua: Pertemuan tatap muka dengan umat, berapa pokok pikiran dari Umat-Masyarakat sebagai aspirasi boleh dikatakan demikian.
Aspirasi sebagai berikut: Untuk Pemerintah Kabupaten Tambrauw bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan DPRD supaya jangan membiarkan Umat-Masyarakatnya berada di bawah penderitaan.

“Masyarakat-Umat Miri minta supaya pembongkaran jalan yàng pernah dibongkar dari Ayiae menuju Yuwiam-Miri supaya dilanjutkan jangan gunakan alasan bahwa daerah Miri masuk dalam kawasan Hutan Lindungi,” demikian aspirasi masyarakat yang disampaikan ke Pastor.
Menurut Masyarakat-Umat Miri sangat tidak masuk akal sehat kalau Pemerintah korbankan Manusia sebagai pemilik Hutan demi Hutan lindung. Hal lain yang disampaikan juga adalah Pemerintahan Distrik supaya berkantor di Kampung Miri sesuai namanya yaitu Ireres, bukan nama Pemerintahan Distrik Ireres di jalan-jalan.
“Masyarakat butuh juga pelayanan Kesehatan yang memadai seperti Masyarakat di Distrik lain yang ada di Kabupaten Tambrauw,” terangnya
Lebih lanjut disarankan untuk pihak Gereja Katolik dalam hal ini Keuskupan Manokwari-Sorong lebih khusus YPPK supaya membuka kelas jauh dari SD YPPK Santo Markus Ayiae di Miri, mengingat saat ini sejumlah anak dari Stasi Santa Anna Miri bersekolah di SD YPPK St. Markus Fumato Distrik Miyah.
Dampaknya ada di stasi Santa Anna Miri tidak banyak Umat. Hal yang menjadi alasan umat stasi santa Anna Miri buka kelas jauh adalah daerah Miri merupakan salah satu kampung di pedalaman Tambrauw yang awal masuknya Misi Katolik, sebelum berpindah ke Asiti sekarang.
Menurut pendapat berapa Umat stasi santa Miri, Asiti sesungguhnya bukan daerah Katolik dan juga bukan tanah Ireres, dengan bahasa lain Umat-Masyarakat Ireres berada di Asiti adalah numpang karena itu harapan besar kalau bisa Umat-Masyarakat Ireres yang ada di Asiti sebaiknya kembali ke Miri.
Pertemuan dilaksanakan pada 10 Januari 2026 dari jam 18.00 s/d jam 20.00. Misa bersama Umat pada hari Minggu, 11 Januari 2026, lalu lanjut jamuan kasih. Umat juga menyerahkan sebidang tanah dengan surat pelepasan yang ditanda tangani oleh berapa orang perwakilan keluarga besar Syufi.
Perjalanan ke Miri dari kampung Fumato satu malam dua hari pp. Kiranya kunjungan ini boleh memastikan Umat yang berada di Miri bahwa Gereja Katolik KMS tidak membiarkan mereka hidup tanpa pelayanan. Salam Vikjen KMS (*).











